Pengaruh suhu dan lama pemanasan terhadap rendemen pada ekstraksi minyak buah Merah (Pandanus Conoideus Lam) dengan sistem batch
ARIFIN, Dr. Ir. Viktor Malau, DEA
2008 | Tesis | S2 Sistem TeknikPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pemanasan terhadap rendemen minyak buah merah yang dihasilkan pada proses ekstraksi sistem batch. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah merah segar dari Papua, buah merah diekstrak menggunakan ekstraktor model tangki dengan pengadukan mekanik pada kecepatan konstan 500 rpm. Proses pemanasan dilakukan secara bervariasi selama 60, 120, 180, 210, dan 240 menit, selanjutnya campuran diambil dan disentrifuse dengan kecepatan hingga 4000 rpm selama 5 menit agar air, ampas, dan minyak terpisah, maka akan terbentuk terbentuk 3 lapisan, yaitu air, ampas, dan minyak, lalu minyak dipisahkan, minyak dipanaskan kembali pada suhu 40 °C selama 15 menit dengan kondisi vakum agar air yang masih terkandung dalam fase minyak buah merah menguap. Berdasarkan uji kuantitas, ada pengaruh signifikan antara lama pemanasan terhadap rendeman minyak buah merah dimana semakin lama proses pemanasan, maka rendemen minyak buah merah semakin meningkat, dari angka tertinggi pada lama pemanasan 240 menit pada suhu 60 °C yaitu 14,42% menuju angka terendah pada lama pemanasan pada suhu 40 °C yaitu 13,33% sehingga diperoleh angka F-hitung sebesar 16,923. Menurut uji kuantitas, suhu pemanasan pada proses ekstraksi buah merah penelitian ini ada pengaruh yang tidak signifikan terhadap rendemen minyak buah merah yang dihasilkan. Berdasarkan uji One-way Anova pada ketiga suhu yang digunakan diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.509, nilai ini lebih dari 0,05 (p>0,05) maka H0 diterima, berarti ketiga suhu pemanasan yang digunakan memang tidak berbeda secara signifikan, dimana pada lama pemanasan 240 menit pada suhu 40 °C, 50 °C, dan 60 °C perbedaan rendemen minyak yang dihasilkan tidak terlalu jauh berbeda, yaitu 14,33%, 13,46%, dan 14,42%, tetapi yang terjadi perbedaan adalah kandungan asam lemak yang dihasilkan. Menurut uji kualitas, berdasarkan uji GC prosentase kandungan, asam lemak tak jenuh yang tertinggi adalah asam lemak oleat, asam lemak ini terbanyak pada suhu 60 °C dengan lama waktu pemanasan 240 menit,yaitu 85,95% selain itu massa jenis minyak yang dihasilkan pada perlakuan ini sangat kecil berkisar pada angka 0,68 gram/mL.
This research was conducted to find the temperature effect when rendering red fruit oil being produced by the extraction batch system process and the heating time required to yield red fruit oil produced in this manner. The ingredient used in this research was fresh red fruit from Papua which is extracted by extractor tank’s model for liquids equipped with a mechanical shaker capable of at constant rate of 500 Rpm.After wards the yield of red fruit oil was analyzed and the variables observed are temperatures and time allocated for heating. First when the research is processed with heating times variation at 40 °C the heating times are 60, 120, 180, 210, and 240 minutes. The next observations are processed with in 50 and 60°C. Based on quantitative test, there is significant effect between the time of heating towards yield of red fruit oil, when the longer the process is run the more red fruit oil will be produced, ranging from the highest count of heating time “240 minutes†within 60 °C (14,42%) to the lowest temperature; 40 °C (13,33%) so Fvalue is as much as 16,923 can be found. According to quantitative test the temperature of heating in the extraction process of red fruit oil in this research will not affect the yield red fruit result. One way anova proved; on the three temperature used significance value achieved as much as 0,509, this is more than 0,05 (p>0.05) Ho is accepted, means the three temperatures of heating used is not significantly different, where 240 minutes heating without 40, 50, 60 °C has not much significance differences(14,33%, 13,46%, and 14,42%), but the different then is on the content of fatty acid resulting. Based on qualitative test, GC test proved that the highest unsaturated fatty acid is oleicd acid. This fatty acid is the most common when processed at 60 °C with 240 minutes heating (85,95%). in other words, the oil's mass resulting from this treatment is too small (0,68 gram/ml).
Kata Kunci : Suhu,Lama pemanasan,Rendemen buah Merah,Sistem batch, temperature, heating time, extraction batch system