Laporkan Masalah

Pengaruh sistem jaringan penerbangan terhadap kapasitas sisi udara :: Studi kasus Bandar Udara di kawasan Sumatera Bagian Utara

WIJAYANTO, Sigit, Ir. H. Wardhani Sartono, M.Sc

2007 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik Transportasi

Pertumbuhan penumpang penerbangan domestik di Indonesia tidak sebanding dengan perkembangan kapasitas bandar udara. Volume lalulintas udara diperkirakan akan segera melebihi kapasitas bandar udara yang ada. Bandar udara di kawasan Sumatera bagian utara memiliki pertumbuhan jumlah penumpang yang cukup tinggi dengan kapasitas yang terbatas memerlukan penelitian untuk mengetahui kinerja yang ada pada bandar udara pada masa mendatang terkait sistem jaringan penerbangan yang diterapkan. Penelitian memperkirakan pertumbuhan penumpang 5 bandar udara yang diteliti dengan pemulusan eksponensial linier ganda 1 parameter dari Brown. Hasil perkiraan tahun 2010 disimulasikan ke sistem jaringan penerbangan eksisting dan hub and spoke. Volume penerbangan tiap rute dihitung menggunakan market share pada jam puncak menurut FAA. Penghitungan kapasitas bandar udara menggunakan metode FAA. Terakhir adalah penghitungan VC rasio dari 2 sistem jaringan yang diterapkan. Hasil menunjukkan dengan sistem jaringan hub and spoke lebih baik dari sistem jaringan eksisting pada bandar udara pengumpan (spoke), nilai VC rasio turun dari 0,78 menjadi 0,67 untuk Sultan Iskandar Muda, Hang Nadim dari 0,65 menjadi 0,52, Sultan Syarif Kasim II dari 0,57 menjadi 0,43 dan Minangkabau dari 0,81 menjadi 0,56. Nilai VC rasio naik pada Polonia sebagai hub dari 1,28 untuk sistem jaringan eksisting menjadi 2,94 untuk skenario hub and spoke. Kapasitas landasan pacu pada 5 bandar udara yang diteliti lebih dari 50 operasi tiap jam, selain Sultan Iskandar Muda 25 operasi tiap jam. Kapasitas landasan parkir merupakan penentu kapasitas keseluruhan dengan rentang kapasitas dari 9 operasi tiap jam untuk Sultan Iskandar Muda sampai 31 operasi tiap jam untuk Hang Nadim

Indonesian domestic air transportation demand grows rapidly after the monetary crisis. Since the airport capacity is limited, predicted that air traffic volume will be greater than airport capacity in a short time periods and will become a problem. North part of Sumatera airports, with significant growth demand and its airports capacity constrain need a study to know the airport performance condition in handling passengers to the time forward. Air transportation network was issued as one from many factors that affected airport performance. Research predicts the passenger growth in 5 airports which have been studied using double exponential smoothing linear - single parameter from Brown. The predicted demand at 2010 simulated to the recent network and hub and spoke network resulting traffic volume at each airport. The airside capacity calculated using FAA method. Finally the research will compute the performance, which means the volume divided by the capacity of the airport using both network. The research results show, using the hub and spoke network, better performance gain in the spoke, the VC ratio decrease from 0,78 to 0,67 at Sultan Iskandar Muda Airport, 0,65 to 0,52 at Hang Nadim Airport, 0,57 to 0,43 in Sultan Syarif kasim II Airport and 0,81 to 0,56 in Minangkabau Airport. Result for Polonia after implementing hub and spoke is the increasing VC ratio from 1,28 using recent network to 2,94 using hub and spoke scenario. The result also show the lack capacity of the airport was caused by the apron capacity limitation and far away below the runway and taxiway capacity. The runway capacity for 5 airports is above 50 operations an hour except Sultan Iskandar Muda Airport which has 25 operations an hour. Apron capacity range is between 9 to 31 operations an hour.

Kata Kunci : Sistim Jaringan Penerbangan, Kapasitas Sisi Udara, demand growth, airside capacity, network system.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.