Sistem pengembangan karir jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis
EDIYARSYAH, Dr. Agus Heruanto Hadna
2008 | Tesis | S2 Magister Adminsitrasi PublikPenelitian tentang sistem pengembangan karir dalam jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui mengapa terjadi penyimpangan dalam pengangkatan seorang Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Di samping itu juga penelitian ini berupaya untuk mengetahui faktor-faktor yang dimungkinkan dapat mempengaruhi terjadinya penyimpangan dalam pengangkatan pada jabatan struktural tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah : Sistem manajemen pengembangan kepegawaian terhadap karir Pegawai Negeri Sipil dalam pengangkatan pada jabatan struktural. Faktor lain yang dimungkinkan juga dapat mempengaruhi terjadinya penyimpangan dalam pengangkatan pada jabatan struktural adalah : Perilaku-perilaku birokrat terhadap pengembangan karir dalam pengangkatan jabatan struktural, seperti adanya praktek bernuansa KKN terutama nepotisme, balas budi politik dan kolaborasi antara partai politik (pejabat politik) dengan pejabat birokrasi serta kewenangan yang dimiliki oleh pejabat politik yang dikaitkan dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi (pangkat, pendidikan formal, pendidikan dan latihan kepemimpinan serta tingkat senioritas). Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, dengan subjek penelitian terdiri dari 2 (dua) kelompok, yaitu informan dari kelompok tim Baperjakat Kabupaten Bengkalis dan informan dari kelompok pejabat struktural dan staf lainnya. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam (in-depth interview). Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa sistem manajemen pengembangan kepegawaian yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam hal pengangkatan jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis belum ada perencanaan kepegawaian yang benar dan analisis jabatan yang dapat dijadikan acuan atau pedoman. Begitu pula tahapan atau proses yang dilakukan oleh tim Baperjakat dalam pengangkatan jabatan struktural baik itu rekrutmen, seleksi maupun penempatan hanya dilakukan dengan menyeleksi berkas administrasi saja, sehingga apa yang dilakukan oleh tim Baperjakat berkesan sangat sederhana dan apa adanya. Demikian juga dalam rapat-rapat yang dilakukan oleh tim Baperjakat sifatnya sangat tertutup dan sangat rahasia. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh tim Baperjakat Kabupaten Bengkalis masih jauh dari norma-norma atau kaedah-kaedah ilmu sumber daya manusia seperti yang banyak dilakukan oleh organisasi swasta lainnya. Sehingga dengan sistem manajemen pengembangan kepegawaian yang demikian itu sangat memungkinkan bagi pejabat birokrasi untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan khususnya dalam pengangkatan Pegawai Negeri Sipil pada jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Dalam hasil penelitian ini juga dapat terungkap bahwa dalam pengangkatan jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis masih terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat birokrasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, dan pejabat yang diangkat dalam jabatan struktural tersebut juga tidak didasarkan pada kemampuan dan prestasi kerja pegawai. Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat birokrasi tersebut terjadi dikarenakan adanya praktek-praktek bernuansa KKN terutama nepotisme dengan pimpinan di daerah. Demikian juga adanya praktek balas budi politik dan kolaborasi politik serta kewenangan dan intervensi yang dilakukan oleh pejabat politik untuk mendudukan orang-orang atau pejabat yang dianggap barjasa kepadanya dalam pengangkatan jabatan struktural, semakin memperlihatkan banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi didalam sistem pengembangan karir dalam jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bengkalis, sehingga akibat dari pada itu dapat menghambat karir seorang Pegawai Negeri Sipil dalam meniti karirnya.
This research of career system development of structural position in the scope of Bengkalis governmental regency was conducted to examine why State civil servant adoption in structural position deviated from the scope of Bengkalis governmental regency. In addition, this research tried to understand factors affecting the deviations of structural staff adoption. The factors were: officialdom development management systems of civil servant careers in adopting the structural position. Other factors possibly affecting the deviations of structural staff adoption were: bureaucrat behaviors of career development in adopting the structural personnel, such as, nuance practice of KKN especially nepotism, political goodness compensation and collaboration between political parties (political staffs) and bureaucratic staffs and authority belonging to the political staffs associated with inherent requirements (title, formal education, leadership education and training and seniority level). This research was conducted in the scope of Bengkalis governmental regency with research subjects consisting of two groups, information of team group of Bengkalis regency Baperjakat and information of structural staff group and other staffs. Data were collected by in-depth interview. The results of research indicate that the officialdom development management systems made by the Bengkalis governmental regency, adoption of structural position in the scope of Bengkalis governmental regency, had not true officialdom planning and position analysis for reference or guidance. Also, adoption of structural position for recruitment, selection or placement was only doing with just selection the administration file, so what was done by Baperjakat team with very simple and mere impression. Moreover, meetings of Baperjakat team were close and secret in nature. It indicated that what Baperjakat team of Bengkalis regency did was still far from norms and principles of human resources sciences, as widely conducted by other private organizations. So that, such officialdom development management systems highly enabled the bureaucratic staffs to make deviations, especially in the adoption of civil servants of structural position in the scope of Bengkalis governmental regency. The results of research also indicated that the adoption of structural staffs in the scope of Bengkali governmental regency had many deviations conducted by bureaucratic staffs in the scope of Bengkalis governmental regency, and adoption of staffs in the structural position was not based on official work competency and performance. The deviations made by the bureaucratic staffs occurred due to elements of nuance practices of KKN especially nepotism of local leaders. Similarly, practice of political goodness compensation and collaboration politic also authority and intervention did by political official to placed persons or officials which had support him in adopting the structural position, showed many deviations in career development systems of structural position in the scope of Bengkalis governmental regency, so that it resulted in career lateness of civil servants.
Kata Kunci : Pengembangan karir,Jabatan Struktural,Pegawai negeri,Pengangkatan dan penyimpangan