Peningkatan kinerja BUMN perkebunan melalui strategi restrukturisasi
HASIBUAN, Akmaluddin, Prof.Dr.Ir. Irham, M.Sc
2007 | Tesis | Magister Manajemen AgribisnisMeskipun BUMN Perkebunan merupakan asset nasional yang sangat potensial sebagai salah satu motor penggerak sektor rill ekonomi nasional, namun pada kenyataannya dewasa ini BUMN Perkebunan belum memberikan kontribusi yang optimal dalam pembangunan ekonomi nasional. Kondisi yang memprihatinkan ini merupakan faktor pendorong penulisan thesis ini dengan tujuan mengidentifikasi keragaan masing-masing BUMN Perkebunan serta model restrukturisasi yang efektif bagi pemulihan kesehatannya sehingga hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi rujukan pemerintah dalam meningkatkan kontribusi BUMN Perkebunan pada pembangunan ekonomi nasional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan metode analisis yang mencakup analisis konsistensi logis hubungan status manajemen aktiva, sistem pemasaran, dengan kondisi keuangan perusahaan dan status model-model restrukturisasi dengan pemulihan kesehatan perusahaan serta analisis komparatif antara status dan kinerja variabel-variabel dari objek penelitian dengan best practices, norma dan benchmarking. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagai akibat dari ketidakefektifan manajemen aktiva berupa kesalahan kebijakan investasi telah menimbulkan kerugian berupa hilangnya hasil produksi tanaman dan hasil olahan sebesar + Rp. 8,1 triliun pada tahun 2006 sehingga BUMN Perkebunan tidak mampu mengoptimalisasi net earning on sales dan berada di bawah Bench mark. Peningkatan hasil penjualan dari + Rp. 108 miliar pada tahun 2002 menjadi + Rp. 1.020 miliar pada tahun 2006 sebagai akibat peningkatan harga jual tidak dapat dimanfaatkan mengoptimalisasi IGF bagi perbaikan likuiditas, solvabilitas dan sarana produksi. Kekurangan modal kerja meningkat dari + Rp. 630 miliar pada tahun 2002 menjadi + Rp. 2.151 miliar pada tahun 2006 dan solvabilitas turun dari DER + 114,26 % pada tahun 2002 menjadi + 197,73 % pada tahun 2006. Berdasarkan data tahun 2006 diketahui kemampuan BUMN Perkebunan dalam menghimpun dana dari operasi dan dana luar adalah sebesar + Rp. 4,94 triliun lebih rendah dari kebutuhan dana yang diperlukan sebagai sumber pembiayaan perbaikan struktur kapital, likuiditas dan pelaksanaan peremajaan tanaman serta rehabilitasi sarana pengolahan dalam mempertahankan kelangsungan usaha yang besarnya + Rp. 10,68 triliun, sehingga terdapat kekurangan dana bagi pemulihan kesehatan BUMN Perkebunan sebesar + Rp. 5,74 triliun. Pada situasi seperti yang dihadapi BUMN Perkebunan dewasa ini, diperlukan adanya suatu formulasi restrukturisasi yang efektif untuk memulihkan kesehatan BUMN Perkebunan.
Even though BUMN Perkebunan (state-owned plantation enterprise) is a national asset which is very potential as one of the generator of national economic real sector, it, in fact, has not yet optimally contributed in the national economic development. This apprehensive condition provides the basis for the writing of this thesis aimed at identifying the multiplicity of BUMN Perkebunan (state-owned plantation enterprise) and the restructuring model which is effective for its revitalization that the government can refer to the result of this study in raising the contribution of BUMN Perkebunan (state-owned plantation enterprise) to the national economic development. This study employs descriptive analytical research method including analyzing the logical consistence of the relationship between the status of asset management, marketing system and company’s financial condition, between the status of restructuring models and company’s revitalization, and comparative analysis between status and performance of the research variables and best practices, norm and benchmarking. The result of this study reveals that because of the ineffective asset management in the form of the inaccuracy of investment policy has result in the loss of plantation produce and processed product for about Rp. 8.1 trillion in 2006 that BUMN Perkebunan (stateowned plantation enterprise) failed to optimize the net earning on sales which was below the benchmark. The increase of net earning from about Rp. 108 billion in 2002 to about Rp. 1,020 billion in 2006 result from the increase of selling price could not be used to optimize the IGF for the improvement of liquidity, solvability and production facilities. Lack of working capital increased from about Rp. 630 billion in 2002 to about 2.151 billion in 2006 and solvability decreased from DER about 114.26 % in 2002 to about 197.73 % in 2006. Based on the data of 2006, it is revealed that the ability of BUMN Perkebunan (state-owned plantation enterprise) in raising fund from the operation and external fund was about Rp. 4.94 trillion lower than the fund needed to be the source for funding the improvement of capital structure, liquidity and the implementation of replanting as well as rehabilitation of the processing facilities in maintaining the business sustainability of about Rp. 10.68 trillion that the fund for BUMN Perkebunan (state-owned plantation enterprise) revitalization lacks about Rp. 5.74 trillion. In this current situation, an effective restructuring formulation is needed for the revitalization of BUMN Perkebunan (stateowned plantation enterprise).
Kata Kunci : BUMN Perkebunan,Kinerja,Restrukturisasi,Effective restructuring process is a strategic first step for a company revitalization