Optimalisasi Modal Sosial dalam Manajemen Bencana :: Studi terhadap Pengembangan Peran dan Fungsi Pecalang dalam Manajemen Bencana di Tingkat Lokal
SETIAWAN, I Made Gde Partha Kesuma, Drs. Cornelis Lay MA
2007 | Tesis | S2 Ilmu PolitikPenelitian ini mengkaji tentang pengembangan pola manajemen bencana di tingkat lokal yang berbasis komunitas, dengan mengulas keberadaan tiga segi modal sosial masyarakat desa pakraman di Bali, yaitu dari segi nilai/kultur, dari segi institusi dan dari segi mekanisme. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, dokumentasi pustaka, wawancara serta dengan kuesioner yang bertipe “open-ended question†dengan pihak-pihak yang dipandang memiliki kompetensi sesuai dengan topik penelitian, dengan memanfaatkan teknik Purposive Random Sampling. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dalam proses manajemen bencana ada suatu bagian atau “link†yang hilang, terutama diantara masa darurat bencana dengan masa pada saat pertama kalinya bantuan masuk ke lokasi bencana. Link yang hilang ini memiliki relevansi yang sangat kuat terhadap upaya menekan jumlah korban dan mengurangi angka resiko bencana. Penelitian ini pula berusaha memberikan suatu solusi untuk memberikan “jembatan†penghubung antara masa darurat bencana dan masa saat masuknya bantuan pertama kali, dengan memanfatkan potensi lokal yang ada. Diketahui bahwa Pecalang, sebagai sebuah institusi adat memiliki peluang dan potensi yang sangat besar untuk dilibatkan dalam manajemen bencana, karena didukung oleh karakteristiknya yang khas. Atas dasar identifikasi karakteristik Pecalang dan kajian terhadap faktorfaktor pendukung lainnya, maka disimpulkan bahwa (1) Keterlibatan masyarakat lokal menjadi mutlak, karena masyarakat lokal yang paling memahami karakter wilayahnya dibandingkan dengan pihak luar, (2) Pecalang sangat tepat dijadikan sebagai ujung tombak operasional manajemen bencana di tingkat lokal karena didukung oleh karakteristik dan kewenangannya, (3) Pecalang tidak dapat dijadikan personil pokok dalam manajemen bencana karena fungsi kepecalangan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki sehingga tidak mencerminkan kesetaraan gender. Untuk itu perlu adanya dukungan dari institusi lokal lainnya seperti misalnya Sekaa Teruna Teruni dan elemen masyarakat lainnya. Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis memberikan beberapa rekomendasi, yaitu (1) Pemerintah daerah harus meningkatkan perannya menjadi fasilitator dalam upaya peningkatan kapasitas lokal, (2) Untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, perlu mengintensifkan kegiatan simulasi dan perluasan informasi penanggulangan bencana melalui institusi pendidikan, (3) Peningkatan usaha pemasangan tanda rawan bencana dan pemberian anggaran yang proporsional bagi desa-desa rawan bencana melalui formulasi ADD dan (4) Pembentukan institusi lokal kebencanaan guna menjamin keberhasilan dan keprofesionalan dalam menangani bencana.
The present research examines the development of community-based disaster management pattern at local level, by commenting existence of three social capital facets among Balinese pakraman villagers, i.e. from value /culture, institutional and mechanism perspectives. This research utilizes qualitative-based explorative descriptive design. Data are gathered through the use of field observations, literature documentations, interviews and “open-ended questionnaires†with those considered as being competent related to research topic based on Purposive Random Sampling technique. Results indicate that during disaster management process there is a part or "link" is losing, particularly between disaster emergency period and the first time the support entering to the disaster zone. It is strongly relevant to the effort of minimizing total disaster-affected persons and disaster risk rate. This research tries gives a solution to give "link bridge" between a period of disaster emergencies and a period of when the first time the support entering to the disaster zone, by exploiting the local potency. Known that Pecalang as a traditional institutions acquire the greatest opportunities and potentials in disaster management involvement because of supported by its typical characteristic. Based on the identified characteristics and reviews on other supporting factors, it is concluded that (1) the involvement of local community is absolute since it deeply understand its zone character compared other parties, (2) Pecalangs are the most appropriate operational front liners of disaster management at local level since it is supported by characteristics and authorities, (3) Pecalangs cannot be assigned as main personnel in disaster management due to only men conduct the services; as a result, it does not reflect gender equality. To this end, supports from other local institutions as Sekaa1 Teruna Teruni and other community elements are still required. The aforementioned conclusion leads the writer to propose following recommendations, namely (1) Local Government should improve its role to facilitating improved local capacities; (2) to achieve effectiveness and efficiency, simulation and information extension program on disaster prevention require intensification through educational institutions;(3) it is necessary to improve efforts of installing disaster-risk zone signs and provide proportional budget for disaster risk village through ADD formulation and (4) Local institution handling disaster should be established to support success and professionalism in disaster management.
Kata Kunci : Sistem pembangunan adat,Manajemen Bencana,Peran dan fungsi pecalang, Pecalang