Regional Cooperation and Innovation in Local Povernments :: A Case study in Cooperation of Region Barlingmascakeb
SUGONDO, Istanto, Dr. Alberto Gianoli, dan Ir. Leksono Probo Subanu, MURP.,Ph.D
2007 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPenelitian ini ditujukan untuk akademik, pemerintah daerah dan semua yang tertarik untuk memahami kerjasama regional antar pemerintah daerah. Penelitian ini mengambil kasus di BARLINGMASCAKEB, yang merupakan payung kerjasama antar lima kabupaten yakni Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen. Kelima kabupaten diatas terletak di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Dalam upaya untuk lebih mengetahui aspek-aspek dalam BARLINGMASCAKEB model dan hubungan di dalamnya, peneliti melihat bahwa strategi penelitian yang tepat untuk digunakan adalah bentuk penelitian studi kasus. Penelitian ini mencoba untuk memahami inovasi dan interaksi yang timbul sebagai dampak partisipasi pemerintah daerah dalam kerjasama regional. Penelitian diawali dengan anggapan bahwa kerjasama regional menyediakan ruang bagi pemerintah daerah untuk mempunyai kerjasama, koordinasi dan komunikasi yang lebih baik. Oleh karena itu, penelitian ini mempercayai bahwa kerjasama regional menyediakan peluang untuk pertukaran sumber daya dan pengetahuan. Teori regionalisasi mengatakan bahwa organisasi seperti halnya kerjasama regional BARLINGMASCAKEB adalah suatu bentuk inovasi institusional. Teori tentang kerjasama melihat bahwa kerjasama antar daerah yang baik merupakan hal yang mendukung untuk kegiatan inovasi. Penelitain ini menyimpulkan bahwa ada beberapa macam inovasi yang ditimbulkan oleh kerjasama regional BARLINGMASCAKEB yang menekankan pada pemasaran potensi untuk menarik investasi. Dalam upaya untuk menarik investor, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan suatu prototype tentang prosedur pelayanan perijinan dan investasi di wilayah tersebut. Untuk mengimplementasikan prototype tentang prosedur pelayanan perijinan tersebut, pemerintah daerah di wilayah BARLINGMASCAKEB harus membentuk suatu kantor yang mempunyai sifat one stop shop atau pelayanan terpadu. Kantor ini biasanya di beri nama kantor pelayanan perijinan dan investasi. Di beberapa pemerintah daerah yang sudah mempunyai kantor semacam ini, prototype prosedur pelayanan perijinan dari BARLINGMASCAKEB juga dijadikan sebagai acuan/referensi agar prosedur pelayanan perijinan yang sudah ada menjadi lebih baik. Penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi untuk keberlanjutan kerjasama regional BARLINGMASCAKEB seperti perlunya untuk meningkatkan komitmen dari lima kabupaten anggota, dan juga perlu lebih disosialisasikan. Kerjasama tersebut juga harus diperluas, tidak hanya pada level pemerintah daerah, tetapi juga unsure legislative dan masyarakat umum sehingga timbul komitmen yang semakin baik akan masa depan kerjasama regional BARLINGMASCAKEB. Benchmarking dapat digunakan sebagai upaya untuk mengidentifikasi apakah tujuan dari kerjasama sudah dapat dicapai atau belum.
This study is addressed to the academia, local governments and those interested in understanding regional cooperation within local governments. The Study undertook the case of BARLINGMASCAKEB, which is an umbrella of five local governments of Banjarnegara, Puralngga, Banyumas, Cilacap and Kebumen Regencies. The above local governments are located in the Central Java province, Indonesia. In order to fully identify various facets of the BARLINGMASCAKEB model and the relationships therein, the researcher found it appropriate to use a case study as the research strategy. This study sets out to understand the opportunities; innovations and interactions available for local government's participation in regional cooperation. The study began on the premise that regional cooperation provides space for local government to have better cooperation, coordination and communication. This, the study believes provides opportunities for resource exchange and knowledge spillover. The theory of regionalization argues that an organization like Regional Cooperation BARLINGMASCAKEB is a form of institutional innovation. The theory on cooperation considers that high level of local cooperation is conducive for innovative activities. The study concluded that there are a number of innovation generated by regional cooperation BARLINGMASCAKEB since much emphasis is put on marketing potency to attract investment. The study established that in order to make region BARLINGMASCAKEB more attractive for investment, they developed prototype of licensing and investment. The study also fond that one of the strategies used to implement this prototype licensing, local government formed a new office called One Stop Shop of Licensing and Investment Office. If this office is already be present, some changes in procedures and mechanism in making licenses also should be made in order to fit with procedures and mechanism of the prototype. This study proposed a number of recommendations with regard to sustaining the cooperation such as the need to increase commitment from five local governments. The study further suggests that Regional cooperation BARLINGMASCAKEB should be more socialized. The horizons should be expanded from not only local government but also legislature and society in order to enhance further future commitment for BARLINGMASCAKEB. Benchmarking can also be made by the cooperation to identify whether the objectives are being achieved.
Kata Kunci : regionalisasi, kerjasama, inovasi, Regionalization, Cooperation, Innovation