Penilaian budaya Patient Safety Departemen Bedah dan Non Bedah RS Angkatan Laut Mintohardjo Jakarta
LESTARI, Ade Dwi, dr. Adi Utarini, M.Sc.,MPH.,Ph.D
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Manaj. Rumah Sakit)Latar belakang: Saat ini pelayanan kesehatan menjadi semakin sadar pentingnya penerapan keselamatan pasien. Penilaian budaya keselamatan pasien adalah alat untuk mengukur dan meningkatkan kesadaran keselamatan pasien. Penelitian sebelumnya mengatakan departemen bedah memiliki risiko KTD (Kejadian tidak diinginkan) yang lebih tinggi daripada departemen non bedah. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan membandingkan mengenai budaya patient safety pada departemen bedah dan non bedah RS X Jakarta. Metode Penelitian: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik. Responden adalah dokter dan perawat yang memenuhi kriteria inklusi dan mengisi kuesioner yang diadopsi dari Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) yang telah tervalidasi dengan 12 dimensi untuk menilai budaya keselamatan pasien. Perbedaan skor dari kedua departemen dan dengan rumah sakit benchmarking dibandingkan secara praktis dengan pembeda 5% dan secara statistik dengan uji beda proporsi. Juga dilakukan perbandingan berdasarkan karakteristik responden yaitu latar belakang profesi, intensitas bekerja dan lama bekerja di rumah sakit. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian dapat terlihat bahwa budaya patient safety antar departemen bedah dan non bedah adalah sama secara praktis maupun statistik yang keduanya dalam dalam kategori cukup. 3 dari 12 dimensi (dimensi frekuensi pelaporan, sangsi kesalahan dan staff) masuk dalam kategori buruk dan perlu perhatian khusus. Berdasarkan karakteristik responden, tidak ada perbedaaan budaya patient safety berdasarkan latar belakang profesi dan lama bekerja di rumah sakit. Sedangakan berdasarkan karakteristik intensitas kerja di departemen bedah terdapat kecenderungan semakin lama intensitas kerja petugas maka semakin berkurang budaya patient safetynya. Kesimpulan: budaya patient safety antar departemen bedah dan non bedah di RS X adalah sama dan dalam kondisi cukup.
Background: Increasingly, healthcare organizations are becoming aware of the importance to improve patient safety culture. Safety culture assessment is a tool to measure and increase awareness of patient safety. Current evidence suggests that surgery department has a higher risk of adverse event than non-surgery departments. Objectives: This study aimed to document and compare patient safety culture of surgery and non surgery departments of X hospital Jakarta. Methods: This studied applied analytic descriptive method. Doctors and nurses who met the inclusion criteria completed The Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) instrument, a previously validated survey with 12 subscales used to assess patient safety culture. Difference of the scores between two departments and between benchmarking hospital in HSOPCS was assessed using 0.05 as a threshold for practical and statistical significance. Characteristics of respondents: background profession, work intensity and working year were also compared. Result: The result showed that patient safety culture between surgery and non surgery departments were similar and in average condition according to in practical and statistical terms. Out of 12 HSOPSC subscale dimensions, 3 (frequency of event reported, no punitive response to error and staffing) were in lower category scores indicating a less developed safety culture. Based on respondent’s characteristic there were no differences of patient safety culture between doctor, nurse profession and working years. In surgery department higher working intensity was related to poor patient safety culture. Conclusion: Patient safety culture between surgery and non surgery department were similar and in average condition.
Kata Kunci : Manajemen Rumah Sakit,Keselamatan Pasien,Budaya Patient Safety, Patient safety culture, surgery and non surgery department