Laporkan Masalah

Diagnosis Klinis dan Manajemen Kasus Malaria di Puskesmas Awa'ai Kabupaten Nias

GINTING, Jumar Kores, Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latarbelakang. Penatalaksanaan penyakit malaria, definisi kasus malaria harus jelas bagi petugas yang menangani program malaria dan didukung oleh upaya diagnosis yang akurat ini merupakan langkah awal yang menentukan hasil yang lebih baik. Di Kabupaten Nias sistim penemuan kasus penderita malaria secara pasif dan berdasarkan diagnosis klinis malaria. Tujuan penelitian. Untuk menentukan gejala klinis malaria yang lebih tepat dan terpercaya sebagai pedoman diagnosis malaria bagi petugas kesehatan yang sulit melakukan diagnosis melalui laboratorium. Metode penelitian. Penelitian ini mengunakan penelitian survei cross sectional dengan melihat, mengamati dan mencatat dan pemeriksaan SD dilaboratorium dan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah tahap persiapan dan tahap kedua pelaksanaan. Hasil penelitian. Penatalaksanaan program malaria di Kabupaten Nias kurang berjalan sebagaimana mestinya dikarena keterbatasan sumber daya manusia dan dana. Sistem manajemen penatalaksanaan program malaria masih berpedoman kepada Diagnosis klinis. Sarana/prasarana laboratorium belum difungsikan. Pemeriksaan sediaan darah di laboratorium oleh mikroskopis Kabupaten terhadap 50 sediaan darah malaria, diperoleh hasil 3 sediaan darah positif malaria. Dengan demikian SPR sebesar 6%. Jenis Plasmodim (formula parasit) yang ditemukan hanya dua yaitu P. falciparum 2 sediaan (66,7%) dan P. vivax 1 sediaan (33,3%). Gejala-gejala klinis yang dikeluhkan meliputi demam, menggigil, sakit kepala, berkeringat, badan terasa lemas, mual, kejang, mencret, malas dan kurang nafsu makan. Kesimpulan. Bentuk/metode Diagnisis klinis malaria adalah Demam, menggigil, mual dan nafsu makan menurun, gejala spesifik yang ditemukan di Kabupaten Nias adalah mencret dan kejang, Jenis parasit yang dominan didaerah Kabupaten Nias adalah falsifarum dan vivax.

Background: The definition of malaria cases should be clear for the person in charge of malaria program and it should be supported by accurate diagnosis which will be an early step to achieve a better result. In the District of Nias, case finding system of malaria patients is still carried out passively and based on clinical diagnosis. Objective: To determine malaria clinical symptoms as a guide to malaria diagnosis for health officers who might find difficulties in making diagnosis through the laboratory. Method: This research applied a cross sectional approach through, observation, note taking and blood examination at the laboratory. The process was conducted in two stages. The first was the preparation and the second was the implementation. Result: The management of malaria programme in the District of Nias cannot be conducted well since there are some limitation in the human resource and funding. The system used in this programme is based on clinical diagnosis. Laboratory facilities are not well-operated. The result of blood examination among 50 patients showed that 3 0f them were positive infected by malaria. Therefore the SPR was 6%. Plasmodium found there was P. falciparum (66,7%) and P.vivax (33,3%). The clinical symptoms were fever, shivering, headache, sweating, restless, nausea, convulsion, diarhea, lazy and loss of appetite. Conclusion: The method of malaria clinical diagnosis was based on fever, shivering, nausea, and loss of appetite. Specific symptoms found out at the District of Nias were diarrhea and convulsion. The parasites most dominant at the District of Nias were falciparum and vivax.

Kata Kunci : Identifikasi Gejala Klinis,Malaria,Laporan Kasus, case report, clinical symptom, identification, malaria


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.