Laporkan Masalah

Pelaksanaan kebijakan obat generik di apotek Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau

SURYANI, Aini, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. Pe

Latar Belakang : Obat merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu harus tersedia dalam jumlah, jenis dan mutu yang cukup, merata dan mudah diperoleh masyarakat pada saat dibutuhkan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan obat dan menjamin akses obat bagi seluruh masyarakat pemerintah mengeluarkan kebijakan harga obat generik. Walaupun harga obat generik ini sudah di tetapkan oleh pemerintah tetapi pelaksanaannya masih ditemui variasi harga obat yang beredar di Apotik maupun di pasaran sehingga dapat menimbulkan ketidakpastian harga bagi masyarakat dalam memperoleh obat yang dibutuhkan. Untuk itu perlu dilakukan penelitian terhadap pelaksanaan kebijakan harga obat generik di sarana distribusi obat terutama di Apotik swasta di Kabupaten Pelalawan. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode kualitatif dan kuantitatif, menggunakan rancangan cross sectional, data dianalisis secara deskriptif. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses obat generik untuk obat yang dilayani Apotik 99,3%, untuk obat yang tidak terlayani 0,7% dan untuk obat yang diganti 0,5%. Ketersediaan obat di Apotik ratarata 4-7,3 bulan. Obat yang tingkat ketersediaannya paling tinggi adalah Hidrokortison krim 2,5% yaitu 7,3 bulan dan yang paling rendah adalah Pirazinamid tablet 500 mg yaitu 4 bulan. Apotik yang mempunyai obat kadaluarsa adalah Apotik PR (0,7%) dan KH (2%). Semua Apotik tidak terdapat obat yang rusak, persentasenya 0%. Hampir semua Apotik pernah mengalami kekosongan obat mulai dari 4 hari sampai 90 hari. Harga obat yang dijual rata-rata mengalami kenaikan dari harga eceran tertinggi Apotik (HET). Tetapi ada juga beberapa obat yang dijual dengan harga dibawah HET. Obat yang harganya dijual diatas HET yang paling tinggi yaitu Klorfeniramin Maleat (CTM) tablet dengan kenaikan sampai 515,4%. Sedangkan Deksametason tablet dijual paling rendah dibawah HET sampai 65,2%. Bahkan ada juga obat yang harganya sesuai dengan HET yaitu Alopurinol, Digoksin dan Ranitidin. Hasil wawancara mendalam pada pasien dapat diketahui bahwa pasien mempunyai daya beli terhadap obat generik. Kesimpulan: Pelaksanaan kebijakan harga obat generik di Kabupaten Pelalawan baik. Hal ini dapat dilihat dari akses obat generik oleh masyarakat setelah dikeluarkannya SK Menkes RI tinggi, tingkat ketersediaan obat generik di Apotik Kabupaten Pelalawan berada dalam kategori kurang serta tidak terdapat obat kadaluarsa dan rusak. Harga jual obat generik di Kabupaten Pelalawan masih bervariasi namun masyarakat masih mampu untuk membelinya.

Background: Medicine is an integral part of community health service Therefore it must be available in quantity, many types of find and sufficient quality, properly distributed and accessible for community when its needed. In order to meet the community’s need for medicine and to guarantee medicine accessibility, the government released generic medicine policy. Although the price of the generic medicine has already been set up and fixed by government, there are variety of the price still can be found on implementation of the generic medicine sold in the pharmacy store or in the market, and can cause price uncertainty for community in finding medicine they need. That is why an evaluation need to be conduct toward implementation of the generic medicine price policy on the distribution chanel especially at the pharmacy store. Method: This research is observational research with qualitative and quantitative method using cross sectional design, data analyzed descriptively. Result: Research result indicates that access to generic medicine at pharmacy store for available medicine are 99,3%, for unavailable medicine are 0,7% and for replaced medicine are 0,5%. Average availability of the medicine at the pharmacy store are 4-7,3 months. Highest availability rate for medicine is Hidrocortison cream 2,5% for 7,3 months and the lowest is Pirazinamid tablet 500 mg for 4 months. Pharmacy store that have an expired medicine are PR (0,7%) and KH (2%). Every pharmacy store have no damaged medicine, 0% percentage. Almost all pharmacy store experiencing out of supply for medicine between 4 to 90 days. Price of the medicine sold averagely increasing from its pharmacy store highest retail price (HRP). But there are several medicine that sold under the HRP. The highest price medicine that are sold higher than its HRP is Clorfeniramin Maleat (CTM) tablet by 515,4% increase and Dexametason tablet is the lowest price sold under HRP by 65,2%. Even so they are Alopurinol, Digoksin, and Ranitidin. From in depth interviews with patients, can be learn that they have a purchase ability for generic medicine. Conclusion: Implementation of generic drug price on Pelalawan district is good. It can see from generic medicine access by community are high after the release of regulation from Health Department of Republic Indonesia, the level of availability of generic medicine on pharmacy store at Pelalawan District are low but there are no expired or damaged medicine. The price of generic medicine at Pelalawan District are variable but the community still can afford to buy them.

Kata Kunci : Kebijakan Obat Generik,Ketersediaan, Generic medicine, availability and affordability.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.