Analisis efektivitas biaya penggunaan Sefotaksim pada pasien bedah Caesar di Ruah Sakit Umum Daerah M. Yunus Bengkulu
SARY, Yunika, Prof.dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc.,Ph.D
2007 | Tesis | S2 Ilmu Farmasi (Magister Manajemen Farmasi)Pemakaian antibiotika profilaksis bedah Caesar menunjukkan pengurangan morbiditas infeksi pasca bedah. Apabila hanya efikasi terapi yang dipertimbangkan tanpa melihat efektivitasnya, maka biaya operasional rumah sakit tidak efektif. Ketidakefektifan terapi menyebabkan efek samping, resistensi, dan kekambuhan, sehingga waktu perawatan lebih lama dan biaya perawatan pasien lebih besar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas biaya penggunaan sefotaksim pada pasien bedah Caesar di RSUD M. Yunus Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian non ekperimental dengan pengambilan data dari catatan medik pasien secara retrospektif. Subyek penelitian merupakan pasien bedah Caesar periode Juni 2006-Mei 2007. Data yang diambil berupa demografi pasien meliputi usia, keadaan maritas, indikasi bedah Caesar, dan jenis insisi. Data mengenai penggunaan antibiotika berupa jenis antibiotika serta harga antibiotika dan alat kesehatan yang diperoleh dari Instalasi Farmasi. Analisa data dilakukan secara deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukkan antibiotika profilaksis intravena yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin dan quinolon dengan frekuensi penggunaan sefotaksim-metronidazol (72,61%), sefotaksim (14,9%), dan sefotaksim- Dumazol® (13,10%). Rata-rata biaya penggunaan antibiotika profilaksis paling tinggi pada penggunaan sefotaksim-Dumazol® (Rp 770.618,48), selanjutnya penggunaan sefotaksim-metronidazol (Rp 562.312,42), dan sefotaksim (Rp 225.153,30). Efektivitas penggunaan antibiotika profilaksis paling tinggi berdasarkan lama luka operasi kering yaitu pada penggunaan sefotaksim-metronidazol (3,5 hari), diikuti penggunaan sefotaksim-Dumazol® (3,6 hari), dan sefotaksim (3,8 hari). Penggunaan antibiotika profilaksis sefotaksim paling cost-effectiveness dibandingkan dengan penggunaan sefotaksim-metronidazol dan sefotaksim- Dumazol®.
Prophylaxis antibiotic usage for cesarean section could decreased morbidity after cesarean section. Operational cost which is payed by hospital would not effective if only efficacy is assessed without effectiveness. Uneffectiveness therapy caused side effects, resistency, and relaps so that caused prolong length of stay and cost which is payed by patients more expensive. This study was done to know costeffectiveness of cefotaxime usage for caesarean section in RSUD M. Yunus Bengkulu. This study was performed by epidemiological survey of caesarean section via patient’s medical record retrospectively and patients invoice in Juni 2006-Mei 2007. Data was taken such as patient’s age, marital condition, indication of caesarean section, kind of intition, kind of antibiotics, equipments, and its cost. It was analayzed non analytical descriptively. The result showed that prophylaxis antibiotic was used are cefotaxime-metronidazole (72,61%), cefotaxime (14,9%), and cefotaxime- Dumazol® (13,10%). The average of prophylaxis antibiotic usage are cefotaxime- Dumazol® (Rp 770.618,48), cefotaxime-metronidazole (Rp 562.312,42), and cefotaxime (Rp 225.153,30). The effectiveness of prophylaxis antibiotic usage based on wound healing are cefotaxime-metronidazole (3,5 days), cefotaxime-Dumazol® (3,6 days), and cefotaxime (3,8 days). The most cost-effectiveness of prophylaxis antibiotic is cefotaxime.
Kata Kunci : Bedah Caesar,Efektivitas Pengobatan,Antibiotika Profilaksis, Cesarean section, prophylaxis antibiotic, cost-effectiveness