Pengembangan waralaba benih karet dalam rangka pemberdayaan kelompok tani :: Studi tentang upaya pemberdayaan kelompok tani melalui usaha waralaba benih karet di Kecamatan Pangkalan Banteng Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah
HUDAWI, Akhmad, Drs. Djoko Suseno, SU
2008 | Tesis | S2 SosiologiKemiskinan dan ketidakberdayaan merupakan permasalahan mendasar yang terjadi pada masyarakat tani di Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah. Upaya untuk lepas dari belenggu kemiskinan dan ketidakberdayaan dilakukan dengan mulai mengubah pola pikir dari hanya mengusahakan bertanam padi di sawah atau ladang, menjadi bertani karet di kebun. Salah satu sumber daya alam yang banyak dijumpai di Kecamatan Pangkalan Banteng, khususnya di Desa Sidomulyo adalah tanaman karet yang prospektif untuk dikembangkan. Budidaya karet kemudian menjadi pilihan bagi petani setempat. Namun, petani karet tidak dapat memulai usaha tani karena terhambat modal. Satu-satunya modal yang ada dalam memulai budidaya karet adalah melimpahnya stok batang bawah pada karet. Batang bawah ini mudah dicari dan didapatkan oleh petani setempat. Akan tetapi untuk mendapatkan hasil karet yang baik harus mendapatkan batang atas yang unggul, yaitu bagian yang disebut mata entres. Untuk mendapatkan benih entres ini petani mengharapkan dari Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Melalui PIR inilah petani mendapatkan mata entres untuk dapat memulai usaha budidaya karet. Sejalan dengan program penyediaan benih unggul secara tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu, tepat lokasi dan tepat harga dan pembangunan perkebunan, maka tumbuh pola kemitraan usaha antara penghasil varietas unggul dengan produsen benih. Perikatan kemitraan berdasarkan pemberian dan penerimaan pemanfaatan varietas unggul sebagai hak atas kekayaan intelektual ini disebut dengan model waralaba (franchise). Berkaitan erat dengan kebutuhan petani karet akan varietas unggul, maka konsep waralaba ini menjadi jawaban bagi kebutuhan petani tersebut. Melalui model waralaba benih petani menjadi mampu mewujudkan usaha kebun karet milik mereka dengan pinjaman berupa bibit entres, yang dijual kembali oleh petani kepada yang membutuhkan atau dimanfaatkan sendiri, yang akan dibayar setelah bibit entres laku atau setelah menuai hasil. Pengembangan kelompok waralaba benih ini telah berhasil menggugah petani karet agar dapat mengembangkan diri dan kemampuan mereka dalam mengusahakan tanaman karet. Kemampuan diri tersebut berawal dari keikutsertaan dalam kelompok tani. Khusus di Kecamatan Pangkalan Banteng, terlebih lagi di Desa Sidomulyo, yang mana sebagian besar para petani disana membudidayakan tanaman karet, usaha para petani agar lebih berdaya didukung sepenuhnya dengan model kemitraan yang ada melalui konsep waralaba benih. Desa Sidomulyo sendiri merupakan salah satu pusat tanaman karet di Kecamatan Pangkalan Banteng, disamping Desa Marga Mulya, Arga Mulya dan Kebun Agung. Sebagai buktinya luas panen hasil perkebunan karet di Desa Sidomulyo mencapai 826 hektar. Kelompok petani karet “Tani Tauladan†juga telah memberikan bukti bahwa mereka telah berhasil memberdayakan diri dan kelompok tani mereka sebagai pionir dalam pengembangan waralaba benih. Hasil yang dicapai oleh kelompok petani tersebut telah mampu meningkatkan pendapatan kelompok tani sekaligus memberikan peningkatan kesejahteraan bagi petani karet di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pangkalan Banteng.
The big problems of society in Kecamatan Pangkalan Banteng, West of Kotawaringin regency in Central Kalimantan Province are poorness and weakness. That try to solve their problems in changing how to think of society start for just trying of rice in the field to become the farmer who has latex plant. In Sidomulyo village, we can see so many latex tries that is very prospective to develop. The farmer try to spread their tries, but they don’t have much money (capital). They just have only one capital, that is the base of stem latex trees. It is easy to look and we can get it in there. But if we want to get good result of latex we must take good of up stem, that is part of entres. If the farmer want to get it, they can meet from Perkebunan Inti Rakyat (PIR). The farmer can start to spread their latex trees from it. There are working together, between resulting good variety with producent what can give good seed by on time, right quantity, right quality, right location, right prices, and developing of plant. Relationship base of giving and receiving in use good variety as right and intelectual rich as franchise model. This concept is an answer for farmer cause they can open latex trees by theirself by loan of seed entres. Next the try to sell again to others who need it or they will use it for theirself, after that they will pay it after they get result. It can make farmer to be self confident to develop theirself to spread latex trees. They start for joining in farmer team. Specially in Kecamatan Pangkalan Banteng, in Sidomulyo village, they try to spread latex trees. They try to work together in franchise model of seed. It is the central of latex trees beside of Marga Mulya village, Arga Mulya and Kebun Agung. In fact there are 826 hectar of latex field in Sidomulyo village. In other side, a group of farmer Tani Tauladan has give a proof of their result in developing theirself and they can be pioneer who spread franchise of seed. Finally, they can get good income for their life in Sidomulyo village in Kecamatan Pangkalan Banteng.
Kata Kunci : Pemberdayaan petani,Waralaba,Kebun karet