Sinergi lintas lembaga dalam promosi pariwisata Jawa Barat :: Studi tentang penyelenggaraan Jawa Barat Travel Exchange tahun 2006
NURWIYOTO, Dr. Pratikno, M.Soc.Sc
2007 | Tesis | S2 Ilmu Politik (Politik Lokal dan Otonomi Daerah)Penelitian ini difokuskan pada Sinergi Lintas Lembaga dalam praktek Kerjasama Promosi Pariwisata Jawa Barat melalui event Jawa Barat Travel Exchange (JTX) tahun 2006. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola hubungan antar aktor yang terlibat dalam kegiatan Jawa Barat Travel Exchange, serta untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang ditemui dalam membangun sinergi lintas lembaga tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersandarkan pada data sekunder maupun primer. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan dan wawancara mendalam. Adapun data sekunder dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan kepustakaan. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa penyelenggaraan Jawa Barat Travel Exchange (JTX) tahun 2006 dapat dilaksanakan dengan baik. Keberhasilan kerjasama penyelenggaraan JTX tersebut dapat dilihat dari dari beberapa hal : pertama, adanya kemauan dan motivasi antar aktor untuk bekerjasama cukup kuat. Kedua, adanya kejelasan pembagian peran dan tugas dari masing-masing aktor. Ketiga, adanya persamaan persepsi dan tindakan bersama. Namun keberhasilan dalam pelaksanaan JTX belum dibarengi dengan proses hubungan kelembagaan yang optimal. Hal tersebut terlihat dari pola hubungan antar aktor yang melakukan kerjasama lintas lembaga dalam praktek kerjasama tersebut belum sinergi. Belum sinerginya pola hubungan antar aktor dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu : Pertama, ditinjau dari aspek persepsi antar aktor sebetulnya sudah terbangun. Hal tersebut dapat terlihat dari adanya komitmen dari masingmasing aktor. Namun komitmen tersebut belum menjadi mindset untuk mengembangkan kapasitas lembaga kerjasama, serta adanya beberapa permasalahan, seperti perbedaan karakter dari masing-masing aktor, kendala birokrasi, egoisme antar lembaga menjadi penghambat terbangunnya persepsi secara utuh. Kedua, Regulasi belum mengikat secara kuat antar aktor yang melakukan kerjasama, sehingga engagment antar aktor cenderung lemah. Ketiga, format kelembagaan dan mekanisme kerja yang diterapkan dalam kerjasama event JTX belum sepenuhnya mengacu pada konsep action network yaitu intergovernmental relation dan good governance. Mekanisme kerja dalam kerjasama ini masih mengandalkan pola hubungan yang bersifat legal-formal dan cenderung top-down. Keempat, sistem pendukung dari dimensi kolektifitas dapat dilaksanakan tetapi dari dimensi yang lain seperti struktur insentif dan anggaran belum terealisasi dengan baik. Agar kerjasama lintas lembaga dalam event JTX berjalan sinergis dan dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam pengembangan kepariwisataan di Jawa Barat, disarankan : Pertama, agar bangunan lembaga kerjasama mengacu pada basis intergovermental network. Kedua, pemerintah propinsi dapat berperan sebagai pembangun network, yaitu dengan cara memfasilitasi proses interaksi antar aktor yang melakukan kerjasama. Ketiga, perlu dibentuk format kelembagaan yang tepat sesuai dengan karakteristik sektor yang dikerjasamakan, yaitu forum koordinasi, monitoring dan evaluasi.
This research has been focusing its attention on the Inter-agencies Cooperation in implementing the Cooperation for Tourism Promotion in West Java through the event of Jawa Barat Travel Exchange (JTX) 2006. Generally, this research tries to find the patterns of relation among various actors involved in the event, and to identify the problems they face in building their inter-agency cooperation. Methodologically, this research is using qualitative method, which is relying on primary and secondary data. This research has been using observation and indepth interview methods in collecting its primary data, while the secondary data was collected through document and literature review. This research leads us to a conclusion, that in its implementation JTX has not been accompanied with an effective institutional relations process. This fact is clearly seen within the patterns of relation among various actors involved within this interagencies cooperation. Its ineffectiveness is caused by several factors, including: first, the perceptions of various actors involved. Actually, there has been a shared perspective among the actors involved, which manifest itself as comitment. But this comitment has not been a mind-set to develop the capacity needed for inter-agencies cooperation. Second, there has been no regulation, which strongly binds various actors involved in the cooperation. Third, the institutional and mechanism design applicated for this cooperation has not been fully referring to the concepts of action network, which includes intergovernmental relation and good governance. The mechanism applicated in this cooperation still relies on legal-formal pattern of relation, and tend to be top-down in its nature. Fourth, the supporting system of the collectivity dimension has been successfully applicated, but other dimensions, such as incentive structure and budgeting dimensions, has not been fully realized yet. In order to concert the inter-agencies cooperation and enable it to yield maximum contribution for developing tourism in West Java, this research recommends: firsth, should be effort the institutional cooperation building have to be adoption to intergovernmental network, second, the government should be actor for to builder network, that’s the way to given fasilition for the interaction process between the actor have done cooperation. Third, have to built the institutional design have to be the same with the caracter cooperate sector, that’s coordination, monitoring, and evalution forum
Kata Kunci : Promosi Pariwisata,Sinergi Lintas Lembaga,JTX, The Inter-agencies Cooperation, Action Network