Beberapa faktor lingkungan yang berhubungan dengan penularan filariasis di Kabupaten Muaro Jambi Propinsi Jambi
TARIGAN, Ramly, Prof.Dr.dr. H. Soeyoko, SU.,DTM
2008 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Kerja (Kesehatan Lingkungan)Latar Belakang: Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria pada kelenjar getah bening, menimbulkan gejala klinik akut, dan gejala klinis kronis berupa elephanthiasis, hidrokel dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Di Indonesia kurang lebih 10 juta penduduk sudah terinfeksi penyakit ini, dengan jumlah penderita kronis (elephanthiasis) kurang lebih 6500 orang. Di Propinsi Jambi, filariasis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, terutama di Muaro Jambi. Kejadian filariasis di Kabupaten Muaro Jambi 7 tahun terakhir mulai dari tahun 1999, sebanyak 51 orang dan secara berturut-turut turun sampai tahun 2004 sebanyak 3 orang, tetapi tahun 2005 penderita meningkat sebanyak 72 orang. Tujuan Penelitian : Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya filariasis di Kemingking Dalam Kabupaten Muaro Jambi Propinsi Jambi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian terdiri dari 27 orang terinfeksi filariasis dan 27 orang tidak terinfeksi filariasis. Variabel bebas penelitian ini adalah faktor individu (umur, jenis kelamin, dan pendidikan), faktor sanitasi lingkungan (fisik dan biologis), faktor perilaku penduduk (pengetahuan, sikap, dan kebiasaan); sedangkan variabel terikat adalah kejadian filariasis. Analisis data menggunakan chi-square jika p<0,01 terdapat hubungan yang sangat signifikan, jika p<0,05 terdapat hubungan yang signifikan, dan jika p>0,05 tidak ada hubungan yang signifikan. Hasil: Kejadian filariasis terbanyak pada golongan umur 44 tahun ke atas dengan jumlah 21 orang atau 78% (p=0,00). Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki terinfeksi filariasis sebanyak 52% (p=0,0584) dan perempuan sebanyak 48%; berdasarkan tingkat pendidikan 56% subjek yang terinfeksi tidak tamat SD, 22% (p=0,001) tamat SD, 19% tamat SMP dan 3,7% tamat SMA; berdasarkan fisik rumah, yang buruk p=0,00, berdasarkan biologi yang buruk p=0,00, berdasarkan pengetahuan yang buruk p=0,00, berdasarkan sikap yang buruk p=0,00, dan berdasarkan kebiasaan yang buruk terdapat filariasis p=0,006. Kesimpulan: bahwa umur, pendidikan, lingkungan fisik, lingkungan biologi, pekerjaan, kebiasaan, pengetahuan, dan sikap mempunyai hubungan dengan kejadian filariasis, sedangkan jenis kelamin tidak berhubungan dengan kejadian filariasis di Kemingking Dalam Kabupaten Muaro Jambi Propinsi Jambi.
Background: Filariasis is communicable disease that caused by filarial worm infection at the lymph gland, its caused acute clinical symptoms and chronics clinical symptoms such as elephantiasis, hydrocele, and transmitted by various type of mosquito. In Indonesia, around 10 million of the population had invected by the disease, with chronics elephantiasis about 6500 population. In Jambi Province, filariasis still form of public health problem, especially in Muaro Jambi. In last seven years from 1999, about 51 people, and every years have decreasing until 2004, to 3 people, but in 2005, its increase to 72 people. Objectives: The research was to know the factors that correlated to filariasis incident in Kemingkin Dalam, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. Methods: The research was an observational research by cross sectional design. The subject of the research was 27 people had filariasis infection and 27 people not had infection. The independent variable in the research was personal factor (age, sex, and education), environmental sanitation factors (physical and biology), behavioral factor of the community (knowledge, attitude and habit), while the dependent variable was filariasis incident. The data analysis used chi square test, if p<0.01, there was very significant correlation, if p<0.05, there was significant correlation, and if p>0.05 there was no significant correlation. Results: Filariasis incident most frequent at 44 years or more age group, with 21 people or 78% (p=0.00). Based on sex, male had filariasis infection about 52% (p=0.0584) and female was about 48%; based on education level, 56% of the subject was ungraduated elementary school, 22% (p=0.001) was graduated of elementary school, 19% was graduated of junior high school, and 3.7% was graduated of senior high school; based on house physically factor, poor was p=0.00, based on biological factor, poor p=0,00, and based on poor habit p=0.006. Conclusions: Age, education, physical environment, biological environment, occupation, habit, knowledge, and attitude factors, had correlation to the filariasis incident, while, sex factors had no correlation to fillariasis incident in Kemingking Dalam, Muaro Jambi Regency, Jambi Province.
Kata Kunci : Filariasis,Penularan,Lingkungan,filariasis, observation of individual’s factors, environmental factors, and behavior