Laporkan Masalah

Ambulance services development in Guido Valadares in Timor Leste

de JESUS, Diamantino, Prof.dr. Hari Kusnanto, DrPH

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Sistem pelayanan Ambulance yaitu mengambil pasien ke dan dari Rumah Sakit Nasional Guido Valadares, Dili, Timor-Leste yang kurang dapat dipercaya dan kurang baik manajemennya. Kecelakaan dan kekerasan sosial, sebagian besar terkait dengan kecelaaan lalu lintas, memerlukan tanggapan / respon yang cepat dari pelayanan jasa ambulance dan pre-hospital care yang sangat tergantung kepada sistem pelayanan ambulance. Pengembangan dari sistem jasa layanan ambulance yang masih baru dan memerlukan ketrampilan dan infrastruktur yang lebih baik dari jasa layananan ambulance dan personil itu sendiri. Suatu sistem layanan ambulance yang ideal perlu melibatkan bertanggung jawab dari tenaga medis keadaan ini termasuk dalam keadaan darurat dan kepedulian, mencakup transpotasi pasien atau teknisi, pengurus Rumah Sakit dan personil transportasi. Tujuan studi adalah untuk mengidentifikasi unsur-unsur dari suatu pembelajaran organisasi dan pendekatan yang berdasarkan team-based di pengembangan dan peningkatan sistem jasa layanan ambulance menunjukkan pencapaian dan proses pelayanan yang lebih baik lagi. Methode: Pokok pemhasan dari studi adalah berfokus pada pengurus dan operator dari Jasa pelayanan Ambulance Nasional dan pengurus, dan para dokter, perawat, sopir ambulance dan teknisi dari Rumah Sakit Nasional Guido Valadares Dili. Studi ini adalah suatu riset di bidang ilmu pengetahuan , di mana peneliti bekerja sama langsung dengan peserta dari studi, yakni yang utama stakeholders dari sistem pelayanan ambulance. Data kwantitatif dan data kualitatif telah dikumpulkan untuk menunjukkan perubahan di proses dan keluaran dari system pelayanan ambulance yang baru, dan diterangkan bagaimana unsur-unsur dari suatu organisasi pempelajaran untuk meningkatkan, sebagai suatu riset di bidang disiplin ilmu, sedang pengembangan dari sistem jasa layanan ambulance yang baru adalah secara berangsur-angsur dikembangkan dimasa akan datang. Hasil: Team/Regu pengembangan Jasa Layanan Ambulance telah dibentuk, dan experiential yang belajar dengan regu diharapkan akan lebih baik , pedoman operasional di tingkatkan infrastruktur sistem layanan ambulance yang baik diperlengkapi. Lebih baik persiapan dan instrumen untuk pre-hospital mempedulikan, preloading operasi, penilaian pasien sebelum di pindahkan ke unit keadaan darurat, dan pencegahan dari kesulitan bernapas, telah diamati dan secara statistik penting, setelah implementasi dari sistem pelayanan ambulance baru sistem pelayanan. Ambulance dalam merespon panggilan paling lambat adalah 10-15 menit meningkat, dan rata-rata waktu yang diperlukan dari panggilan ambulance sampai pengiriman telah dipendekkan. Klien, operator dan pengurus lebih suka dengan sistem pelaynan ambulance yang baru. Kesimpulan: Pengembangan dari suatu sistem pelayanan ambulance yang baru menggunakan unsur-unsur dan pendekatan yang team-based dari suatu organisasi pelajaran telah menjadi sukses di dalam meningkat;kan infrastruktur, proses, pencapaian dan kepuasan dari pasien / stakeholders. Kemampuan/ wewenang dari regu pelayanan ambulance dan hasil pasien harus ditujukan di dalam studi lebih lanjut.

Background: The ambulance service system taking patients to and from Guido Valadares National Hospital, Dili, Timor-Leste was unreliable and poorly managed. Social violence and accidents, mainly traffic-related, need prompt responses and dependable pre-hospital care of patients by the ambulance system. The development of a new ambulance service system does not only need better infrastructure and skills of the ambulance personnel. An ideal ambulance system should involve those responsible for emergency medical and nursing care, including stretch bearers or technicians, hospital administrators and transportation personnel. The purpose of the study was to identify elements of a learning organization and team-based approaches in the development of improved ambulance service system which showed better processes and performance. Methods: The subjects of the study were administrators and operators of the National Ambulance Services and administrators, and doctors, nurses, ambulance drivers and technicians of the Guido Valadares National Hospital. This study was an action research, in which the researcher collaborated closely with the participants of the study, namely the main stakeholders of the ambulance service system. Quantitative and qualitative data were collected to show changes in the processes and outputs of the new system, and explained how elements of a learning organization evolved, as an action research spiral, while the development of the new ambulance service system was gradually developed. Results: The Ambulance Service Development Team was formed, and the experiential learning by the team resulted in better operational guidelines and enhance infrastructure (well-equipped ambulance). Better preparation of instruments for pre-hospital care, preloading operations, patient assessments before transfer to the emergency unit, and prevention of complications, were observed and statistically significant, after the implementation of the new ambulance service system. The ambulance runs per man-minutes increased, and the average time needed from ambulance calls to dispatch was shortened. The clients, operators and administrators were more satisfied with the new system. Conclusions: The development of a new ambulance service system using teambased approaches and elements of a learning organization have been successful in improving infrastructure, processes, performance and satisfaction of the stakeholders. The competence of the ambulance service team and patient outcomes should be addressed in further studies.

Kata Kunci : Ambulan,Kualitas Layanan,Rumah Sakit Timor Leste,Ambulance Service, Model, Action, Research, Research and Development


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.