Laporkan Masalah

Kejadian Filariasis pada daerah endemik B. Timori paska pengobatan massal di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur

WISANG, Philipus Benysius, Prof.Dr.dr. Soeyoko, DTM

2008 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Tropis (Kesehatan Tropis)

Kabupaten Alor merupakan daerah endemis Brugia timor, hal ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim Departemen Parasitologi FK-UI dan GTZ-Siskes tahun 2001 ditemukan mf rate B. timori berkisar antara 2-19%. Pada tahun 2002 Kabupaten Alor mulai melaksanakan pengobatan massal selama lima tahun dengan DEC-albendazole. Hasil evaluasi mf (microfilaria) rate tahun 2006 di Desa Lembur timur sebesar 6,06% dan di Desa Kelaisi Timur sebesar 2,17%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor individu, perilaku dan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian filariasis, apakah masih ada proses penularan setelah dilakukan pengobatan massal tahun ke lima. Penelitian ini merupakan jenis penelitian epidemiologik dengan menggunakan desain studi observasional analitik. Rancangan studi yang dipakai adalah rancangan case-control study. Cara pengumpulan data yaitu dengan kegiatan survey darah jari (SDJ) pada malam hari (812 sampel), wawancara menggunakan kuisioner (150 responden) dan kegiatan penangkapan nyamuk. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat dan multiple logistic regression. Hasil pemeriksaan sediaan darah jari didapatkan mf rate di Desa Maukuru (2,38%), Desa Kelaisi Timur (2,46%), Desa Bandar (0,00 %) dan Desa Lembur Timur (0,70%). Hasil uji kai kuadrat didapatkan dua variabel secara statistik bermakna yaitu frekwensi minum obat dan penggunaan kelambu pada waktu tidur malam hari. Hasil analisis multivariat didapatkan 1 variabel yang bermakna secara statistik yaitu penggunaan kelambu pada malam hari (p=0,032) OR=2,994 (CI 95 %: 1,102-8,135) terhadap kejadian filariasis di Kabupaten Alor Propinsi NTT. Jumlah nyamuk yang ditangkap berjumlah 1284 ekor terdiri dari Genus Culex sp., Anopheles sp. (An. barbirostis, An.letiver, An. subpictus, An. makulatus) dan Manzonia sp. Spesies Anopheles paling dominan sebanyak 1020 ekor (79,43%), An. barbirostis apabila dibandingkan dengan spesies lain juga lebih dominan yaitu sebanyak 540 ekor (52,94%). Rata-rata nyamuk lebih banyak menggigit di luar rumah yaitu 118,75 ekor dan dalam rumah sebanyak 95 ekor, sedangkan An. barbirostis rata-rata menggigit diluar rumah sebanyak 85,5 ekor dan dalam rumah sebanyak 39,6 ekor. Aktifitas menggigit nyamuk sepanjang malam dan puncak kepadatan nyamuk terjadi pada tengah malam dan menjelang pagi. Hasil pembedahan nyamuk tidak ditemukan L3 B. timori baik pada An. barbirostis ataupun Anopheles lainnya Kesimpulan, Ada hubungan antara penggunaan kelambu dengan kejadian filariasis. Tidak menggunakan kelambu pada malam hari merupakan risiko utama kejadian filariasis paska pengobatan massal filariasis di Kabupaten Alor, Propinsi NTT. Penularan filariasis tidak terjadi pada saat penelitian tetapi potensi penularan filariasis masih bisa terjadi di Kabupaten Alor, Propinsi NTT .

Background: District of Alor is an endemic area of Brugia Timori. The result of a survey by the Department of Parasitology, Faculty of Medicine, University of Indonesia and GTZ-Siskes in 2001, microfilaria (mf) rate of B. Timori is between 2%-19%. In 2002 the district began to implement mass drug administration for 5 years using DEC-albendazole. The result was evaluated of microfilaria rate in 2006 at Lembur Timur was 6,06% and Kelaisi Timur was 2,17%. Objective: The aims of this research was to identify factors of individuals, behavior and breeding places of musquito related to the prevalence of filariasis after the fifth year of mass drug administration (MDA) at District of Alor, Province of NTT Method: The research was case–control study design. The data collection by pheripheral blood finger at night (812 samples), interview by using questionnaire to responden (150) and mosquito collection at night. These data were analyzed by using with chi square test and multiple logistic regression. Result: The result of examination on fingertip blood showed that mf rate at Maukuru was 2.38%, Kelaisi Timur was 2.46%, Bandar was 0.00% and Lembur Timur was 0.70%. The result of chi square test showed two variables were statistically significant i.e. frequency of drug taking and use of bed nets during the night. The result of multivariable analysis showed that one variable was statistically significant, i.e. use of bed nets during the night (p=0.032) with OR=2.994 (CI=95%=1.102 –8.135) for the prevalence of filariasis at District of Alor, Province of NTT. There were 1284 mosquitoes caught, consisting of Genus of Culex sp., Anopheles sp. (An. barbirostis, An. leviter, An. subpictus, An. makulatus) and Manzonia sp. Species of Anopheles was the most dominant with as many as 1020 mosquitoes (79.43%), and An. banbirostis was the second dominant with as many as 540 mosquitoes (52.94%). In average most of mosquitoes bit outside the house (118,75) and only as many as 95 mosquitoes bit inside the house, whereas in average An. barbirostis bite outside the house (85.5) and inside the house (39.6). Most of mosquitoes bite during the night and the peak of mosquito density took place during midnight and before dawn. The result of dissection showed there was no L3 B. timori both in An. barbirostis and other Anopheles. Conclusion: There was relationship between the use of bed nets during the night for the prevalence of filariasis. No use of bed nets during the night was major risk factor for the prevalence of filariasis at District of Alor, Province of Nusa Tenggara Timur. There was no transmission of filariasis during the study, however there was potential for the transmission of filariasis at District of Alor, Province of NTT.

Kata Kunci : Filariasis Limpatik,Pengobatan,B Timori, B. timori, filariasis, DEC-albendazole


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.