Laporkan Masalah

Evaluasi kinerja keuangan Bank-bank Publik :: Studi perbandingan antara Indonesia, Korea Selatan dan Bangladesh

PARDEDE, Edwindo Denis Morton, Abdul Halim, Prof.Dr.,MBA

2007 | Tesis | Magister Manajemen

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara lebih kritis kinerja bank-bank publik pada 3 (tiga) negara dengan tingkat perekonomian yang berbeda yaitu Bangladesh mewakili negara terbelakang, Indonesia yang mewakili negara berkembang dan Korea Selatan yang mewakili negara maju. Evaluasi kinerja keuangan bank dilakukan melalui analisis deskriptif terhadap aspek permodalan, asset, kualitas asset, dan profitabilitas. Penelitian ini, selain bermanfaat sebagai bahan masukan bagi industri perbankan di Indonesia dalam rangka meningkatkan daya saingnya dalam percaturan industri perbankan secara global, terkait dengan fakta jumlah rata-rata asset bank di Indonesia relatif sangat rendah, juga untuk melihat apakah ada hubungan antara tingkat perekonomian suatu negara dengan kinerja bank-bank pada negara tersebut. Penelitian dilakukan melalui perbandingan data keuangan dari 10 (sepuluh) bank terbesar dari sisi asset pada masing-masing negara selama 3 (tiga) tahun terakhir sejak tahun 2003 sampai tahun 2005 dan perbandingan data ekonomi makro pada periode yang sama dari masing-masing negara. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari penelitian dapat dikemukakan bebarapa hal yaitu bahwa tidak ada kaitan langsung antara tingkat perekonomian suatu negara dengan kinerja bank-bank pada negara tersebut, kecuali menyangkut jumlah asset bank pada negara tersebut. Semakin tinggi tingkat perekonomian suatu negara semakin tinggi jumlah rata-rata asset bank pada negara tersebut dan sebaliknya. Bank-bank di Indonesia walaupun memiliki jumlah asset yang lebih rendah dari bank-bank di Korea Selatan namun memiliki kinerja operasional yang relatif lebih baik khususnya dari sisi Net Interest Margin(NIM), Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE) meskipun kualitas asset produktif tergolong lebih rendah yang tercermin dari tingkat pencadangan piutang yang lebih tinggi. Hal yang perlu diperhatikan oleh industri perbankan di Indonesia, selain peningkatan efisiensi kegiatan operasional mengingat cost to income ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan bank-bank di Korea Selatan, juga perlu untuk mendorong pertumbuhan kredit ke sektor riil. Tingginya NIM pada bank-bank di Indonesia patut diwaspadai karena hal ini mengindikasikan masih tingginya jumlah kredit yang disalurkan ke sektor konsumtif.

This research is intended to critically evaluate the performance of public banks in 3 (three) countries with different economical status. Bangladesh represents least developed countries, Indonesia represents developing countries and South Korea represents developed countries. Evaluation of each bank performance was done through descriptic analysis of capital, assets, assets quality and profitability aspects. While useful as input to banking industry in Indonesia in order to escalate its competency in global banking industries competition, this research can also be used to observe whether there is a connection between a country’s economic status with its bank performance. This research was done by comparation of monetary datas of 10 (ten) biggest banks in term of assets in each country for 3 (three) years (2002 – 2005) and by comparation of macro economic datas in each country in the same period. Analysis of the datas acquired shows that except for the total assests of banks, there is no direct connection between economic status of a country with performance of banks in that country. Banks in better developed countries have higher total assets. Indonesian banks have lower total assest compared to South Korean banks, but Indonesian banks have relatively better operational performance especially in Net Interest Margin (NIM), Return On Assets (ROA) and Return On Equity (ROE) eventhough the quality of productive assets, which reflected from higher account receivable reservation, is lower in Indonesian bank. Things to be concerned by Indonesian banking industry are the need of escalating operational activities efficiency considering higher cost to income ratio compared to South Korean Banks and the need of encouraging credit growth to real sectors. High NIM in Indonesian banks is a caution because it indicates a lot of credits is still spent in consumtive sectors.

Kata Kunci : Kinerja Keuangan,Evaluasi,Bank,bank Publik


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.