Industri kecil Kripik Tempe dan implikasinya terhadap ketahanan ekonomi keluarga :: Studi di Desa Karangtengah Prandon Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi Propinsi Jawa Timur
SUBANDI, Prof.Drs. Kasto, MA
2007 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalPenelitian ini dilaksanakan di Desa Karangtengah Prandon Kecamatan Ngawi Kabupaten Ngawi pada tahun 2007. Tujuan penelitian adalah mengetahui secara mendalam karakteristik pengusaha dan usaha kripik tempe; mengetahui kontribusi industri kecil dan implikasinya terhadap ketahanan ekonomi keluarga. Sampel penelitian adalah semua pengusaha industri kripik tempe yang berumur 30 tahun ke atas yang menetap di Desa Karangtengah Prandon sebanyak 105 orang. Data penelitian diperoleh dengan cara observasi dan wawancara, sedangkan alat yang digunakan adalah daftar pertanyaan dan check list. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi usaha kripik tempe sehingga kurang dapat berkembang dengan baik, antara lain : latar belakang pendidikan yang relatif rendah, terbatasnya modal dalam mengembangkan industri kripik tempe, sistem manajemen dan sarana/prasarana yang masih tradisional, serta wilayah pemasaran yang masih terbatas. Tetapi walaupun mengalami banyak kendala di atas, para pengusaha kripiki tempe mampu hidup dalam tingkat ekonomi yang tinggi. Pendapatan per kapita rumah tangga/tahun Rp 7.046.196 dan jika dihitung dari segi pengeluaran maka pengeluaran per kapita rumah tangga/tahun adalah Rp 5.369.232 dihubungkan dengan garis kemiskinan untuk ukuran pedesaan karena Karangtengah Prandon adalah wilayah pedesaan yakni dari sisi pengeluaran : penetapan BPS sebanyak 2100 kalori/orang/hari atau Rp 2.520.000/orang/tahun, Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi sebanyak 2500 kalori/orang/hari atau Rp 3.000.000/orang/tahun, penetapan Sajogya pemenuhan hidup dibawah 320 kg beras/orang/tahun atau sebesar Rp 1.600.000/orang/tahun dan penetapan BPS untuk Kabupaten Ngawi sebesar Rp 345.765/orang/bulan atau Rp 345.765/orang/tahun maka berdasarkan dari ukuran-ukuran garis kemiskinan tersebut, keluarga usaha kripik tempe di atas garis kemiskinan. Ini berarti ketahanan ekonomi keluarga responden adalah tergolong dalam kategori tinggi.
The study was held in Karangtengah Prandon village of Ngawi subdistrict of Ngawi regency in 2007 year. The aim this research was to explore deeply about the characteristic of people behind tempe chips small industries, know the contribution toward family economic resilence. The samples of study are all company’s the tempe chips home industries who have age thirty years or more that lived in Karangtengah Prandon village numbering 105 persons. It uses the total sampling method. The study’s data is obtained from questioners, observation, and interview. This research result shows that theres some factors influenced the tempe chips home industries until not yet develop the industry, management system, and undeveloped industril tools, so the limited market area. Even thoughthe hindrance above, the home industry of tempe chips can live high. Their average income is Rp 7.046.196 per year while their avarage expense is Rp 5.369.232 per tahun. We can find that the respondents’ incomes are above the village poverty limit. Compare to the BPS’s stipulation on expense of 2100 calories per person per day or Rp 2.520.000 per person per year, or 2500 calories per person per day or Rp 3.000.000 per person per year by Widya Karya National Food and Nutrient, Sajogya stipulation of 320 kilograms of rice per person per year and BPS’s stipulation – Ngawi of Rp Rp 345.765 per person per month or Rp 345.765 per person per year. These also proves that the economic resilience of the respondents’ families is high.
Kata Kunci : Ketahanan Ekonomi Keluarga,Industri Kecil Tempe,Small Industries,Family Economic Resilience