Laporkan Masalah

Dinamika Kelompok Tani dalam upaya meningkatkan pendapatan anggota :: Studi penelitian tentang kelompok tani Mendawai Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah

ANWAR, Kaspul, Drs. Djoko Suseno, SU

2007 | Tesis | S2 Sosiologi (Kebijakan dan Kesejahteraan Sosial)

Kehidupan masyarakat di negara berkembang selalu tidak dapat dilepaskan dari aktivitas pertanian, termasuk di Indonesia. Sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, meskipun dewasa ini perhatian pemerintah mulai bergeser kepada industrialisasi. Hanya saja meskipun sebagian besar penduduk Indonesia hidup dari bertani, namun pada kenyataannya masih banyak yang belum beranjak dari lingkaran kemiskinan. Hal ini ditandai dengan produktivitas pertanian yang masih rendah dan belum berhasilnya meningkatkan pendapatan dalam rumah tangga petani. Sebab rumah tangga petani di Indonesia didominasi oleh petani gurem yang tidak memiliki lahan yang luas. Rendahnya produktivitas pertanian tersebut terjadi pada banyak wilayah di tanah air, termasuk di Kabupaten Kotawaringin Barat. Padahal bila melihat fakta di masa lalu, seperti halnya negeri ini yang pernah mencapai swasembada beras, produktivitas pertanian di Kotawaringin Barat juga pernah mencapai hasil serupa. Namun ternyata swasembada beras yang dihasilkan melalui “Revolusi Hijau”, selain telah mencapai swasembada beras sejak 1984, juga telah menggoyahkan pranata distribusi “pemerataan patronklien”, tekanan penduduk dan orientasi pemodal berpihak kepada petani lapisan atas. Kuatnya peranan negara, persebaran teknologi mengukuhkan kesenjangan sosial. Keadaan demikian akibat adanya konsolidasi penguasaan sawah dan kekuasaan di desa serta terintegrasinya dengan perekonomian nasional. Khusus di Desa Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat upaya peningkatan produktivitas pertanian terus diupayakan melalui pembentukan kelompok tani yang dianggap mampu melakukan aktivitas bersama di antara anggotanya untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus dapat meningkatkan pendapatan anggotanya dan mewujudkan peningkatan kesejahteraan. Keberadaan kelompok tani Mendawai Raya sedapat mungkin telah mampu mengusahakan sebuah aktivitas bersama dengan mengolah usaha tani pada satu hamparan dengan komoditi yang telah ditentukan bersama. Namun hingga saat ini upaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian masih terkendala dengan masalah permodalan, lahan yang kurang subur, harga pupuk dan pestisida yang kurang terjangkau, dan minimnya ketersediaan bibit unggul. Lebih parah lagi perhatian pemerintah terhadap masalah yang dihadapi oleh para petani dan kelompok tani belum sesuai dengan harapan. Pemerintah dirasakan belum serius menangani permasalahan yang menghinggapi para petani. Dengan demikian petani di Mendawai masih belum dapat meningkatkan produktivitas pertanian ke arah yang lebih baik. Kelompok tani Mendawai Raya juga masih belum dapat meningkatkan pendapatan anggotanya, dikarenakan belum dapat mengatasi masalah permodalan, penyediaan bibit unggul, lahan yang kurang subur dan kurang terjangkaunya harga pupuk dan pestisida. Tetapi satu hal yang dapat dijadikan satu kekuatan bagi kelompok tani Mendawai raya adalah bahwa mereka telah mampu menghidupkan kelompok tani dengan menjalankan usaha tani secara bersama, mengusahakan satu macam komoditi dalam satu hamparan.

People life in developing countries such in Indonesia can’t be released from agriculture activities. Most of Indonesian people’s life depends on agriculture, although the government start to focus in industrialization. In fact, poverty is still happened in Indonesia even though there are so many people life as a farmer. It caused by low agriculture productivity, low farmer income, and the domination of “gurem” farmer. They only have small fields. It happened in so many places in Indonesia, such in Kotawaringin Barat Regency. Whereas in this regency ever reached self-supporting rice since 1984 which resulted by Green Revolution. It make distribution regulation “patron client distribution”, people pressure and capitalist oriented and it has been changed and take sides in high class farmer. The power of role states and the spread of technology strengthen the discrepancy. It caused by field authority consolidation and power in village along with their integration in National Economics Matters. Increasing agriculture activity and their members income in Mendawai Village, East Arut Sub district, Kotawaringinbarat Regency, done by forming a farmer group called Mendawai Raya. So far, this destination constrained with financial capital problem, unprosperous fields, unreached price of fertilizer and pesticide and unavailability superior seeds. In serious condition, the government attention about this farmer and farmer group problems inappropriate with the expectation. It seems that the government unserious handled so many farmers’ problems. Thus, farmer in Mendawai can’t increase their agriculture productivity and their member income too. It cause by unsolved financial capital problem, superior seeds supplying, unprosperous fields, unreachable price of fertilizer and pesticide. Reviving farmer group by doing farmer work together and carry on one kind of commodity in one field are the power of Mendawai Raya farmer group.

Kata Kunci : Rumah Tangga Petani,Pendapatan Petani,Kelompok Tani,Agriculture, Farmer, Farmer Group


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.