Laporkan Masalah

Paparan dosis radiasi di titik kritis palatum molle pada branchytherapy karsinoma nasofarings dengan aplikator rotterdam

PRASODJO, Djati, Prof . Dr. dr Salugu Maesadjie Tj., Sp.Rad(K)-Onk

2008 | Tesis | S2 PPDS I - Ilmu Kedokteran Klinik

Latar belakang : Radioterapi yang merupakan modalitas utama pada terapi karsinoma nasofarings (KNF) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, dapat menimbulkan komplikasi terjadinya fistula palatum, akibat lebih dekatnya sumber radiasi ke palatum daripada ke nasofarings, sehingga palatum menerima dosis radiasi lebih tinggi daripada nasofarings sendiri. Dosis radiasi yang melebihi toleransi jaringan normal akan menyebabkan kematian sel dan akhirnya nekrosis. Levendag et al menciptakan aplikator khusus untuk brachytherapy KNF yang dirancang untuk menjauhkan sumber radiasi dari palatum. Tujuan : Untuk mengetahui apakah dosis radioterapi yang diberikan pada protokol terapi radiasi karsinoma nasofarings menyebabkan terjadinya fistula palatum. Metodologi penelitian : Dalam periode Januari 2006-Januari 2007, 93 penderita KNF di RSUP Dr. Sardjito yang diambil secara consecutive sampling dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi dalam dua kelompok. Kelompok penderita KNF yang hanya menjalani radiasi eksternal dan kelompok penderita KNF yang menjalani radiasi eksterna ditambah booster brachyterapy. Kemudian dilakukan pengamatan dalam periode 2 minggu setelah penderita selesai menjalani radioterapi untuk kemungkinan terjadinya fistula palatum.

Back ground : Radiotherapy, the first modality for nasopharynx carcinoma (NPC) therapy on Dr. Sardjito Hospital, give palatum fistula as complication. It’s because of the radiation source is closer to palatum than to nasopharynx, so palatum got higher radiation dose than nasopharynx itself. Radiation dose higher than normal tissue tolerance will cause cell death and necrosis at the end. Levendaag et al had discovered specific applicator for NPC brachytherapy designed to distances radiation source from palatum. Purpose : To evaluate wether radiation dose given on nasopharynx carcinoma radiation therapy protocol cause palatum fistula. Material and method : During January 2006-January 2007 period, 93 NPC patient on Sardjito Hospital taken randomly by consecutive sampling method and fulfill inclusion and exclusion criteria divided in two group. First group is NPC patient underwent external radiation only and the second group is NPC patient underwent external radiation with brachytherapy booster. The two group then observed for two weeks after radiotherapy for development of palatum fistula.

Kata Kunci : Brachyterapy, Karsinoma nasofarings, aplikator rotterdam, nasopharynx carcinoma, rotterdam applicator


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.