Evaluasi penerapan ATCS menggunakan output program TRANSYT 11 yang terimplementasi :: Studi kasus simpang Ngapeman, Pasar Pon dan Nonongan, Kota Surakarta
ISTIANTARA, Dedik Tri, Prof.Dr.Ir. Siti Malkhamah, M.Sc
2007 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik TransportasiATCS adalah suatu sistem pengatur lampu lalu lintas terpusat yang mempunyai kemampuan untuk manajemen kawasan lalu lintas dengan mengkoordinasikan antar persimpangan dari pusat control ATCS, sehingga diperoleh suatu kondisi pergerakan lalu lintas pada ruas jalan yang efisien dan efektif. Pada bulan September 2006, Pemerintah Kota Surakarta mulai menerapkan manajemen lalu lintas dengan menggunakan teknologi ATCS pada koridor Jl. Brigjend Slamet Riyadi. Untuk tahap pertama ini dikoordinasikan 10 titik persimpangan dan 5 diantaranya dipasang kamera pemantau kondisi lalu lintas. Berdasarkan sumber dari Dinas LLAJ Kota Surakarta, pengkoordinasian antar persimpangan yang dipakai untuk menjalankan ATCS ini adalah dengan sistem plan, yaitu sistem pengaturan waktu siklus yang dapatdirubah secara otomatis sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam 1 (satu) hari. Dimana untuk masing-masing persimpangan mempunyai 8 plan. Dalam penentuan masing-masing plan dilakukan dengan cara try and error, yaitu dengan menghitung waktu siklus untuk masing-masing persimpangan , kemudian dikoordinasikan offset-nya. Untuk koneksi perangkat APILL (waktu siklus), kamera (kondisi arus lalu lintas) dan CCS (Central Control Room ATCS) dihubungankan dengan menggunakan jaringan kabel atas yang menyatu dengan jaringan kabel listrik. Untuk mengevaluasi efektifitas pengoperasian ATCS di Jl. Brigjend. Slamet Riyadi sekarang ini , maka perlu dilakukan kajian terhadap kinerja persimpangan . Kemudian hasil kajian ini akan dibandingkan dengan apabila kondisi persimpangan-persimpangan tersebut dikoordinasikan dengan output program komputer TRANSYT-11 yang diimplementasikan dilapangan. Tingkat kinerja yang dibandingkan adalah tundaan, antrian dan derajat kejenuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah out put Transyt 11 diimplementasikan, untuk Plan 1, derajat kejenuhan mengalami penurunan kinerja yaitu dari 0,31 menjadi 0,34; antrian mengalami peningkatan kinerja dari 48,08 meter menjadi 41,63 meter dan tundaan mengalami peningkatan kinerja dari 18,28 detik/smp enjadi 17,20 detik/smp. Sedangkan untuk plan II, derajat kejenuhan mengalami penurunan kinerja yaitu dari 0,26 menjadi 0,34; antrian mengalami peningkatan kinerja dari 41,68 meter menjadi 37,47 meter dan tundaan mengalami peningkatan kinerja dari 17,77 detik/smp menjadi 17,04 detik/smp.
ATCS is an automated traffic light control system, which is intelligent (traffic management) and coordinated (it can coordinate between crossing points from the main ATCS control), so that it can gain an efficient and effective roadtrafficking movement. On September 2006, capital government of Surakarta started to implement traffic management by using ATCS technology at Jl. Brigjend Slamet Riyadi corridor. For this first development step, it had been coordinated into 10 crossing points and 5 of them were connected with traffic controller-cameras (CCTV). Based on data given by LLAJ department of Surakarta, coordination process between crossing points that were used to run the ATCS system was through implementing a system plan, in which each of the crossing point has 8 plans on each day, those could be vary based on scheduled time plan. In decided the implementation of the plans, it needed a trial and error procedure by calculated the cyclic time for each crossing point, then coordinated the offset. The APPIL hardware connection (cyclic time), camera (traffic condition) and CCS (Central Control Room ATCS) were connected by using an upper cable-wire that was integrated with electrical cables. To evaluate the ATCS system at Jl. Brigjend. Slamet Riyadi nowadays, it needs to run a proper evaluation concerning to the crossing point performance. Furthermore, the result of this evaluation will be compared to the condition if those crossing point are coordinated with computerized TRANSYT-11 output program, which has been being implemented in the real situations. The degree of performances that are tested includes a degree of postponement, queue, and saturation. The observation result shows that after the out put of TRANSYT 11 is being implemented, degree of saturation for plan 1 is having performance degradation, which is from 0,31 into 0,34; the queue is having performance improvement from 48,08 meter into 41,63 meter ; and delay is having performance improvement from 18,28 sec/pcu into 17,20 sec/pcu. While for plan II, the performance of degree of saturation is having performance degradation, which is from 0,26 into 0,34; the queue is having performance improvement from 41,68 meter into 37,47 meter ; and delay is having performance improvement from 17,77 sec/pcu into 17,04 sec/pcu.
Kata Kunci : Manajemen Lalulintas,Teknologi ATCS,TRANSYT 11, TRANYT 11, coordinate, degree of saturation, delay, queue