Laporkan Masalah

Risiko mengalami disfungsi seksual pada perempuan akseptor KB metode implant dibanding IUD

ANAS, Zulfikar, Prof.Dr. H. Djaswadi Dasuki, MPH.,Ph.D.,SpOG(K)

2007 | Tesis | PPDS I Obstetri dan Ginekologi

Latar Belakang: Metode Implant diketahui dapat meningkatkan risiko menderita disfungsi seksual melalui hipotalamus. Di Purworejo, sekitar 20% memakai metode Impalnt, dan belum diketahuinya kejadian disfungsi seksual pada pemakainya. Penelitian tentang KB hormonal yang pernah dilakukan menunjukkan, sebesar 59,4% responden mengalami disfungsi seksual. Tujuan: Menganalisis hubungan metode Implant dengan risiko mengalami disfungsi seksual dibanding metode IUD. Rancangan Penelitian: Kohort retrospektif Bahan dan cara kerja: Seratus sembilan puluh empat responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok Implant dan IUD. Wawancara dilakukan berdasarkan kuesioner yang diadaptasi dari Female Sexual Function Index (FSFI) yang menjadi acuan penilaian fungsi seksual yang cukup valid. Hasil kuesioner selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Chi Square. Hasil: Akseptor metode Implant yang menderita disfungsi seksual mencapai 77 (79,4%) dan IUD sebesar 34 (35,1%). Risiko akseptor metode Implant mengalami disfungsi seksual sebesar 2,26 kali IUD, dengan RR 2,26 (CI 95% 1,74-2,95). Setelah dilakukan analisis multivariat logistic regresi, risiko meningkat menjadi 9,24 kali dengan RR adjusted 9,24 (CI 95% 4,22-20,24). Metode Implant meningkatkan risiko mengalami disfungsi seksual terhadap hasrat seksual sebesar 9,15 kali dengan RR adjusted 9,15 (CI 95% 4,16-20,13) dan terhadap rangsangan sebesar 1,12 kali dengan RR 1,12 (CI 95% 1,02-1,23), sedangkan terhadap orgasme sebesar 0,20 dengan RR adjusted 0,20 (CI 95% 0,07-0,56) dibanding IUD. Kejadian disfungsi seksual juga meningkat secara bermakna pada akseptor yang berusia > 35 tahun, akseptor yang bekerja, pendidikan rendah, lama memakai Implant >5 tahun dan akseptor yang tinggal di desa. Simpulan: Risiko mengalami disfungsi seksual akan meningkat pada akseptor metode Implant, usia >35 tahun, bekerja, pendidikan rendah, memakai Implant >5 tahun dan tinggal di desa.

Background: It is known that Implant methode can increase the risk of suffering from sexual dysfunction through hypothalamus. In PurwRRejo, about 20% of contraceptive acceptRRnuse Implant methode and the incidence of sexual dysfunction on it’s user was not established yet. Previous study about hRRmonal contraception showed that about 59,4% responden experienced sexual dysfunction. Objectives: To analyze the relationship between Implant methode and the risk fRR develop sexual dysfunction on it’s user and to compare it with IUD methode. Study design: Retrospective cohRRt study. Material and methode: One hundred ninety four respondens which eligible fRR inclusion and exclusion criteria was divided into two groups, Implant and IUD groups. Interview was done based on questioner which adapted from Female Sexual Function Index (FSFI) which include all aspect of female sexual function. Analyze was done by Chi-Square. Results: Implant contraceptive acceptRR which suffer fRR sexual dysfunction reach 77 (79,4%) higher than IUD acceptRR which only 34 (35,1%). The risk of Implant acceptRR to experienced sexual dysfunction is 2,26 times greater than IUD methode, with RR 2,26 (CI 95% 1,74-2,95). After logistic regresi multivariate analyze was done, the risk to experienced sexual dysfunction increase become 9,24 times, RR adjusted 9,24 (CI 95% 4,22-20,24). Implant methode also increase the risk to develop sexual dysfunction fRR desire 9,15 times with RR adjusted 9,15 (CI 95% 4,16-20,13) and fRR arousal 1,12 times, RR 1,12 (CI 95% 1,02-1,23), but fRR RRgasm is 0,20 with RR adjusted 0,20 (CI 95% 0,07-0,56) compare IUD. The incidence of sexual dysfunction increase significantly in acceptRR aged > 35 year old, wRRking acceptRR, acceptRR with low education, and duration use Implant > 5 years and acceptRR who lives in the villages. Conclusion: Implant methode acceptRR, age > 35 year old, low education status, duration of use contraceptive > 5 years can increase the risk to experience sexual dysfunction.

Kata Kunci : Akseptor KB,Metode Implant dan IUD,Disfungsi Seksual, Sexual dysfunction, Implant contraceptive methode, IUD contraceptive methode


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.