Laporkan Masalah

Analisis resiko banjir pada daerah aliran sungai Babon, Semarang, Jawa Tengah

SETIAWAN, Ogi, Dr. M. Pramono Hadi, M.Sc

2008 | Tesis | S2 Magister Perencanaan Pengelolaan Pesisir dan Da

Banjir merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi di DAS Babon, Jawa Tengah. Penanganan masalah banjir di DAS Babon harus dilakukan dengan terintegrasi baik wilayah, sektor maupun disiplin. Oleh sebab itu diperlukan data dan informasi keruangan tentang karakteristik banjir, tingkat bahaya, kerentanan dan resiko banjir. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) menentukan karakteristik banjir yang terdiri dari luas genangan, kedalaman genangan dan kecepatan banjir; (2) menentukan tingkat bahaya banjir; (3) menentukan kerentanan terhadap banjir; dan (4) menentukan resiko banjir. Beberapa pendekatan dilakukan dalam penelitian ini. Skenario yang digunakan adalah banjir dengan kala ulang 5, 25 dan 50 tahun. Karakteristik banjir didekati dengan menggunakan model hidrologi HEC-RAS. Input debit model HEC-RAS diperoleh dari aplikasi model HEC-HMS dan input geometrik sungai dari aplikasi HEC-GeoRAS. Hasil simulasi model divalidasi ke lapangan untuk menentukan keakuratan model. Berdasarkan karakteristik banjir ditentukan tingkat bahaya banjir dengan cara overlay peta karakteristik banjir dan tabel silang. Kerentanan ditentukan berdasarkan kondisi fisik, sosial maupun ekonomi pada daerah banjir tiap kala ulang dengan metode skoring. Overlay peta bahaya dan kerentanan dilakukan untuk memperoleh tingkat resiko banjir pada tiap kala ulang dengan tabel silang. Berdasarkan input debit dan geometrik sungai hasil model HEC-HMS dan HEC-GeoRAS, model HEC-RAS mampu menggambarkan karakteristik banjir baik luasan, kedalaman genangan maupun kecepatan aliran. Banjir di Sungai Babon pada kala ulang 5 tahun meliputi luasan 590,4 ha, pada kala ulang 25 tahun 1305,4 ha dan pada kala ulang 50 tahun 1853,9 ha, dengan didominiasi oleh kedalaman < 0,7 meter dan kecepatan < 0,5 m/detik serta penggunaan lahan industri dan pemukiman. Bahaya banjir di Sungai Babon di kategorikan menjadi tiga yaitu bahaya rendah, sedang dan tinggi, dimana bahaya rendah merupakan kelas bahaya yang mempunyai luasan terbesar pada tiap kala ulang. Pada kala ulang 5, 25 dan 50 tahun, daerah banjir didominasi oleh kelas kerentanan sedang. Wilayah di Sungai Babon didominasi oleh kelas resiko terhadap banjir tinggi yang mempunyai tingkat kerentanan dan bahaya tinggi serta potensi kerugian yang relatif besar dan korban jiwa yang relatif banyak pada kala ulang 50 tahun. Pada kala ulang 5 dan 25 tahun didominasi oleh kelas resiko sedang. Desa Trimulyo, Kota Semarang merupakan desa yang berada di wilayah dengan resiko tinggi pada semua kala ulang. Penanganan banjir dapat dilakukan dengan penerapan teknik konservasi di hulu DAS, penataan daerah hulu dan dataran banjir, pembangunan bangunan pengendali banjir dan peningkatan kapasitas penduduk.

Flood is one of the environment problems of Babon Watershed in Central Java. Flood mitigation in Babon Watershed should be done by integrating of upstream and downstream area, sectors and disciplines. For that reason, spatial distribution of flood characteristic, flood hazard, flood vulnerability and flood risk are needed. The objectives of this research are : (1) to determine flood characteristic such as inundation area, inundation depth and flow velocity; (2) to determine degree of flood hazard; (3) to determine flood vulnerability; and (4) to determine flood risk. Different approach has been applied in this research for every objective. Three scenarios -5 years, 25 years and 50 years flood return period- were used in this research. Flood characteristics were estimated by hydrological modelling, namely HEC-RAS. The input of the model consist of discharge and river geometric which obtained by applying HEC-HMS model and HEC-GeoRAS, respectively. The accuracy of model result was validated in the field. Base on flood characteristic, flood hazard could be asses by overlaying flood characteristics, depth and flow velocity. Flood vulnerability analysis used scoring method with physical, social and economics condition of flood area as the parameters. Overlaying flood hazard with flood vulnerability map and cross table analysis, produce degree of flood risk map in every single flood return period. Base on discharge and river geometric input data as the results of HEC-HMS and HECGeoRAS, HEC-RAS model is able to determine flood characteristic, both inundation area, inundation depth and flow velocity. Flood inundation area of 5 years, 25 years and 50 years return period is 590,4 hectares, 1305,4 hectares and 1853,9 hectares, respectively. Every flood return period is dominated by less than 0,7 meters of depth, less than 0,5 m/sec of velocity and landuse of industrial and settlements. Categories of flood hazard in Babon River comprise of high, moderate and low hazard. Low hazard has the biggest area in every flood return period. In 5, 25 and 50 years return period, flood area is dominated by moderate flood vulnerability. High flood risk is the highest area in 50 years return period flood area. It has not only high degree of hazard and vulnerability, but also high potential damage and life lose. Moderate risk flood is dominated 5 and 25 years return period flood area. Trimulyo village of Semarang City is located in high flood risk in all return period. Flood mitigation alternatives that can be applied in order to reduce hazard, vulnerability and risk are to apply soil and water conservation in upstream, to rearrange of floodplain and upstream, to establish flood control building and to increase community capacity.

Kata Kunci : Daerah aliran sungai,DAS,Model hidrologi, Babon watershed, risk analysis, hydrological model


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.