Persepsi dan respon pemerintah dan pelaku pariwisata terhadap keberadaan candi Muara Takus sebagai sumber daya wisata di Riau
FEBRIANTI, Harlia, Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D
2008 | Tesis | S2 Teknik ArsitekturSebagai obyek wisata, perkembangan Candi Muara Takus mengalami kondisi stagnan. Hal ini karena kondisi fisik dan pemanfaatannya yang masih sangat terbatas. Padahal Candi Muara Takus merupakan satu-satunya obyek wisata peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau yang disinyalir memiliki hubungan dengan kerajaan Sriwijaya, kerajaan Melayu yang pertama di nusantara. Pemerintah daerah sebagai pihak yang memiliki wewenang mengelola dan mengembangkan potensi pariwisata di wilayahnya cendrung cukup puas dengan mengandalkan Candi Muara Takus yang seadanya sehingga membuat para pelaku pariwisata Riau (biro perjalanan wisata) enggan untuk berperan serta dalam pemanfaatan Candi Muara Takus tersebut sebagai obyek wisata. Oleh karena itu penelitian ini memfokuskan pada persepsi pemerintah dan pelaku pariwisata dalam memahami keberadaan Candi Muara Takus sebagai sumberdaya wisata di Riau. Penelitian ini menggunakan metode induktif kualitatif dengan paradigma fenomenologik. Lokus amatan adalah obyek wisata Candi Muara Takus. Pengambilan data dilakukan melalui observasi dan wawancara dengan nara sumber. Hasil pengamatan dan wawancara kemudian dianalisis dengan cara mengelompokkan unit-unit informasi ke dalam tema-tema tertentu. Selanjutnya didapatkan hubungan antar tema yang diklasifikasikan kembali sehingga mendapatkan konsep. Konsep yang ditemukan menjelaskan adanya nilai penting Candi Muara Takus, permasalahan pengembangan, ragam dukungan dan kebijakan pengembangan terhadap Candi Muara Takus. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Terdapat kesamaan persepsi antara pemerintah dan pelaku pariwisata dalam menggambarkan keberadaan Candi Muara Takus, khususnya terkait dengan : (1) nilai-nilai yang terkandung pada Candi Muara Takus yakni: nilai sejarah, nilai pengetahuan, nilai kepariwisataan, dan nilai ekonomi, (2) Candi Muara Takus sebagai obyek wisata religi, (3) adanya penolakan masyarakat terhadap aktivitas agama lain, (4) pembagian peran dan tanggung jawab antar level pemerintah belum jelas, (5) belum meratanya informasi tentang rencana taman purbakala nasional dan (6) optimisme dan dukungan terhadap pengembangan Candi Muara Takus sebagai tujuan wisata dan taman purbakala nasional. 2. Terdapat perbedaan persepsi antara pemerintah dan pelaku pariwisata dalam memandang keberadaan Candi Muara Takus, dalam kaitannya mengenai: (1) nilai yang terkandung pada Candi Muara Takus khususnya dari sisi religi, (2) nilai penting sebagai obyek wisata religi dan (3) terbatasnya ketersediaan fasilitas dan infrastruktur di Candi Muara Takus. 3. Adanya kesenjangan yang terbangun dalam kaitannya dengan respon, yakni pelaku pariwisata belum memberikan respon (tidak ada tindakan) terhadap keberadaan Candi Muara Takus sebagai obyek wisata, sedangkan pemerintah telah merespon keberadaan Candi Muara Takus sebagai obyek wisata yang ada di Riau melalui tindakan atau program-program yang telah dilakukan selama ini.
As a tourist object, Muara Takus temple does not make any significant progress due to its limited physical condition and its use despite the fact that Muara Takus temple is actually the only cultural heritage tourist object in the form of temple. The temple is believed to be connected to Sriwijaya Kingdom as the first Malay kingdom in Indonesia. The regional government as the one responsible for managing and developing the tourism potentials in its area tends to feel satisfied with the current condition of the temple. Consequently, the tourism stakeholders in Riau (travel bureaus) are reluctant to take part in making the most of the temple as a tourist object. Therefore, this research focuses on the perception of the government and all stakeholders in tourism in response to the existing condition of Muara Takus temple as a tourism resource in Riau. The research uses an inductive, qualitative method. The focus of the observance is Muara Takus temple. The data collection was based on the observation and interviews with the resource people. The results of observation and interviews were then analyzed by categorizing units of information into some certain themes. The relation gained among the themes was then categorized to get the concept. The obtained concept indicates the valuen of Muara Takus temple, its development obstacles, various supports and the policies to develop Muara Takus temple. There are some conclusions to be drawn from the research: 1. The government and the tourism stakeholders share the same perception to elaborate the existence of Muara Takus temple, especially those related to : (1) values contained in Muara Takus temple such as historical value, knowledge value, tourism value and economic value, (2) Muara Takus temple as a religious tourist object, (3) community’s objection to any religious activities performed by other religion’s followers, (4) unclear division on job descriptions and responsibility at the governmental levels, (5) unclear information about the plan to develop a national archeological park and (6) optimism and support to develop Muara Takus temple as a tourist destination and national archeological park. 2. The government has different perception from the tourism stakeholders’ perception in regard to the following points: (1) values contained in Muara Takus temple especially in terms of religious aspect, (2) significance value as a religious tourist object, (3) limited facilities and infrastructure in Muara Takus temple. 3. There is a gap in terms of response. The tourism stakeholders do not make response or took real actions to support Muara Takus temple as a tourist object, whereas the government already made positive response to the existence Muara Takus temple as a tourist object in Riau through some already implemented programs.
Kata Kunci : Pariwisata,Candi Muara Takus ,Keywords: perception, respons, government, tourism stakeholders, Candi Muara Takus.