Hubungan stres kerja dan getaran dengan kelelahan kerja dan ketidaknyamanan pada masinis kereta api PT Kereta Api (Persero) daerah operasi VI Jogjakarta
SUJOSO, Anita Dewi Prahastuti, Dr. dr. Lientje Setyawati Maurits, MS., Sp.Ok
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan KerjaLatar Belakang : Dewasa ini tuntutan akan standar internasional menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan kerja (K3) menjadi isu global yang sangat penting. Kurangnya pengendalian terhadap lingkungan kerja akan menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan, timbulnya berbagai penyakit dan kecelakaan kerja. Kelelahan kerja merupakan salah satu gejala penurunan kondisi fisik dan stamina yang sering dialami oleh tenaga kerja. Suasana kerja yang tidak ditunjang dengan kondisi lingkungan yang sehat, nyaman dan selamat akan memicu terjadinya kelelahan kerja. Kelelahan kerja merupakan masalah utama yang sering dihadapi oleh pengemudi kendaraan umum. Masinis kereta api merupakan kelompok yang berisiko tinggi terpapar oleh lingkungan kerja. Tujuan penelitian : ini adalah untuk mengetahui hubungan stres kerja dan getaran terhadap kelelahan kerja dan ketidaknyaman. Metode : Rancangan penelitian yang digunakan adalah survei cross sectional dengan sampel sebanyak 80 orang. Hasil penelitian dan kesimpulan : menunjukkan bahwa stres kerja mempunyai hubungan dengan kelelahan kerja (r=0,254, p=0,015), getaran mempunyai hubungan dengan kelelahan kerja (r=0,260, p=0,023), stres kerja mempunyai hubungan dengan ketidaknyamanan (r=0,271,p=0,015), getaran mempunyai hubungan dengan ketidaknyamanan (r=0,473,p=0,000). Pada analisis multivariat menunjukkan bahwa stres kerja dan getaran merupakan prediktor yang bermakna terhadap terjadinya kelelahan kerja dan ketidaknyaman dengan bobot sumbangan efektif sebesar 12,61% terhadap kelelahan kerja dan 27,883% terhadap ketidaknyamanan. Berdasarkan hasil penelitian ini maka stres kerja dan getaran mempunyai hubungan yang bermakna terhadap kelelahan kerja dan ketidaknyamanan. Untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan kelelahan kerja dan ketidaknyamanan melalui pemantauan lingkungan kerja, pemeriksaan kesehatan dan pelaksanaan K3 bagi masinis KA pada khususnya
Background: Nowadays competence and requirements for international standard make occupational safety and health problems as a crucial global issue. Minimum control to work environment leads to the incidence of health problems, the emergence of various diseases and occupational accident. Fatigue as one of declining physical condition symptoms and stamina commonly occurs to manpower. Working condition which is not supported by healthy, comfortable, and secure environment may trigger fatigue. Drivers of public transportation are most likely to encounter fatigue. Vibration on the time of driving have high risk to give on exposure to work environment. Objective: The study aimed to identify the relationship between work stress and vibration against fatigue and discomforts. Method: This was a survey which used cross sectional design with as many as 80 samples. Result and Conclusion: The result of the study showed that work stress had relationship with fatigue (r=0.254, p=0.015), vibration had relationship with fatigue (r=0.260, p=0.023), work stress had relationship with discomfort (r= 0.271, p=0.015), vibration had relationship with discomfort (r=0.473, p= 0.000). The result of multivariable analysis showed that work stress and vibration were significant predictor to the incidence of fatigue and discomfort with effective contribution as much as 12.61% for fatigue and 27.883% for discomfort. There was a significant relationship between work stress and vibration against fatigue and discomfort. Therefore there should be efforts to prevent fatigue and discomfort through monitoring of work environment, health check, and the implementation of occupational safety and health for train drivers in particular.
Kata Kunci : Stress kerja, Kelelahan kerja, Ketidaknyamanan, Suasana kerja, Masinis kereta, work stress, vibration, fatigue, discomfort, train drivers, occupational health and safety.