Laporkan Masalah

Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Pemodelan Spasial Kejadian Tuberkolosis (Tb) di Kota Denpasar Tahun 2007

KRISTINA, Ni Nyoman, Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Di Propinsi Bali penyakit menular yang perlu diwaspadai adalah penyakit yang tergolong new emerging diseases dan re-emerging diseases, sehingga pemerintah membuat 10 program prioritas nasional, salah satu di antarannya GERDUNAS TB. Dari permasalahan tersebut di atas maka peneliti ingin memotret beberapa aspek yang dapat mempengaruhi prevalensi TB, diantaranya faktor kepadatan, kemiskinan, status penduduk pendatang dan jarak sarana pelayanan . Pemodelan ini diharapkan dapat menghasilkan model spasial yang dapat menentukan kerentanan wilayah terhadap penyakit TB di Kota Denpasar. Tujuan: Mengetahui manfaat pemodelan spasial dalam menentukan tingkat kerentanan wilayah terhadap penyakit TB, mengetahui adanya hubungan kepadatan penduduk dengan penderita TB serta untuk mengetahui adanya hubungan pengelompokan penderita TB di desa/kelurahan dengan proporsi penduduk miskin yang tinggi, pengelompokan penduduk pendatang di Kota Denpasar, jarak sarana pelayanan kesehatan masyarakat dengan kejadian TB dan manfaat informasi spasial dalam meningkatkan manajemen pengendalian TB di wilayah dengan tingkat kejadian kasus yang tinggi. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei dengan pendekatan cross sectional. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan Software Geoda dan SatScan untuk proses SIG. Hasil Penelitian : Hubungan tingkat kepadatan penduduk dengan kejadian TB diperoleh z value = -1,529 p = 0,126 (p>0,05), hubungan kemiskinan dengan kejadian TB diperoleh diperoleh z value = 3,502 p = 0,0004 (p<0,05), hubungan status penduduk pendatang terhadap kejadian TB hasil analisis diperoleh z value = -1,113 p = 0,909 (p>0,05), hubungan jarak fasilitas pelayanan kesehatan terhadap kejadian TB hasil uji chi square diperolah nilai χ2 = 0,21 dengan nilai probabilitas (p value) = 0,65 atau p>0,05. Analisis ketergantungan spasial hasil uji Moran’s diperoleh value = 0,670 p= 0,412 (p>0,05) Kesimpulan :Kejadian TB: (a) Tidak berhubungan dengan kepadatan penduduk p = 0,126; (b) Berhubungan dengan kemiskinan, p = 0,0004, tidak berhubungan dengan status penduduk pendatang p = 0,909; (c) Tidak berhubungan dengan jarak fasilitas kesehatan, p = 0,649; (d) tidak mengikuti pola distribusi spasial tertentu, p= 0,79; (e) Kejadian TB tidak dapat dijelaskan dengan kemiskinan, status penduduk pendatang dan jarak fasilitas kesehatan, tetapi berhubungan dengan kepadatan penduduk berdasarkan batasan administrasi wilayah. Terdapat clustering penyakit TB yang signifikan di Kota Denpasar; (f) Clustering kejadian TB terjadi dengan kecenderungan mengikuti kemiskinan penduduk yang tinggi, tetapi tidak untuk kepadatan dan status penduduk pendatang didasarkan batasan administrasi. Daerah jalan, khususnya di sisi Barat dan Selatan cenderung memiliki angka kasus yang lebih tinggi. Kasus TB juga cenderung tinggi di daerah arah TPA. Penyebaran kasus TB secara kualitatif pada buffer 200 m antara kasus satu dengan lainnya terkesan cenderung tinggi di wilayah sisi Barat dan Utara Kota Denpasar.

Background: At Province of Bali, the contagious diseases which should be alerted are the new emerging diseases and re-emerging diseases. To cover this problem, the government has developed ten national priority programs and one of them is GERDUNAS (Gerakan Terpadu Nasional) Tuberculosis. Refer to this problem, the researcher would describe several aspects which influenced the prevalence of tuberculosis (TB), such as density, poverty, urban status, and the distance to healthcare facilities. This model suggested spatial model to determine the susceptible area of TB at Denpasar. Objectives: This study was aimed to: find out the benefits of spatial model in determining level of susceptible area to TB, to: find out the relationship between density and TB cases, and also to find out the association of TB clustering in the poor area, urban clusters at Denpasar, and distance to the healthcare facilities with the benefit of spatial model in improving management of TB control at the high endemic area. Method: This study was an observational research with cross sectional approach. Data analysis used software of Geoda and SatScan for the GIS process. Results: There was correlation between TB cases and poverty (z = = 3,502, p = 0.0004). Meanwhile density (z = -1,529, p = 0.126) and urban status (z = -1.113, p = 0.909) were not related to TB cases. The chi-square analysis also showed that there was no correlation between TB cases and distance to the healthcare facilities (x2 = 0.21, p = 0.65). Analysis of spatial dependency with Moran’s test showed the value of 0.670 (p = 0.412). Direction of final garbage localization was relative high in South Denpasar. In radius of 200 meters, the cases of TB highly experienced at the West side and North side of Denpasar

Kata Kunci : Pemodelan Spasial,Tuberkolosis SIG


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.