Perempuan dalam layar bergerak: representasi perempuan dan pertarungan ideologis dalam film Indonesia era 2000-an :: Analisis semiotika mitos barthesian dan wacana Foucauldian
SETIAWAN, Ikwan, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA
2008 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaTujuan dari kajian ini adalah mendiskusikan representasi perempuan dan pertarungan ideologi dalam film Indonesia era 2000-an. Konteks pertarungan ideologis di sini berkaitan dengan bagaimana perempuan diartikulasikan dalam wacana ideologis film, yakni: (1) apakah mereka tetap dijadikan tokoh-tokoh yang berperan dalam ranah domestik serta mengakui superioritas laki-laki?; (2) apakah mereka menjadi tokoh-tokoh yang mampu memunculkan resistensi terhadap laki-laki atau menyelesaikan permasalahannya tanpa harus terlalu banyak melibatkan campur tangan laki-laki?; dan, (3) apakah resistensi atau perjuangan yang mereka lakukan merupakan peniruan wacana feminis Barat atau berasal rekontekstulisasi wacana peran perempuan dalam budaya lokal? Kajian ini menggunakan perspektif representasi dan hegemoni dalam cultural studies. Di samping itu juga digunakan perspektif ideologi dan poskolonial untuk membuat analisis yang lebih komperhensif. Adapun metode analisis yang digunakan adalah semiotika mitos Barthesian dan wacana Foucauldian yang dilengkapi dengan perspektif hegemoni Gramscian. Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa dalam film Indonesia era 2000-an, representasi perempuan dalam konteks pertarungan ideologis tidak bisa digeneralisir dalam satu kesimpulan, tetapi terdapat beberapa kecenderungan pilihan ideologis. Pertama, bersifat hegemonik, dimana sebagian perempuan dalam film remaja direpresentasikan telah berhasil merayakan dunia dan budayanya, namun mereka kembali harus tunduk ke dalam hegemoni kuasa lakilaki ketika berhadapan dengan cinta, meskipun ada juga representasi perempuan remaja/muda yang berusaha memaknai cinta dan laki-laki dalam kuasa mereka sendiri. Kedua, bersifat resisten, dengan merepresentasikan sebagian besar perempuan dewasa yang mampu melakukan resistensi terhadap kuasa laki-laki dan menyelesaikan permasalahan kehidupannya sendiri. Ketiga, bersifat kompromi-menengahi, dengan representasi perempuan dalam film-film yang menarasikan jagat laki-laki, dimana mereka mampu menggerakkan laki-laki dari keputusasaan demi mencapai masa depan yang mengedepankan keharmonisan dan kesetaraan. Di samping itu, terdapat pula film yang merepresentasikan tokoh perempuan dalam perspektif ideologis feminis radikal dengan merayakan kebebasan, termasuk dalam hal seksualitas dan politik tubuhnya. Kemungkinan, film-film Indonesia pada masa mendatang, tetap akan berkisar dalam konteks pertarungan ideologis, karena dalam masyarakat sendiri persoalan ideologis juga tidak pernah mencapai titik final.
The objective of this study is to discuss women representations and ideology struggles in 2000’s Indonesian films. Ideology struggles, here, relate to how womens are articulated in films’s idelogical discourses: (1) do they still become characters that have roles in domestic fields and recognize men’s superiority?; (2) do they become characters that can make a resistance against men or solve their problems without involving men roles to much?; and (3) are their resistances and struggles as mimicry to Wetern feminist discourses or recontextualization from discourses of women roles in local cultures? This study uses a representation and hegemony perspective in cultural studies, besides ideology and postcolonial perspecitve to make comperhensive analysis. Bartesian myth-semiotic and Foucauldian discourse are used as method of analysis and complemented by Gramscian’s hegemony perspective. The result of this study shows that women representations correlated with ideological struggles in 2000’s Indonesian films cannot be assumed in general and single conclusion, because there are some tendencies in ideological choice such as follow: (1) hegemonic position by representing most of women in teenager films as subjects who may celebrate their cultures, but they still recognize hegemonic power of men transformed with love, although there are few women who can understand love by their power; (2) resistant by representing women (especially adult) who have power to resist hegemonic power of men and solve their problems individually; (3) compromising-bridging by representing women (especially adult) in men narratives in which they can activate men from their desperation into better condition for gaining better future colored by harmony and equality. Beside those, there some films which represent women in radical feminist’s ideological perspective by celebrating freedom, including sexuality and body politics. It is possible that in the future Indonesian films will still be colored by ideological struggles contexts because in the society ideological problems have never reached final point.
Kata Kunci : hegemoni, ideologi, kompromi-menengahi, kontra-hegemoni, kuasa, laki-laki, mitos, perempuan, pertarungan ideologis, poskolonial, representasi, resisten/si, semiotika mitos Barthesian, wacana Foucauldian, wacana ideologis,