Implementasi pelayanan kesehatan model dokter keluarga di Kota Bontang
ASMAH, Nur, dr. Kristiani, SU
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatar Belakang : Reformasi pelayanan kesehatan dasar di Kota Bontang dimulai dengan mengembangkan model pelayanan kesehatan dokter keluarga dan merupakan tahap uji coba yang terpusat pada klinik dokter keluarga. Penyelenggaraan konsep ini memiliki implikasi terhadap sistem kesehatan yang sudah ada sekarang seperti puskesmas. Sebagai program yang baru berjalan, perlu diketahui bagaimana implementasi pelayanan kesehatan model dokter keluarga ini, sehingga dapat diketahui, kelemahan dan hambatan yang ada untuk diatasi dalam upaya pengembangan selanjutnya. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang implementasi pelayanan kesehatan model dokter keluarga dan interelasi dengan organisasi pelayanan kesehatan lainnya. Metode : Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus. mendesriptifkan implementasi pelayanan model dokter keluarga di Kota Bontang. Instrumen berupa pedoman wawancara dan telaah dokumen. Informan adalah koordinator klinik dokter keluarga, pejabat dinas kesehatan, kepala puskesmas, dan pasien Hasil : Pelaksanaan pelayanan dokter keluarga belum menunjukkan pelayanan yang sesuai dengan prinsip dokter keluarga. Pelayanannya hampir sama dengan pelayanan kesehatan pada umumnya. Kegiatan promotif pada individu belum dilakukan secara optimal, paling menonjol dilakukan pembinaan ke masyarakat. Upaya preventif pada keluarga dilakukan dengan imunisasi, kunjungan rumah bertujuan mengetahui potensial hazard rumah anggota, pemeriksaan secara berkala dan kontrol penyakit tertentu. Hubungan antara organisasi pelayanan kesehatan, mekanisme koordinasi antara puskesmas dan klinik belum jelas, masing-masing organisasi berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi, hal ini terkait karena tidak adanya struktur organisasi yang mengatur kewenangan organisasi. Mekanisme Koordinasi pengawasan langsung antara dinas kesehatan dan klinik dilakukan dengan optimal karena dipimpin langsung oleh pengambil kebijakan. Persepsi masyarakat terhadap pelayanan dokter keluarga sama dengan pelayanan kesehatan yang lain. Terdapat hambatan pelaksanaan seperti tidak adanya regulasi, terbatasnya sumber daya tenaga, sarana, dan sistem pembiayaan, pengorganisasian SDM, Pemetaan sasaran, Perilaku provider, dan persepsi masyarakat mengakses kebutuhan kesehatan belum berubah. Kesimpulan : Implementasi pelayanan kesehatan model dokter keluarga di Kota Bontang belum berjalan sebagaimana semestinya namun ada upaya kearah pelaksanaan sesuai dengan prinsip dokter keluarga.
Background : Reformation in basic health care in Bontang was srarted with developing family practice health care model. Implementation of this concept has implication to the health system that already exists like health center. As a new running program, the implementation of this model, has never been evaluated. Purpose : the purpose of this study was to describe about implementation of family practice health care model and interrelation with other health care organization. Methods : This research applied a qualitative descriptive design with case study approach to describe implementation of family practice health care model ini Bontang. Data were collected with indepth interview, document check list and observation the subjects were family practice clinic’s coordinator, health department official, health center chief, city government official, and patient Result : The implementation of family practice health care not the avtivities fit yet with family practice concept. Of family practice was almost same as health care that already exist before. Individual promotive activity has not done maximally. Preventive effort to family were done by immunization and home visit to identity the member’s house hazard potential and disease control. Relationship between health care organization, the mechanism of coordination between health center and clinic were not clear yet. Each organization work without coordination. This happened because there were no organization structures which organize each arbitrary. The mechanism of direct control coordination between health department and clinic were dominantly done because it was lead directly by the policy maker. Public perception to family practice health care was same as other health care. There was obstacles on the implementation of family practice, i.e. no regulation, limited human resources, and financing system. Conclusion : The implementation of family practice model in Bontang hasn’t with family practice principle, but there are efforts to conform the family practice standards.
Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Dokter Keluarga, Family Practice, primary health care, clinic, and coordinaton