Laporkan Masalah

Pengaruh pemuasan pada masa dara terhadap kinerja produksi dan reproduksi burung puyuh

ZURAHMAH, Nani, Prof.Dr.Ir. Tri Yuwanta, SU.,DEA

2008 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemuasaan pada masa dara (umur 4 – 6 minggu) terhadap kinerja produksi dan reproduksi burung puyuh, serta menentukan bentuk pemuasaan yang menghasilkan kinerja produksi dan reproduksi terbaik dan menguntungkan secara ekonomis. Tiga ratus empat puluh burung puyuh betina umur 4 minggu digunakan dalam penelitian ini. Perlakuan yang dicobakan adalah: P0 (tanpa pemuasaan atau kontrol), P1 (pemuasaan berselang sehari), P2 (pemuasaan pada malam hari: 18.00 s/d 06.00); dan P3 (pemuasaan pada siang hari: 06.00 – 18.00). Pengamatan dilakukan umur 4 – 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemuasaan pada burung puyuh dara sangat nyata (P<0,01) menurunkan konsumsi ransum (20,02; 14,72; 18,10 dan 18,52 g berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3), pertambahan bobot badan (80,81; 62,99; 70,97 dan 62,59 g berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3), menunda umur bertelur pertama (40,6; 49,2; 45,3 dan 45,2 hari berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3), menurunkan bobot ovarium (5,8; 4,4; 3,9 dan 5,5 g berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3) dan menurunkan produksi telur (64,98; 50,72; 55,99 dan 55,70 % berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3). Pemuasaan pada burung puyuh tidak mempengaruhi (P>0,05) bobot telur pertama yang dihasilkan (8,8; 9,7; 8,8 dan 9,7 g berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3), distribusi waktu bertelur (hari terang : hari gelap yaitu 49,9% : 50,1%; 50,7% : 49,3%; 56,7% : 43,3% dan 47,5% : 52,5% berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3), bobot telur (11,12; 11,26; 11,06 dan 11,08 g berturut-turut untuk P0, P1, P2 dan P3), gambaran darah (kecuali eritrosit selama pemuasaan). Disimpulkan bahwa bentuk pemuasaan siang hari (pukul 06.00 s/d 18.00) pada burung puyuh dara memberikan indikasi lebih menguntungkan secara ekonomis.

This experiment was conducted to investigate the effect of fasting at grower period (4 to 6 week of age) on productive and reproductive performance of Japanese quail (Coturnix coturnix japonica). Three hundred and forty female of Japanese quails at 4 week of age were used in this experiment. The treatments were P0 (without fasting or control), P1 (skip-a-day fasting), P2 (fasting during 18.00 to 06.00), and P3 (fasting during 06.00 to 18.00). Data collected were fourth until 12 week of age. The results showed the fasting treatments had significant (P<0.01) decreased on feed consumption (20.02, 14.72, 18.10 and 18.52 g for P0, P1, P2 and P3 respectively), and daily weight gain (80.81, 62.99, 70.97 and 62.59 g for P0, P1, P2 and P3 respectively), delay of age at the onset of laying or sexual maturity (40.6, 49.2, 45.3 and 45.2 days for P0, P1, P2 and P3 respectively), decreased of ovary weight (5.8, 4.4, 3.9 and 5.5 g for P0, P1, P2 and P3 respectively) and egg production (64.98, 50.72, 55.99 and 55.70% for P0, P1, P2 and P3 respectively), but did not affect weight of the first egg being laid (8.8, 9.7, 8.8 and 9.7 g for P0, P1, P2 and P3 respectively), egg weight (11.12, 11.26, 11.06 and 11.08 g for P0, P1, P2 and P3 respectively), and hematologic status (especially on erythrocyte rate of the fasting treatment). It can be concluded that the fasting during 06.00 to 18.00 could be improved advantage profit.

Kata Kunci : Burung Puyuh,Kinerja Reproduksi,Pemuasan,Japanese quail, Fasting, Productive, Reproductive, Performance


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.