Perilaku ideal kewargaan organisasi dan kepuasan kerja karyawan beserta faktor pengaruhnya
OETOMO, Hasan, Promotor Prof.Dr. Asip F. Hadipranata
2007 | Disertasi | S3 Ilmu PsikologiKetidakpuasan kerja karyawan, polemik dan perselisihan antara karyawan dan pengusaha seakan-akan tidak berkesudahan, menjadi sajian masyarakat setiap hari. Manifestasi dalam bentuk pemogokan, tuntutan, perselisihan dan bahkan kadang-kadang dalam bentuk kekerasan anarkis membuat hari depan dunia usaha di Indonesia menjadi lebih suram. Di sisi lain perilaku ideal kewargaan organisasi karyawan (OCB) makin sulit dijumpai, pihak karyawan maupun pengusaha lebih cenderung mendahulukan kepentingan masing-masing dan mengabaikan pihak lain. Perolehan besaran serta pemahaman peran faktor lain yang mempengaruhi OCB dan kepuasan kerja karyawan dapat dipergunakan untuk lebih memahami kondisi karyawan, bahan merencanakan strategi pengembangan sumber daya manusia dengan lebih baik, analisis permasalahan lebih akurat, pola pengembangan kerjasama dan penyesuaian yang lebih efektif. OCB juga dapat dipergunakan untuk menilai sejauhmana hubungan industrial karyawan dan perusahaan, sebagai mitra usaha dan secara makro sebagai indikator psikologis tingkat kemakmuran suatu bangsa. Total populasi Karyawan Staff & Supervisor ke atas dari 20 perusahaan di Jogya, Solo, Kediri, Semarang, Surabaya, Jember Jakarta, Malang, dan Denpasar sebanyak 451 responden dipergunakan sebagai sampling penelitian. Pemilihan lini menengah keatas antara lain karena peringkat ini memegang kendali sumberdaya manusia di perusahaan. Data diperoleh sebagai hasil pengumpulan kuesioner, wawancara, dan dokumentasi dari bulan Januari-Maret 2005, pendekatan dengan manajemen perusahaan dilakukan sejak tahun 2003. Skala pengukuran menggunakan cara Likert’s Summated Rating Scale dengan menggunakan program statistik AMOS 5, SPS 2000, SPSS 13, dan Excell Office 2007. Hasil penelitian menyajikan bahwa OCB belum berlaku sepenuhnya pada perusahaan karena responden terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan adanya cognitive dissonance yang menjadi masalah responden. Masalah ini timbul karena kondisi ekonomi di Indonesia belum kondusif dan lapangan kerja yang masih kurang memadai. Faktor rasa keadilan memiliki peran penting terhadap kepuasan kerja dan perlu untuk dikembangkan, dan imbalan ekstrinsik serta dukungan perusahaan masih dirasakan kurang. Faktor kepuasan kerja, kepemimpinan, dukungan perusahaan, dan faktor lainnya tidak berpengaruh terhadap faktor kepuasan kerja dan OCB. Aspek kearifan lokal (local wisdom) masih menjadi norma acuan perilaku. Besarnya rerata skor variabel yang diteliti relatif berbeda pada jenis usaha perdagangan, industri dan jasa, kecuali kepuasan kerja. Skor variabel kelompok perdagangan rata-rata memiliki nilai lebih tinggi. Pemerintah hendaknya lebih berperan aktif menciptakan iklim ekonomi yang lebih kondusif untuk mencegah â€meledaknya†ketidakpuasan kerja karyawan, dan meningkatkan peringkat mutu sumberdaya manusia Indonesia.
The employees’ job dissatisfaction and disagrement between employees and business owners do not seem to have an end, and it becomes daily routine of the consumption of society. Manifestation in the form of strike, demand, disagreement and sometimes anarchist violence makes the future of Indonesia’s corporate world bleaker. On the other hand, the organizational citizenship behavior (OCB) nowadays is more difficult to find. Employees and Business Owners incline more on their respective needs and ignore each other’s need. The result and the other factors of comprehended role that influences OCB can be used to understand employees’ condition, human resources development planning and strategy, accurate problem solving analysis, pattern of agreement development and the effective adjustment. OCB can be used to evaluate how far the relationship between industrial employee and company, employee’s effort as a partner and as psychological indicator of national welfare. The total employees’ population, including staff and supervisor is taken from 20 companies in Yogya, Solo, Semarang, Jember, Jakarta, Surabaya, Malang, Denpasar. As many as 451 persons are used as research sampling. The middle up segmentation is used because this level has an important position affecting to labor as well as the management of the company. Data were taken as the result of quesionnaire, interview and documentation from January – March 2005, and the approach with the company management since 2003 . Likert Summated Rating Scale with seven scores is being used as a measurement scale, using statistical analysis program AMOS 5, SPS 2000, SPSS 13 and Excel Office 2007. The result represents that OCB is not yet fully operated in company because respondents work either due to being forced to fulfull life’s need and the existence of cognitive dissonance that become the respondents’ problem. This problem arises because of uncondusive economic condition in Indonesia and not enough work fields. The factor sense of justice has an important value towards job satisfaction and has to be developed. The respondents also feel that the extrinsic salary and company support factor is still lack of. The job satisfaction, leadership, perceived organizational support and others, do not have influences towards the job satisfaction and OCB. Local wisdom is being used as a working norm and value. However, score value of the factors that have been observed seem difference the field of business trading, industry and service, except job satisfaction. Business trading has a higher score than others. The government should involve more to create better conducive economic climate to prevent “the explosion†of the employees’ job dissatisfaction, and to increase Indonesian’s human development index.
Kata Kunci : Perilaku Ideal, Kewargaan Organisasi, Kepuasan Kerja, OCB, local wisdom, cognitive dissonance, measurement model, structural model, total-direct-indirect standardized effect.