Laporkan Masalah

Penilaian jalan (Studi kasus penilaian aset jalan Brigjend Encung Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah), 2008

SOEPARJANTO, Dr. B.M. Purwanto, M.B.A

2008 | Tesis | S2 Magister Ekonomika Pembangunan

Penilaian jalan termasuk dalam penilaian aset publik yang masih memerlukan metode dan penerapan yang sesuai untuk menghasilkan suatu estimasi nilai tertentu. Berbagai metode dan pendekatan penilaian dapat dilakukan untuk mengindikasikan nilai aset jalan, namun yang terpenting dari itu semua adalah seorang penilai harus benar-benar memperhatikan kepentingan pemberi tugas sebagai pihak yang akan menggunakan hasil estimasi dalam pengambilan keputusan. Pemahaman terhadap konsep tentang nilai dan tujuan penilaian harus dinyatakan dengan tegas agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam penggunaan estimasi nilai yang dihasilkan. Keberadaan metode DRC (Depreciated Replacement Cost) sebagai metode yang direkomendasikan SPI (Standar Penilaian Indonesia) 2007 untuk menilai aset khusus, seharusnya ditanggapi dengan sebaik-baiknya karena penilaian aset daerah yang dilaksanakan untuk tujuan penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah dengan menggunakan hasil nilai pasar, masih diragukan kebenarannya oleh pihak pemeriksa. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode DRC dalam penilaian aset jalan dengan menambahkan pendekatan biaya (cost approach) yang lebih populer dalam praktek penilaian di Indonesia sebagai pembanding. Perbedaan mendasar antara metode DRC dengan pendekatan biaya adalah konsep nilai yang dihasilkan. Meskipun metode DRC menggunakan data pasar, namun estimasi nilai yang dihasilkan adalah bukan nilai pasar (nilai selain nilai pasar), hal ini karena properti subjek yang dinilai adalah aset khusus yang tidak mempunyai pasar atau jika ada, maka pasarnya sangat terbatas. Manfaat terpenting dari penelitian ini adalah adanya pemahaman terhadap konsep nilai aset. Hasil penelitian estimasi nilai jalan menggunakan metode DRC menunjukkan perbedaan dibanding pendekatan biaya. Pada metode DRC estimasi nilai tanah adalah estimasi nilai pasar terendah dan estimasi nilai bangunan adalah nilai bangunan baru dikurangi akumulasi penyusutan dan optimisasi yang relevan (tingkat pelayanan jalan). Penggunaan nilai pasar terendah pada nilai tanah dan perhitungan tingkat optimisasi operasionalisasi bangunan, menjadikan nilai DRC lebih kecil dibanding nilai pasar, sehingga nilai DRC merupakan nilai pasar yang disusutkan (didepresiasikan). Nilai DRC secara umum digunakan secara terbatas sebagai indikator nilai modal (capital value) aset-aset khusus dalam suatu neraca keuangan. Nilai Tercatat Aset (carrying amount) adalah nilai buku aset (book value). Nilai buku aset diperoleh dari biaya perolehan aset dikurangi akumulasi penyusutan atau dari nilai wajar aset pada saat perolehan. Pada kenyataannya nilai aset tetap yang dimiliki/dikuasai pemerintah daerah sebagian besar tidak diketahui biaya perolehannya sehingga akan menyulitkan dalam pencatatannya. Solusi untuk mengatasi kesulitan tersebut adalah dengan melaksanakan penilaian kembali (revaluation) yang ditujukan untuk mendapatkan suatu nilai DRC.

Road valuation is included in public asset valuation which still needs suitable method and application to produce specific value estimation. Various valuation methods and approaches can be done to indicate the road asset value. Yet, the most important thing is an appraiser should put attention on the interest of job provider who will use the estimation result in making decision. The conception on value and its objectives should be definitely expressed in order to avoid misunderstanding in applying the resulted value estimation. The existence of Depreciated Replacement Cost (DRC), as a method recommended by SPI (Indonesian Value Standard) 2007 to value specific asset, should be responded properly. It is because the existence of regional asset valuation which is intended to arrange district financial report by using market value is still doubted by inspector. Based on that condition, this research is aimed to implement DRC method in road asset valuation complemented by cost approach, which is more popular in valuation practices in Indonesia, as a comparison. The basic difference between DRC method and cost approach is on the resulted value concept. Although DRC method uses market data, the resulted value estimation is not market value (beyond market value), bearing in mind that the valuated subject property is specific asset having no market value, or if any, the market is very limited. The most important advantage of this research is the conception on asset value. The result of road value estimation using DRC method shows divergence compared to the result estimated by cost approach. In DRC method, land value estimation is the lowest market value and construction estimation value is the value of new construction reduced by accumulated depreciation and relevant optimization such as road service level. The application of the lowest market value of land and the counting of construction operational level makes DRC value less than market value, therefore, DRC value is the market value which is depreciated. DRC value in general is used as capital value indicator of specific assets in a financial balance. Carrying amount is book value of the asset. Asset book value is achieved from the asset attainment reduced by accumulated depreciation or normal asset value as it was attained. In fact, the earning cost of fixed asset value owned by district government is mostly unknown. It leads to difficulty in recording process. An answer to this difficulty is by implementing revaluation which is aimed to get DRC value.

Kata Kunci : Metode DRC,Laporan keuangan daerah,Nilai modal,Aset khusus,DRC Method, specific asset, non market value, capital value, government financial report


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.