Laporkan Masalah

Informal housing for female industrial workers in Tangerang Regency

PUTRI, Siti Briliani, Dr. Wim Blauw, dan Ir. Bakti Setiawan, MA.,Ph.D

2007 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Tangerang merupakan kota yang penting yang berbatasan dengan Jakarta, ibukota Indonesia. Tangerang adalah sebuah kota yang perkembangannya sangat pesat, dengan jumlah penduduk 1,5, juta. Tangerang berfungsi sebagai kawasan industri bagi Jakarta, oleh karena itu, Tangerang menjadi tempat yang menarik bagi para pencari kerja, termasuk pekerja wanita. Para pekerja wanita ini bekerja pada berbagai pabrik, terutama pabrik textil, makanan & minuman, dan kimia. Datangnya para pencari kerja di kawasan ini meningkatkan kebutuhan akan perumahan. Penelitian ini memperhatikan masalah perumahan bagi para pekerja wanita di Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk memahami kemungkinan gap antara pengadaan perumahan dan kebutuhan perumahan. Lebih spesifik lagi penelitian ini mengkaji gap antara kondisi perumahan dan perumahan yang diinginkan oleh pekerja wanita. Penelitian ini menganggap bahwa para pekerja mempunyai kebutuhan perumahan yang spesifik yang tidak dapat dipenuhi oleh perumahan yang ada di area tersebut. Tiga variable penting yang digunakan dalam penelitian ini adalah lokasi perumahan, kondisi perumahan, dan kemampuan untuk membiayai kebutuhan perumahan. Penelitian ini dilakukan dengan studi lapangan, kuesioner bagi para pekerja wanita dan wawancara dengan para tokoh yang terlibat dalam topik penelitian. Penelitian ini menemukan bahwa, secara umum, ada gap antara perumahan yang diinginkan dan kebutuhan perumahan bagi para pekerja wanita di daerah penelitian. Beberapa hal dapat terlihat jelas pada tiga aspek. Pertama menyangkut lokasi perumahan, yang letaknya jauh dari lokasi pabrik dan menyebabkan para pekerja wanita harus menghabiskan uang lebih banyak untuk biaya transport ke tempat kerja mereka. Kedua, dalam hal kondisi perumahan, banyak kebutuhan-kebutuhan dari pekerja wanita tersebut yang tidak terpenuhi. Hal ini terjadi terutama pada ukuran rumah, fasilitas rumah (kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga) dan perancangan rumah. Ketiga, dalam hal harga, para pekerja wanita tersebut merasa bahwa harga sewa rumah didaerah tersebut termasuk mahal. Mereka lebih memilih untuk menabung penghasilan mereka untuk kebutuhan yang lain daripada untuk kebutuhan perumahan yang lebih baik. Lebih lanjut ditemukan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan gap ini terjadi adalah karena sedikitnya perhatian yang diberikan oleh pemerintah daerah dan pihak swasta dalam masalah perumahan bagi para pekerja wanita tersebut. Sektor perumahan informal menghadapi bannyak halangan dalam menyediakan perumahan yang baik, khususnya dalam hal prasarana dasar. Pihak swasta atau pabrik memandang bahwa perumahan bukanlah tanggung jawab mereka sehingga mereka tidak mencoba untuk membantu para pekerja wanita untuk mendapatkan perumahan yang lebih layak. Selanjutnya, pemerintah daerah juga gagal dalam menempatkan perencanaan dan pengembangan kota yang baik, khususnya pengelompokan ruang antara kawasan industri dengan perumahan bagi pekerja. Penelitian ini menyarankan perlunya perhatian yang lebih terhadap kondisi perumahan bagi pekerja wanita di Tangerang. Karena para pekerja wanita tersebut memberikan kontribusi yang positif bagi kondisi ekonomi daerah, pemerintah daerah dan pihak swasta harus mendukung para pekerja wanita untuk mendapatkan perumahan yang lebih baik. Pemerintah daerah dapat meningkatkan prasarana dasar di daerah perumahan dan memastikan bahwa bagian perumahan informal dapat menyediakan perumahan yang lebih baik. Apabila diinginkan, pihak swasta atau pihak pabrik dapat membantu para pekerja wanita lebih baik dengan membangun asrama yang dekat dengan pabrik atau memberikan subsidi dana kepada pekerja wanita tersebut.

Tangerang city is an important city adjacent to the megapolitan of Jakarta, the capital of Indonesia. It is a fast growing city, with a population of 1.5 millions. Tangerang city serves as industrial area for the megapolitan of Jakarta and therefore it is an attractive place for job seekers, including female workers. These female workers work at various companies, particularly textiles, food and beverage, and chemical. The coming of job seekers in this area then significantly increases the housing demand. This research concerns with the issue of housing for female workers in Tangerang city. It aims to understand the possible gap between housing supply and housing demand. More specifically this research explores the gap between housing condition and housing preferences of female workers. It assumes that female workers have specific housing needs which are not met by the existing housing supply in the area. Three important variables are used in this research: housing location, housing condition, and affordability. It is an exploratory research, utilizing field observation, questionnaires surveys for the female workers, and un-structure interviews with agencies and actors involved in this issue. The research found that, in general, there is a gap between housing preferences and housing demand for female workers in the research area. Such gaps are particularly clear in three aspects. First is on the housing location, which is quite far away from the company sites and therefore makes female workers have to spend more money for travelling to their working places. Second, in term of housing condition, many preferences of the female workers are not met. These are happened especially in term of housing size, housing facilities (bathroom, kitchen, and family room), and housing design. Third, in term of price, female workers felt that the housing price is quite expensive. They tend to save their income for other needs rather than for a better housing. The research further explores the factors contribute to such gap and finds that the local government and private sector do not give enough attention to the issue of housing for female workers in the area. The local government has developed a minimum standard, but fail to help the informal housing sector to fulfil such standard. The informal housing sector faces many constraints in providing better housing, particularly access to credit and basic infrastructures. The private sector or the companies view that housing is not their responsibility and therefore do not put any effort to help their female workers to get a better housing. Further, the local government also fail in arranging a better city planning and development, particularly to spatially integrate between industrial areas and housing for the workers. The research recommends that more attention should be given to the housing condition for female workers in Tangerang city. Because the female workers give positive contribution to the economy of the area, both the local government and the private sectors have to support female workers to get a better housing. Local government could improve the basic infrastructures of the housing areas and to make sure that informal housing sector could provide better housing supply. Private sectors or the companies have to support female workers whether by constructing dormitory closed to the factories or by giving some financial support for the female workers.

Kata Kunci : Pekerja Wanita,Perumahan,housing, female worker, housing preference, housing supply, housing demand


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.