Laporkan Masalah

Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan implikasinya terhadap ketahanan ekonomi keluarga :: Penelitian di dua desa di Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas

INDARTO, Danu, Prof.Drs. Kasto, MA

2007 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Penelitian ini dilaksanakan di desa Samudra dan desa Paningkaban kecamatan Gumelar kabupaten Banyumas Jawa Tengah pada tahun 2007. Tujuan dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana kondisi kehidupan para mantan TKI baik sebelum maupun sesudah migrasi dan bagaimana tingkat kesejahteraan hidup para mantan TKI di daerah asal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang mendorong responden meninggalkan daerah asalnya adalah lebih dikarenakan faktor ekonomi yaitu ingin membantu perekonomian keluarga, adanya keinginan yang kuat untuk mempunyai rumah yang layak untuk ditempati, mencari modal buat usaha dan mencari pengalaman serta buat biaya sekolah anak. Daya tarik daerah tujuan karena banyak tersedia lapangan pekerjaan dan gaji yang lebih besar. Sumber informasi yang diterima responden berasal dari teman/saudara/tetangga, informasi dari TKI yang telah bekerja terlebih dahulu dan informasi dari PJTKI. Sumber dana berasal dari orang tua, suami/istri dan pinjaman. Keputusan untuk bermigrasi berasal dari keinginan diri sendiri, orang tua/mertua, suami istri dan seluruh anggota keluarga. Dari segi pendapatan meskipun sesudah migrasi telah terjadi peningkatan terhadap total pendapatan rumah tangga responden sebesar 114,43% dari total pendapatan rumah tangga sebelum migrasi, tetapi total pendapatan rumah tangga responden sesudah migrasi jika dihitung perkapita 54,52% masih berada di bawah pendapatan perkapita kabupaten Banyumas tahun 2004. Dari segi pengeluaran, yaitu untuk pengeluaran makanan/minuman dan untuk pengeluaran non makanan. Bila dihubungkan dengan penetapan standar garis kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS Jakarta hasil dari Susenas 2004 untuk kabupaten Banyumas maka pengeluaran perkapita perbulan rumah tangga responden sekitar 86,31% dari standar garis kemiskinan dan itu berarti pengeluaran perkapita perbulan rumah tangga responden masih berada dibawah standar garis kemiskinan. Demikian juga jika dibandingkan dengan ketetapan garis kemiskinan yang ditetapkan ”Sajogyo”, sekitar 90,73% dari ketetapan garis kemiskinan ”Sajogyo” tersebut, dan itu berarti pengeluaran perkapita responden masih berada di bawahnya dan masuk dalam kategori miskin. Kesimpulannya, bahwa kehidupan responden masih berada dibawah garis kemiskinan serta masuk dalam kategori miskin, itu berarti secara umum menggambarkan bahwa kondisi ketahanan ekonomi keluarga responden dalam kondisi lemah. Adanya program pembangunan yang menitik beratkan pada pembangunan keluarga, diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan keluarga di masyarakat. Keberhasilan dalam membangun keluarga yang sejahtera diharapkan juga dapat mendukung laju pembangunan daerah, dan keberhasilan melaksanakan pembangunan daerah pada akhirnya akan mendukung laju pembangunan di tingkat nasional. Keberhasilan melaksanakan pembangunan nasional berarti dapat meningkatkan ketahanan nasional.

The research was conducted in Samudra and Paningkaban villages of Gumelar District, Banyumas Regency, Central Java Province in 2007. The research aims at identifying the condition of living among the ex Indonesian Labours (TKI) both before and after the migration, and the level of living (welfare) among them in their hometown. The research shows that the economic factors, such as the need to give contribution to family finances, strong need to own an adequate dwelling place, need for capital to start business, need for experience, and need for children’ school fee, motivate respondents to leave their hometowns. The pull factors of the destination area include numerous job opportunities and big salaries. The respondents receive the information from their friends/siblings/neighbors, former TKI and Labour Recruiting Agencies (PJTKI). The respondents get the money needed for migration from their parents, husbands/wives and loans. The decision to migrate might come from oneself, their parents/parents in law, husbands/wives and all the members of the family. On Income, after migration there is an increase of 114.43% in the respondents’ total family income. However, the family income per capita is 54.52%, which is lower than the 2004 Banyumas Regency income per capita. On expenses, family expenses include expenses for foodstuff and non-foodstuff. The official Banyumas Regency poverty line is determined by the Central Bureau of Statistics Jakarta based on the result of the 2004 National Socioeconomic Survey (SUSENAS). Under the circumstances, the monthly family expense per capita is at the level of 86.31% which is below the poverty line. Similarly, based on the standard poverty line proposed by Sajogyo, the monthly family expense per capita is at the level of 90.73% which means that the respondents are living in poverty. The research concludes that the respondents are living under the poverty line, which means that their economic resilience is in weak condition. By the implementation of development program focusing on family promotion, the level of living (family welfare) is expected to improve. The success in promoting family welfare will support both regional and national development growth, which in turn will improve the national resilience.

Kata Kunci : Ketahanan Ekonomi Keluarga,Kemiskinan,Tenaga Kerja Indonesia,migration, poverty, family economic resilience


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.