Evaluasi komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif pada pelayanan Bakti Sosial di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur
NURHAYATI, Enur, dr. Siswanto A. Wilopo, SU.,MSc.,Sc.D
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kes. Ibu dan Anak-KeLatar Belakang: Pelayanan bakti sosial adalah pelayanan kontrasepsi yang dilaksanakan di luar pelayanan rutin dengan perbedaan dalam hal: waktu, peserta, masal, dan tempat pelayanan. Kabupaten Bojonegoro tiap tahun pada bulan Juni sampai Desember mengadakan pelayanan kontrasepsi bakti sosial. Pada tahun 2004 sampai 2006 sebanyak 55 orang akseptor pengguna kontrasepsi dengan tindakan invasif mengalami komplikasi kontrasepsi. Resiko komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif pada pelayanan bakti sosial dapat di cegah dengan peningkatan mutu pelayanan. Tujuan : Mengevaluasi komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif pada pelayanan bakti sosial. Metode: Penelitian observasional dengan rencangan unmatched case control study. Subjek penelitian adalah akseptor yang menggunakan kontrasepsi dengan tindakan invasif dan tercatat di Dinas KB-Ke Sos Kabupaten Bojonegoro Jawa timur pada periode 2004-2006. Kelompok kasus sebanyak 55 orang mengalami komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif dan kelompok kontrol 110 orang yang tidak mengalami komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif. Data primer berupa hasil wawancara mendalam, kuesioner dan observasi, data sekunder didapat dari Dinas KB-Ke Sos Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara tempat pelayanan bakti sosial terhadap komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif dengan nilai OR 3,7 (CI: 95% 1,75-7,63). Variabel lain yang mempunyai hubungan yang bermakna terhadap komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif adalah: pendidikan akseptor (OR= 2,4); pekerjaan akseptor (OR= 2,3); kunjungan ulang (OR= 2,2); lama bekerja tenaga kesehatan (OR= 2,8); konseling (OR= 2,3); dan fasilitas OR= 8,3). Variabel lain yang tidak mempunyai hubungan yang bermakna terhadap komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif adalah: umur akseptor (OR= 1,5); lama pemakaian kontrasepsi (OR= 1,3); dan jumlah pelatihan tenaga kesehatan (OR= 1,7). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif terhadap tempat pelayanan bakti sosial, pendidikan, pekerjaan,kunjungan ulang, lama bekerja, konseling dan fasilitas.
Latar Belakang: Pelayanan bakti sosial adalah pelayanan kontrasepsi yang dilaksanakan di luar pelayanan rutin dengan perbedaan dalam hal: waktu, peserta, masal, dan tempat pelayanan. Kabupaten Bojonegoro tiap tahun pada bulan Juni sampai Desember mengadakan pelayanan kontrasepsi bakti sosial. Pada tahun 2004 sampai 2006 sebanyak 55 orang akseptor pengguna kontrasepsi dengan tindakan invasif mengalami komplikasi kontrasepsi. Resiko komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif pada pelayanan bakti sosial dapat di cegah dengan peningkatan mutu pelayanan. Tujuan : Mengevaluasi komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif pada pelayanan bakti sosial. Metode: Penelitian observasional dengan rencangan unmatched case control study. Subjek penelitian adalah akseptor yang menggunakan kontrasepsi dengan tindakan invasif dan tercatat di Dinas KB-Ke Sos Kabupaten Bojonegoro Jawa timur pada periode 2004-2006. Kelompok kasus sebanyak 55 orang mengalami komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif dan kelompok kontrol 110 orang yang tidak mengalami komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif. Data primer berupa hasil wawancara mendalam, kuesioner dan observasi, data sekunder didapat dari Dinas KB-Ke Sos Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara tempat pelayanan bakti sosial terhadap komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif dengan nilai OR 3,7 (CI: 95% 1,75-7,63). Variabel lain yang mempunyai hubungan yang bermakna terhadap komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif adalah: pendidikan akseptor (OR= 2,4); pekerjaan akseptor (OR= 2,3); kunjungan ulang (OR= 2,2); lama bekerja tenaga kesehatan (OR= 2,8); konseling (OR= 2,3); dan fasilitas OR= 8,3). Variabel lain yang tidak mempunyai hubungan yang bermakna terhadap komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif adalah: umur akseptor (OR= 1,5); lama pemakaian kontrasepsi (OR= 1,3); dan jumlah pelatihan tenaga kesehatan (OR= 1,7). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara komplikasi kontrasepsi dengan tindakan invasif terhadap tempat pelayanan bakti sosial, pendidikan, pekerjaan,kunjungan ulang, lama bekerja, konseling dan fasilitas.
Kata Kunci : Komplikasi Kontrasepsi,Kualitas Layanan KB,invasive contraceptive complication, community service