Efektivitas pelatihan kecerdasan emosi terhadap peningkatan komunikasi terapeutik mahasiswa keperawatan-pasien :: di Akper Pemda Kapuas Kalimantan Tengah
YEYENTIMALLA, Dr. Sofia Retnowati, MS
2007 | Tesis | S2 PsikologiKomunikasi sangat krusial dalam keperawatan. Kecerdasan emosi adalah salah satu faktor penentu keberhasilan komunikasi. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi terapeutik mahasiswa keperawatan melalui program pelatihan kecerdasan emosi. Subjek penelitian ini adalah satu kelas mahasiswa Akper Pemda Kapuas semester III berjumlah 50 orang (32 perempuan dan 18 laki-laki) yang diberikan pelatihan kecerdasan emosi selama tiga hari. Pelatihan menggunakan metode ceramah, diskusi, pemaparan cerita, menonton film, permainan (game) dan bermain peran (role-play). Pengukuran variabel tergantung yaitu komunikasi terapeutik subjek dengan pasien betul dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas. Penelitian berlangsung pada tanggal 2 September s/d 12 Oktober 2007. Pengumpulan data menggunakan lembar evaluasi pelatihan dari subjek dan observer, lembar observasi komunikasi terapeutik dari pembimbing klinik dan refleksi bersama subjek. Analisis data dengan uji-t menemukan peningkatan rerata skor komunikasi terapeutik dari 77.72 menjadi 101.44. Melalui pair sample test ditemukan perbedaan sangat signifikan dengan nilai t hitung sebesar 6.820 ; p < 0.001. Hipotesis diterima yaitu terdapat peningkatan skor komunikasi terapeutik setelah subjek menerima pelatihan kecerdasan emosi. Nilai t tabel berdasarkan derajat kebebasan (db) sebesar 49 dengan peluang kesalahan alfa (p) 0.05 (5%) adalah sebesar 2.009575 atau 2.01. Nilai t hitung (6.820) > t tabel (2.01) ; demikian juga p < 0.001. Refleksi bersama subjek menemukan lima aitem komunikasi yang sulit diterapkan yaitu mengucapkan salam, memperkenalkan nama perawat, menyapa pasien dengan namanya, menjelaskan peran dan jaminan kerahasiaan. Evaluasi komunikasi terapeutik menggunakan model komunikasi yang diadopsi dari Amerika Serikat memunculkan bias budaya ketika diterapkan dalam konteks masyarakat Dayak. Penelitian mengusulkan modifikasi modul pelatihan kecerdasan emosi dan model evaluasi komunikasi terapeutik dengan transformasi budaya lokal.
Communication is a crucial element in nursing. Emotional intelligence is one a determinant factor for communication success. This study is an action research which aims to correct therapeutic communication ability of nursing students through training program of emotional intelligence. Subject of this study is one class of 3rd semester students in Pemda Kapuas Nursing Academy comprising of 50 students (32 female and 18 male) which were given training of emotional intelligence for three days. The training was given thr ough speech, discussion, story telling, watching movies, games, and role play. Measurement of dependent variable was done by therapeutic communication to the subject with real patient in which took place before and after training in RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo of Kuala Kapuas. This study held from September 2nd to October 12th 2007. Data was collected through training evaluation sheet from the subject and observer, observational sheet of therapeutic communication from clinic al instructor and reflection with the subject in the end of study. Data analysis using t-test suggests an increase on average score of therapeutic communication from 77.72 into 104.44. Using pair sample test, there was found a very significant difference with t-statistics of 6.820 ; probability of alpha error (p) < 0.001. The hypothesis accepted shows that there is increase on therapeutic communication score after the subject receives emotional intelligence training. t-table score based on degree of freedom (df) of 49 with probability of alpha error (p) 0.05 (5%) is 2.009575 or 2.01, t-statistics (6.820) > t-table (2.01), as well as probability of alpha error (p) < 0.001. Reflection with the subject suggests five communication items which difficult to implement, i.e. greeting, introducing nurse’s name, call the patient with his/her own name, describes role and confidentiality. Evaluation of therapeutic communication using communication model adopted from US shows cultural bias when it applied in the context of Dayak community. This study proposes modification on training module of emotional intelligence and evaluation model of therapeutic communication by local cultural transformation.
Kata Kunci : Kecerdasan Emosi,Komunikasi Terapeutik,Keperawatan dan Pasien,emotional intelligence, therapeutic communication, cultural bias