Laporkan Masalah

Struktur naratif 9 Oktober 1740 karya Remy Silado :: Sebuah kajian poskolonial

LILIANI, Else, Prof.Dr. Imran T. Abdullah

2007 | Tesis | S2 Sastra

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan struktur naratif naskah drama 9 Oktober 1740 karya Remy Silado yang meliputi aspek fokalisasi, ruang dan waktu, ras atau tubuh, serta posisi naskah drama dalam perspektif poskolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) naskah drama ini menggunakan fokalisasi ekstern dan intern. Fokalisasi ekstern dilakukan juru cerita dalam menggambarkan setting tempat atau peristiwa. Setiap tokoh dalam naskah drama ini berkesempatan untuk memfokalisasikan visi dan pandangannya terhadap persoalan kolonialisme. dari tokoh yang ada dalam naskah yang dikaji, Hein de Wit dan orang-orang Cina adalah tokoh yang sering berfokalisasi. Mereka setuju bahwa pejabat Belanda yang menyalahgunakan wewenang untuk berdagang dan berpolitik adalah penjajah yang sebenarnya. Mereka juga sepakat bahwa batas-batas kebangsaan tidak perlu dipertegas, kemanusiaan yang perlu dijunjung tinggi. (2) Timur menjadi tempat temuan Barat yang digunakan untuk mengukuhkan eksistensi Barat sebagai Sang Diri yang memiliki hak untuk mendominasi dan mengungguli Timur sebagai Sang Lain. Masa lalu merupakan gambaran dari penindasan Barat (Belanda) atas Timur (Cina). Masa kini merupakan upaya peleburan budaya antara Cina-Jawa dan Cina-Belanda yang sulit terjadi. Masa depan merupakan kelanjutan dari masa kini, menggambarkan ketidakpastian kemungkinan berhasilnya proses peleburan budaya. (3) Barat (Belanda) tampil sebagai ras yang unggul atas Timur yang menjadi jajahannya. Jawa dan Cina adalah sekelompok ras yang terjajah. Timur dinilai sebagai sekelompok manusia yang aneh, bodoh, rendah, dan karenanya patut untuk dijajah. Cina tampil sebagai bangsa yang terbuka dan mudah menyesuaikan diri daripada Jawa yang dinilai tertutup dan arogan. Dalam perspektif poskolonial, naskah drama 9 Oktober 1740 karya Remy Silado menunjukkan sikapnya yang ambivalen. Naskah ini melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, tapi sekaligus terhegemoni oleh wacana-wacana kolonial. Kolonialisme dan kebangsaan tidak dinilai sebagai kejahatan. Kejahatan yang sebenarnya berupa penyalahgunaan atas kewenangan yang dimiliki pejabat pemerintahan kolonial yang korup.

This study aims to describe and explain the narrative structure of 9 Oktober 1740 written by Remy Silado. The study covers focalization, space and time, race or body, and the position of script of drama through postcolonial perspective. This study shows that: (1) this script has extern and internal focalization. External focalization is used to describe the setting of the story. Each chacacter has their right to focalize their vision and their view due to the problem of colonialism. Hein de Wit and the Chinese are the characters most focalizing. They agree that the Dutch Colonial is blamed for their irresponsibility to organized the colonial government instead of merchant and politic. They also agree that the border of nation should not mark the interactions among them, but humanity does. (2) The East is a found place by The West to make their existance exist as The Self that dominates on East as The Other. The past describes the Dutch repression among the Chinese, while the present describe the process of assimilation between Javanese-Chinese and Chinese-Dutch that has not succeeded yet. The future is continuation of the present: it describes that the result of assimilation is fading away. (3) The West (The Dutch) appear as the dominant race beyond the East dominated by them. Javanese and Chinese are the colonialized races. The East respects as a collective of dummy, uncivilized, strange people and that why they deserve to be colonialized. The Chinese appear as an opened race and easy to have adjust themselves, rather than the Javanese who is noted as an arogant and inferior race. In postcolonial perspective, the script of Remy Silado’s drama 9 Oktober 1740 shows it ambivalence. This script has its struggle upon the Dutch Colonialism, but it is also dominated and hegemonized by colonialism discourses. Colonialism and nation are not valued as a crime. The real crime is an irresponsible misuse owned by the corrupted colonial government.

Kata Kunci : Sastra Indonesia,Naskah Drama Remy Silado,Struktur Naratif,drama, focalization, space and time, race or body, and postcolonial study


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.