Laporkan Masalah

Kerentanan pencemaran airtanah bebas dengan pendekatan geoekosistem di Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul

NOORDIANTO, Muhammad Hendy, Prof. Dr. H. Sutikno

2008 | Tesis | S2 Magister Pengelolaan Lingkungan

Daerah penelitian terletak di Kecamatan Kretek, dipilih sebagai daerah studi karena memiliki fenomena yang kompleks yaitu adanya variasi tipe ekosistem yang terbentuk akibat proses geomorfologi yang bervariasi. Adanya variasi geoekosistem ditambah dengan variasi penggunaan lahan dan kepadatan penduduk akan berpengaruh terhadap tingkat kerentanan airtanah untuk tercemar. Maksud dari penelitian ini adalah memperkirakan kerentanan airtanah bebas terhadap pencemaran dengan menggunakan pengembangan metode DRASTIC. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengetahui sebaran masing-masing parameter kerentanan di setiap tipe ekosistem; 2) mengetahui sebaran penggunaan lahan dan kepadatan penduduk yang merupakan potensi sumber pencemaran airtanah; 3) mengetahui sebaran tingkat kerentanan airtanah bebas terhadap pencemaran serta mengevaluasi pada masing-masing tingkatan kerentanan airtanah bebas terhadap pencemaran; 4) mengevaluasi besarnya kerugian materi (rupiah) yang ditimbulkan apabila terjadi pencemaran airtanah di daerah penulisan; 5) menyusun strategi pengelolaan lingkungan berdasarkan tingkat kerentanan airtanah terhadap pencemaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan geoekosistem dengan satuan bentuklahan sebagai kerangka analisis. Model DRASTIC yang digunakan adalah pembobotan dan penilaian parameter (weighting and rating method). Parameter DRASTIC meliputi : kedalaman muka airtanah, curah hujan, media akuifer, tekstur tanah, topografi, zona tak jenuh dan konduktivitas hidrolik. Berdasarkan analisis DRASTIC kategori kerentanan dinamis maka lokasi penelitian terdiri dari 4 klas kerentanan yaitu : klas kerentanan sangat rendah dengan nilai 84,5 - 61 yang mencakup ekosistem dataran ledok isian ladang dibudidayakan, perbukitan breksi terkikis kuat hutan tidak dibudidayakan dan perbukitan breksi terkikis sedang ladang dibudidayakan. Klas kerentanan sedang dengan nilai 131,7 – 108,2 terdiri dari ekosistem bekas rawa belakang persawahan dibudidayakan, dan ekosistem koluvial pemukiman. Klas kerentanan tinggi dengan nilai 131,8 – 155,3 terdiri dari ekosistem beting gisik pemukiman, beting gisik sawah dibudidayakan, dataran banjir dan gosong sungai ladang dibudidayakan, gumuk pasir belukar tidak dibudidayakan, perbukitan gamping ladang dibudidayakan, dan tanggul alam pemukiman. Klas kerentanan sangat tinggi dengan nilai 179 – 154,4 mencakup ekosistem dataran aluvial persawahan dibudidayakan, dataran aluvial kebun dibudidayakan, dataran aluvial pemukiman, dan ekosistem gumuk pasir pemukiman. Faktor yang berpengaruh besar terhadap nilai kerentanan statis adalah kedalaman muka dan media tak jenuh airtanah dan sedangkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kerentanan dinamis adalah penggunaan lahan. Kerugian materi untuk setiap rumah tangga per bulan apabila airtanah tercemar, sehingga harus membayar air PDAM adalah rata-rata Rp. 27.000 per bulan, sedangkan untuk membayar biaya pengobatan apabila mengalami sakit akibat pencemaran, ratarata satu desa mengeluarkan uang Rp. 3.758.000 per tahunnya untuk biaya berobat di PUSKESMAS.

The study area is located in the Kretek Sub District, Bantul Regency. The study area is selected because of the physical environmental phenomena variation which is formed by geomorphic processes. Variation of ecosystem and landuse as well as population density may influence the groundwater vulnerability to contamination. Objective of this research is to estimate the groundwater vulnerability to contamination using DRASTIC method, and the aims are : 1) to study groundwater vulnerability level distribution to contamination and evaluate in each groundwater vulnerability stage; 2) to evaluate financial loss if groundwater contamination; 3) to composed environment management strategy based on groundwater vulnerability level. The research uses ecosystem approaches with landform unit as map unit. Weighting and rating of the DRASTIC parameter is used to evaluate the groundwater vulnerability. The DRASTIC parameters consist of : depth to groundwater, rainfall, aquifer media, soil media, topography, impact of vadose zone and hydraulic conductivity. Based on dynamic vulnerability category DRASTIC analysis, research location consists of very low vulnerable ecosystem type with value 84,5 - 61 that includes the such ecosystem valley fill cultivate unirrigated agricultural field, moderate eroded hilly cultivate unirrigated agricultural field and high eroded hilly ecosystem non cultivate unirrigated agricultural field. Moderate vulnerable with value 131,7 – 108,2 that includes the such ecosystem former back swamp cultivation rice, colluvium plain settlement. High vulnerable with value 131,8 – 155,3 that includes the such ecosystem beach ridges cultivation rice, flood plain and point bar cultivate non irrigated field, sand dunes non cultivate scrub, limestone hilly cultivate unirrigated agricultural field and natural levee settlement. Very high vulnerable type with value 179 – 154,4 that includes the such ecosystem alluvial plain cultivation rice, alluvial plain garden cultivation, alluvial plain settlement and sand dunes settlement. The main factor that influent static vulnerability value is the depth of groundwater and impact of vadose zone and the main factor that influent dynamic vulnerability is landuse. Financial loss to every household per month when groundwater is polluted, must pay municipal waterworks (PDAM) average Rp. 27.000 per month. When the population got sick due to contamination consequence, they have to pay for the health treatment about Rp. 3.758.000 per year per villages.

Kata Kunci : Pencemaran air tanah,Ekosistem,Kerentanan air tanah.ecosystem, groundwater vulnerability


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.