Laporkan Masalah

Identifying sustainable indicators through stakeholder consultation :: The Case of Tarakan, East Kalimantan, Indonesia

KUSWORO, Drs. Amrijk Huysman, MA., dan Ir. Bakti Setiawan, MA.,Ph.D

2007 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi indikator – indikator kota berkelanjutan terutama indicator - indikator lingkungan melalui proses konsultasi para pemangku kebijakan dan merupakan penelitian eksploratif dan deskriptif yang menggambarkan dan mengeksplorasi proses - proses pengidentifikasian indikator – indikator lingkungan kota berkelanjutan berdasarkan persepsi para pemangku kebijakan (stakeholders) meliputi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat lokal, akademi, dan swasta. Guna mencapai tujuan tersebut, proses partisipasi yang melibatkan berbagai unsur pemangku kebijakan dilakukan dengan diskusi – diskusi kelompok terfokus dan brutethink di dalam suatu workshop yang terdiri dari 30 partisipan dari 58 partisipan yang diharapkan. Lebih lanjut, suatu wawancara yang mendalam dilakukan untuk mengklarifikasikan dan menjustifikasikan detail indikator yang dihasilkan dari proses diskusi kelompok tersebut. Analisis hasil penelitian meliputi analisis proses partisipasi di dalam manajemen dan perencanaan lingkungan, partisipasi para pemangku kebijakan, dan indikator – indikator lingkungan berdasarkan persepsi - persepsi para pemangku kebijakan. Beberapa temuan utama di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Proses identifikasi dan formulasi indikator - indikator lingkungan sesuai dengan proses program kota berkelanjutan untuk mengangkat partisipasi para pemangku kebijakan. 2. Secara umum, kelompok pemerintah di dalam proses diskusi kelompok lebih antusias dibandingkan dengan aliansi (organisasi kemsyarakatan, LSM lokal, dan akademi), dan kelompok swasta. 3. Indikator – indikator lingkungan yang dihasilkan dari proses diskusi kelompok terfokus dan brutetethink mencerminkan masalah – masalah lingkungan di Kota Tarakan, seperti kualitas air, ketersediaan air bersih, dan daerah resapan air yang merupakan indikator – indikator yang sangat penting. Indikator – indikator tersebut terkait dengan kondisi kurangnya ketersediaan air bersih di lapangan, tingginya kandungan besi di dalam sumber – sumber air, menurunnya ketersediaan air tanah, dan bencana bencana banjir. Indikator – indikator prioritas sesuai dengan karakteristik lokal dan sangat tergantung pada pengetahuan lokal dan rasa bertanggung jawab untuk mengganggap masalah lingkungan yang ada apakah penting atau tidak. Kelompok pemerintah manganggap bahwa lebih dari 50 persen dari indikator yang dihasilkan dalam proses diskusi kelompok merupakan indikator – indikator yang sangat penting untuk ditindaklanjuti, kelompok swasta menganggap bahwa lebih dari 48 persen indikator tersebut merupakan indikator yang tidak penting, dan aliansi (organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat local, dan akademik) menganggap bahwa kurang dari 42 persen indikator tersebut merupakan indikator – indikator yang tidak penting.

This research focuses on the fieldwork-oriented process and aims to identify and formulate environmental indicators of sustainable city of Tarakan based on local characteristics and perceptions of various stakeholders including government, CBOs, local NGOs, academy, and private sector. To achieve this objective, a participatory process that involves various stakeholders was conducted through focus group discussion (FGD) and Brutethink methods in the workshop that was consisted of 30 participants from 58 expected participants. Furthermore, an in-depth interview to clarify and justify detail indicators was conducted. The analysis includes the participatory process in the environmental planning and management (EPM), stakeholder’s participation, and environmental indicators based on stakeholder’s perceptions. There are several main findings: 1. The process of identifying and formulating environmental indicators is appropriate to the SCP process to promote the stakeholder’s participation. 2. In general, the government group is more enthusiasm in the discussion process and consensus on indicator priorities than the alliance (CBOs, local NGOs, and academy) and private sector. 3. Environmental indicators that are resulted from FGD and Brutethink processes reflect environmental problems in Tarakan, such as water quality, clean water availability and encroachment area as very important indicators. They are related to the lack of clean water, the high iron content in the water resources, ground water availability, and flood disaster. Indicator priorities are relevant to the local characteristics and much depends on the local knowledge and sense of responsibility to perceive whether the existing environmental problem is very important or not. The government perceives more than 50 % of very important indicators, the Private sector perceives more than 48 % of not important indicators, and the alliance of CBOs, local NGOs, and academy perceives less than 42 % of not important indicators.

Kata Kunci : lingkungan, indikator, workshop, pemangku kebijakan, partisipasi, environment, indicator, stakeholder, participation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.