Perlindungan anak jalanan di rumah singgah Yogyakarta
DARMANTO, Eko, Dra. Agnes Sunartiningsih, MS
2007 | Tesis | S2 Sosiologi (Kebijakan dan Kesejahteraan Sosial)Anak Jalanan menjadi permasalahan sosial yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus dari pemerintah dan masyarakat, karena anak harus mendapatkan perlindungan baik pendidikan, kesehatan, keamanan, bebas dari kekerasan dan eksploitasi dan lainnya. Mereka menjadi anak jalanan karena faktor ekonomi (kemiskinan), masalah keluarga, broken home, perceraian orang tua atau keluarga sering cekcok, dalam diri anak itu sendiri dan lingkungan tempat tinggal.Rumah singgah sebagai model penanganan anak jalanan sebagai wujud dari partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan anak jalanan, tetapi faktanya menunjukan bahwa rumah singgah masih belum menjadi pilihan utama bagi anak jalanan. Perspektif labeling bagi anak jalanan karena mereka membentuk komunitas yang unik dengan perilaku yang menyimpang dari norma-norma masyarakat pada umumnya dan menunjukan ciri-ciri khusus dalam penampilannya tidak seperti anak pada umumnya, misalnya warna kulit dan pakaian kusam dan kumal, potongan rambut nyentrik atau tak terurus, sopan santun dan rasa malu kurang sehingga muncul stigma masyarakat yang negatif, rumah singgah sebagai lembaga sosial masyarakat yang memberikan perlindungan kepadaanak jalanan dapat menjadi penghubung dalam rangka menghapus stigma negatif itu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengelolaan rumah singgah dalam memberikan perlindungan kepada anak jalanan, potensi dan permasalahan apa yang ada sehingga diperoleh strategi dan model yang tepat dalam mengelola rumah singgah. Penelitian dilakukan dengan metode diskriptif kualitatif dengan menggunakan informan dari Dinas Sosial, Pengelola Rumah Singgah dan anak jalanan rumah singgah. Hasil penelitian menunjukan bahwa rumah singgah telah melakukan perlindungan anak jalanan melalui program-program penjangkauan dan asesment, penyediaan rumah,resosialisasi, bidang pendidikan antara lain pemberian bea siswa, tutorial, menyelenggarakan kejar paket, vocational; training, bantuan modal usaha dan bantuan mendapatkan pekerjaan, bimbingan mental dan sosial bantuan permakanan, pelayanan kesehatan antara lain pembelajaran hidup sehat dan pengobatan bagi yang menderita sakit, program rekreatif antara lain kesenian, musik, olah raga dan rekreasi, juga terminasi/pengakiran layanan bagi anak yang telah mampu untuk bekerja atau kembali ke keluarga. Kendala yang ada karena karakteristik permasalahan yang tergolong berat dalam menangani anak jalanan dan terbatasnya sarana prasarana dan kemampuan dana disamping terbatasnya kuantitas dan kualitas pengelola rumah singgah. Disarankan agar rumah singgah mengintensifkan strategi pendampingan, penegasan kembali fungsi rumah singgahdan pengembangan kapasitas kelembagaan, pemerintah dapat menentukan kebijakan yang konsisten dan memberikan support dana yang memadai serta agar anak jalanan mau berubah dan percaya diri melakukan usaha-usaha yang normatif untuk masa depannya.
Street kids present social problems needed special attention from the government and general public, since they need protection, education, healthcare, security, being free from violence and exploitation, etc. They became street kids because of many factors such as economy (poverty), family problems, broken home, divorced parent or frequent parents fighting, the character of the child and the neighborhood. A stop-in house as a treatment model for street kids embodies the social participation in effort to protect the street kids. The fact, however, demonstrated that stop-in houses have not become their main choice yet. On the one hand, the labeling of street kids existed as they constituted a unique community with their own behavior that deviated from the social norms and exhibit distinctiveness on the way they look. On the other hand, a stop-in house as a social institution, intended to treat and protect them, tried to maintain its capacity as social institution. The current study was aimed to explicate the management of stop-in houses in their function as the shelter for street kids, their potential and the problem they confronted, and, thus, to find the appropriate strategy and model to manage the stop-in houses. The study employed qualitative descriptive method with the informants from the Social Department (Dinas Sosial), Management of Stop-in Houses and street kids who live in stop-in houses. The results demonstrated that stop-in houses have already provide the street kids with protection through extension and assessment programs, provision of stop-in houses, and re-socialization. Furthermore, educational assistance consist of fellowship program, tutorial, short courses, vocational training, and provision of financial capital and job finding assistance; mental counseling and social assistance for funeral. Healthcare assistance consists of healthy live tutorial and medication for those who were ill. Recreational program comprise of courses in art, music, and sport. In addition, termination of service for those who are already employed or those who want to go back to their families. The obstacles are limited facility and infrastructure and financial capacity, as well as the limitedness of quantity and quality of the stop-in houses management. It is recommended to the management of stop-in houses to intensify the strategy of advocacy, restate the function of stop-in houses, and develop their institutional capacity. Toward this goal, the government might implement the consistent policy and provide adequate financial assistance. And, finally, the street kids are expected to make change and to develop their confidence in their normative effort for their brighter future.
Kata Kunci : Anak Jalanan,Perlindungan,Rumah Singgah,street kids, shelter, stop-in house