Kuasa Raja Monarki :: Mudaffar Syah di era kegilaan lokalisme
MUHDAR, Rustam, Prof.Dr. Tadjuddin Noer Effendi
2007 | Tesis | S2 SosiologiJATUHNYA Soeharto pada 1998 tidak saja menandai politik lokalisasi republik tapi juga ikut menguatkan kekuatan sosial politik kultural keraton Nusantara sebagai dua keniscayaan kegilaan lokalisme yang saling merapat. Studi tesis ini karena itu memotret dua area itu sekaligus dalam kasus politik kulturalisme raja Ternate, Mudaffar Syah. Rentang waktunya adalah lima tahun pertama pasca Soeharto (1998-2002) untuk melihat bagaimana keterlibatan Mudaffar Syah dalam tiga periode pergolakan. Yakni, pemekaran propinsi Maluku Utara (1998- 1999); perang sipil (1999-2000); dan suksesi kepala daerah (2001-2002). Oleh karena itu, tujuan studi ini adalah ingin membaca strategi posisional Mudaffar Syah: sebagai raja dan politisi garis depan di Maluku Utara. Studi tesis ini karena itu mengelaborasi gagasan Michel Foucault tentang kegilaan, kuasa, tubuh raja monarki, dan tubuh sosial republik sebagai perangkat analisis teoritik. Karena itu, perspektifnya adalah studi sejarah dengan menggunakan metode penelitian kajian wacana kritis. Jenis data yang diperlukan adalah model wacana yang akan ditelusuri dengan teknis wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Hasil studi tesis ini menunjukkan bahwa titik pacu semua dinamika sosial politik lokal adalah produk wacana imajiner. Wacana paling pertama adalah soal pemekaran propinsi menghipnotis masyarakat dalam usaha perjuangan tanpa henti. Dalam kasus ini, untuk dapat tampil sebagai gubernur otomatis, model wacana Mudaffar Syah adalah nama propinsi Moloku Kie Raha, model Daerah Istimewa, dan paket ibu kota Ternate-Sidangoli. Selain Ternate yang berhasil dijadikannya sebagai ibu kota transisi, wacana Mudaffar Syah dikalahkan di semua area oleh wacana tandingan elit kwartet Tidore Makian. Namun, kansnya menjadi gubernur tetap yang paling berpeluang karena narasi tubuh rajanya yang karismatik. Pada posisi inilah, perang sipil adalah sebuah usaha pendelegitimasian Mudaffar Syah oleh lawan-lawan politiknya di level basis sosial dan negara. Akibatnya, pada periode suksesi 2001-2002, kemenangan Abdul Gafur yang diusung Mudaffar Syah mengundang resistensi keras masyarakat sementara pencalonan dirinya dalam paket Gafur gagal mendapat restu dari presiden Megawati dan mendagri Hari Sabarno.
The fall of Soeharto, in 1998, not only signified localizing politic of the republik of Indonesia but also stregthened social political and cultrual power of keraton Nusantara. The sign and strength are as two certanties of localism madness which are closed one to another. This thesis study, therefore, focuses on the both areas and case of culturism politic of the king of Ternate, Mudaffar Syah. The range was the first five years of post administration of Soeharto (1998-2002). It is in order to observe the involvements of Mudaffar Syah within the three periods of disturbance. The periods were the development of northern Maluku (1998-1999), civil war (1999-2000), and succession of governor (2001 -2002). Therefore, the purpose of the study is to observe the dualism strategy on position of Mudaffar Syah in the disturbances as a king and a front line politician in northern Maluku. This tesis study elaborates Michel Foucault’s idea on madness power, king’s body of monarchy, and the social body of republic as a set of theoritical analyzes. Its perspective is a historical study research method of critical issue study. The required data are discourse models which are traced by comprehensive technical indeep interview, bibliography study, and documentation. The result of the study shows the starting point of the all of the local political social dynamic is an imaginary discourse. The preliminary discourse was on the province development which hypnotized society in an endless struggle. In this case, in order to be able to perform as an automatic governor Mudaffar Syah’s discourse model was the name of Moloku Kie Raha, a special teritory model, and an integrated capital city of Ternate-Sidangoli. In addition to Ternate as a transitional capital, all Mudaffar Syah’s discourse were beaten by rival discourse of kwartet elites of Tidore Makian. Still, his chance for governor was widely apened since his performance of body which was charismatic. In the social-based level and the state-based level. As the consequences, in the period of succession 2001-2002, the success of Abdull Gafur which was supported by Mudaffar Syah resulting resistency in society. In the mean time, his candidacy in Gafur’s package failed in achieving approval of president Megawati and of the minister of internal affairs Hari Sabarno.
Kata Kunci : Pergolakan Politik Lokal,Kegilaan Lokalisme,Monarki, rationality, power discourse, king body of monarchy, republic, localism madness