Evaluasi penerapan ransum yang diformulasi berdasarkan sistem protein tercerna di Intestinum untuk meningkatkan pemanfaatan nutrien pada ruminansia dengan pakan basal jerami padi
NUSWANTARA, Limbang Kustiawan, Promotor Prof.Dr.drh. Mohamad Soejono, M.Sc.,MS
2007 | Disertasi | S3 Ilmu Pertanian (Peternakan)Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi ransum yang diformulasi berdasarkan sistem protein tercerna di intestinum (PDI) pada sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) dengan pakan basal jerami padi. Manfaat dari penelitian adalah memberikan informasi tentang sistem evaluasi protein yang lebih akurat untuk meningkatkan pemanfaatan nutrien pada ruminansia. Penelitian terdiri dari tiga penelitian dan dilaksanakan di Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Penelitian pertama menggunakan 6 ekor sapi PFH yang difistula pada bagian rumennya, digunakan untuk studi degradasi bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK) dan neutral detergent fiber (NDF) secara in sacco dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Penelitian kedua menggunakan 5 ekor sapi PFH yang difistula pada bagian rumennya, digunakan untuk mengkaji parameter fermentasi rumen (pH, NH3, VFA total, asam asetat, asam propionat dan asam butirat) dengan menggunakan rancangan cross over design. Penelitian ketiga menggunakan 15 ekor sapi PFH tidak berproduksi untuk studi kecernaan secara in vivo dan estimasi sintesis protein mikrobia. Sapi yang digunakan pada penelitian ini berumur 2,5 sampai 3 tahun dengan bobot badan 250 – 300 kg. Ransum yang digunakan disusun sedemikian rupa sehingga terdapat tiga macam ransum yaitu ransum dengan prekursor nitrogen tinggi (PDIN), ransum dengan prekursor energi tinggi (PDIE) dan ransum dengan prekursor nitrogen dan energi seimbang (PDIS). Penelitian ketiga masing-masing ransum diterapkan pada 5 ekor ternak dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Variabel yang diamati pada penelitian pertama meliputi degradasi BK, BO, PK dan NDF ransum. Variabel yang diamati pada penelitian kedua adalah kondisi pH, konsentrasi NH3, VFA, asam asetat, asam propionat, asam butirat. Variabel yang diamati pada penelitian ketiga meliputi konsumsi dan kecernaan BK, BO, PK, NDF dan acid detergent fiber (ADF) serta sintesis protein mikrobia. Data yang diperoleh dianalisis variansi, dan jika terdapat perbedaan pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata degradasi teori bahan kering (DT BK), bahan organik (DT BO), protein kasar (DT PK) dan neutral detergent fiber (DT NDF) pada sapi PFH yang diberi ransum PDIN (55,75, 56,44, 73,50, dan 46,65%) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding sapi PFH yang diberi ransum PDIS (45,42, 49,47, 62,8, dan 42,64%) dan PDIE (44,72, 45,11, 49,57, dan 41,22%). Degradasi teori BK, BO, PK, dan NDF pada sapi PFH yang diberi ransum PDIS nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding yang diberi ransum PDIE. Konsentrasi NH3 pada sapi perah yang mendapat ransum PDIN (12,99) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding pada PDIE (6,74) dan PDIS (8,61 mmol/100 ml), konsentrasi NH3 pada sapi yang diberi ransum PDIS lebih tinggi (P<0,05) dibanding pada sapi yang mendapat ransum PDIE tinggi. Konsentrasi VFA pada sapi perah yang diberi ransum PDIE (88,53) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding yang diberi ransum PDIN (80,94) dan PDIS (78,94 mmol/l), namun demikian antara ransum PDIN dan PDIS tidak berbeda nyata. Proporsi asam asetat, asam propionat dan asam butirat pada ketiga ransum tidak menunjukkan perbedaan nyata. Kondisi pH pada ketiga ransum relatif sama. Ransum PDIN memberikan konsentrasi NH3 tertinggi, sedangkan konsentrasi VFA tertinggi pada ransum PDIE. Konsentrasi NH3 dan VFA masih dalam kisaran normal untuk pertumbuhan mikrobia rumen. Rata-rata konsumsi BK, BO, PK, NDF, dan ADF pada sapi PFH yang diberi ransum dengan kandungan PDIE (136,22, 120,25, 23,82, 101,04 dan 54,62 g/BBM) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding sapi PFH yang diberi ransum PDIN (111,57, 97,88, 18,04, 88,69, dan 42,23 g/BBM) dan PDIS (121,05, 106,67, 17,42, 92,87, dan 44,46 g/BBM). Kecernaan bahan kering dan ADF pada ransum PDIS (59,49 dan 50,45%) lebih tinggi (P<0,05) dibanding ransum PDIE (58,75 dan 39,57%) dan PDIN (57,19 dan 28,98%). Kecernaan bahan organik, protein kasar dan NDF pada sapi PFH yang diberi ransum PDIN (70,07, 70,00, dan 68,80%) lebih tinggi (P<0,05) dibanding pada sapi yang diberi ransum PDIE (67,41, 61,12, dan 60,17%) dan PDIS (66,86, 67,48, dan 63,93%). Ekskresi derivat purin pada ransum PDIN (61,89 mmol/hari) nyata lebih tinggi (P< 0,05) dibanding ransum PDIE (42,55 mmol/hari) dan PDIS (26,35 mmol/hari). Estimasi sintesis protein mikrobia (g N/kg BOTR) pada ransum PDIN (15,19) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibanding pada ransum PDIE (7,60) dan PDIS (4,43). Dapat disimpulkan bahwa penggunaan ransum PDIS belum mampu meningkatkan pemanfaatan nutrien pada sapi perah dengan pakan basal jerami padi. Kata Kunci : Degradasi, Parameter Fermentasi Rumen, Konsumsi, Kecernaan, Protein Mikrobia , Ransum, Sapi PFH
The research was conducted to investigate application of formulated ration based on digestible protein in the intestine (PDI) system at Friesian Holstein crossbreed (PFH) with rice straw as basal feed. The benefit of the research was to inform about more accurate protein evaluation system to increase nutrient utilization in ruminants. The research consisted of 3 experiments and conducted at Department of Animal Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Science, Gadjah Mada University. The first experiment used 6 heads of fistulated cattle, for studying dry matter (DM), organic matter (OM), crude protein (CP) and neutral detergent fiber (NDF) degradation using in sacco method, using completely randomized design. The second experiment used 5 heads of rumen fistulated cattle, used to investigate rumen fermentation parameter (pH, NH3, total VFA, acetic acid, propionic acid and butyric acid) using cross over design. The third experiment used 15 heads of non productive PFH cattle for studying in vivo digestibility and estimation of microbial protein synthesis. Cattle used in this experiment were 2.5 until 3 years old with 250 – 300 kg body weight. Ration used were arranged, thus there were 3 kinds of ration i.e. ration with high nitrogen precursor (PDIN), ration with high energy precursor (PDIE) and ration with balanced nitrogen and energy precursor (PDIS. In the third experiment, each ration was applied at 5 heads of PFH cattle using completely randomized design. Variable measured in the first experiment consisted of DM, OM, CP and NDF ration degradabilities. Variable measured in the second experiment were pH, NH3, VFA, acetic acid, propionic acid and butyric acid concentration. Variable measured in the third experiment were DM, OM, CP NDF and ADF intake and digestibility and microbial protein synthesis. Collected data were analyzed in variance analysis, and continued with Duncan’s Multiple Range Test if there were significance different among treatments. Results of the experiment showed that the average of theoretical degradation of dry matter (TD DM), organic matter (TD OM), crude protein (TD CP) and neutral detergent fiber (TD NDF) of PFH cattle fed PDIN ration (55.75, 56.44, 73.50, and 46.65%) were significantly higher (P<0.05) compared to PFH cattle fed PDIS ration (45.42, 49.47, 62.8, and 42,64%) and PDIE ration (44.72, 45.11, 49.57, and 41,22%). Theoretical degradation of DM, OM, CP and NDF of PFH cattle given PDIS ration were significantly higher (P<0.05) compared to PDIE ration. NH3 concentration of PFH cattle given PDIN ration (12.99) was significantly higher (P<0.05) compared to PDIE (6.74) and PDIS ration (8.61 mmol/100 ml). NH3 concentration of PFH cattle given PDIS ration was significantly higher (P<0.05) compared to PDIE ration. VFA concentration of PFH cattle given PDIE ration (88.53) was significantly higher (P<0.05) compared to PDIN (80.93) and PDIS (78.94 mmol/l); however, there were no significant difference between PDIN and PDIS. There were no significant difference of acetic, propionic and butyric acid proportion on the three ration. pH condition on the three ration were relatively the same. PDIN ration gave the highest NH3 concentration, however PDIE ration gave the highest VFA concentration. NH3 and VFA concentration were in the normal range for the growth of rumen microbes. The average of DM, OM, CP, NDF and ADF intake of PFH cattle fed PDIE ration (136.22, 120.25, 23.82, 101.04 and 54.62 g/MBW) was significantly higher (P<0.05) compared to PFH cattle fed PDIN ration (111.57, 97.88, 18.04, 88.69, and 42.23 g/MBW) and PDIS ration (121.05, 106.67, 17.42, 92.87, and 44.46 g/MBW). DM and ADF digestibility of PDIS ration (59.49 and 50.45%) was higher compared to PDIE ration (58.75 and 39.57%) and PDIN ration (57.19 and 28.98%). OM, CP and NDF digestibilities of PFH cattle fed PDIN ration (70.07, 70.00, and 68.80%) were significantly higher (P<0.05) compared PDIE ration (67.41, 61.12, and 60.17%) and PDIS ration (66.86, 67.48, and 63.93%). Purine derivative excretion of PDIN ration (61.89 mmol/day) was significantly higher (P<0.05) compared to PDIE ration (42.55 mmol/day) and PDIS ration (26.35 mmol/day). Estimation of microbial protein synthesis (g N/kg DOMR) of PDIN ration (15.19) was significantly higher (P<0.05) compared to PDIE ration (7.60) and PDIS ration (4.43). It was concluded that using of PDIS ration could not increasing nutrient use of dairy cattle with rice straw as basal feed.
Kata Kunci : Ransum Ternak,Pencernaan Ruminansia,Nutrien,Pakan Basal Jerami Padi