Laporkan Masalah

Maridjan Menang Taruhan

ZENURROSYID, A, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono

2007 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan Agama

Perseteruan antara raja dan abdi dalemnya merupakan diskursus yang senantiasa menarik untuk dikaji. Apalagi tentang sisi kehidupan sosok Maridjan sebagai bagian dari gunung merapi dan satu sisi lain membincangkan tentang Sultan yang identik dengan mengkaji kekuasaan Yogyakarta sebagai bagian dari kerajaan besar Jawa, Mataram. Dalam tinjauan konsep kekuasaan Jawa, Maridjan sebagai abdi dalem merupakan kalangan wong cilik yang berada di urutan bawah dari struktural kekuasaan Raja. Sultan sebagai raja bertempat di kerajaan sebagai pusat kekuasaan dan Maridjan sebagai juru kunci Merapi bertempat tinggal di Kinahrejo yang berada di pinggiran lingkaran konsentris mandala Yogyakarta Status Merapi pada era 2006 yang secara drastis mengalami perubahan statusnya, dari normal, waspada, siaga dan sampai status awas tidak membuat “geming” Maridjan untuk mengungsi walaupun “titah” raja telah diturunkan. Dua dalih yang dia utarakan adalah pertama ia sebagai juru kunci Merapi diangkat oleh Hamengkubuwono ke IX dan kedua adalah ketika Hamengkubuwono ke X yang memerintahkan turun dari Kinahrejo, ia pun berdalih bahwa yang memerintah bukanlah raja dari kerajaan Yogyakarta, namun Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Sikap-sikap keengganan Maridjan ini dapatlah ditafsirkan sebagai bentuk perlawanan terhadap rajanya. Perlawanan ini merupakan resistansi dari kekuasaan absolut raja yang lahir dari konsepsi mandala kekuasaan Yogyakarta. Dalam sejarah kekuasaan Yogyakarta sikap perlawanan terhadap rajanya telah berjalan secara turun temurun sejak kekuasaan awal kerajaan Mataram. Keperbedaan perlawanan yang dilakukan oleh Maridjan dengan tokoh pemberontak tempo dulu adalah pada kekuatan kapitalnya, yakni Maridjan didukung oleh dua kekuatan kapital; pertama adalah adanya legitimasi kultural sebagai juru kunci merapi dan kedua adalah support media secara besar-besaran yang mengkonstruksi wacana bahwa Maridjan sosok hebat yang berani melawan Rajanya. Citra ini diperkuat dengan citra “linuwih” Maridjan sebagai pemegang kuasa pengetahuan Merapi.Maridjan lah sosok yang sakti yang mampu berkomunikasi dengan “Eyang Merapi” yang menjaga Merapi. Bentuk perlawanan Maridjan dengan tetap bertahan di kampungnya yang sedang dalam ancaman bahaya letusan gunung Merapi, ini juga dapat ditafsirkan sebagai bentuk lain dari sebuah pertaruhan. Pertaruhan ini dikonsepkan sebagai deep play (permainan mendalam). Pertaruhan ini dimainkan oleh Maridjan sebagai abdi dalem dan Sultan Hamengkubuwono ke X sebagai rajanya serta gunung Merapi sebagai medianya. Perlawanan Maridjan dalam bentuk “pertaruhan” telah membawanya pada perubahan status sosial, yakni status Maridjan dari seorang abdi dalem yang “deso” berubah menjadi sosok selibritis dalam waktu yang relatif singkat. Maridjan mendapatkan hasil kemenangan taruhannya dalam bentuk prestise sosial yang tinggi dengan segala popularitas dan kekayaan harta benda. Kemenangan Maridjan dalam dramatisasi politis ini merupakan simbol kemenangan gerakan kultural dalam perlawanan terhadap absolutisme kekuasaan raja yang semakin memudar oleh hiruk pikuknya perkembangan modernitas. Dalam momen penutupan Rakornas Golkar di hotel Hyatt Yogyakarta dimana Sultan sebagai raja beralih posisi menjadi penterjemah bagi abdi dalemnya, dapat ditafsirkan dengan jelas sebagai puncak dari pertunjukan teather politik dalam dunia pewayangan oleh lakon punokawan di mana petruk jadi raja dan raja jadi petruk.

The enmity between the king and his royal servant is always be an interesting discourse to study, futhermore the life and acrobatic attitude of Maridjan as a part of Merapi mountain and to talk about the Sultan who has the authority of Yogyakarta a part of a big kingdom in Java, Mataram. In the perspectives of Javanese authority concept, Maridjan the royal servant is only a common people from the lower level of the king autocracy structure. Sultan as the king lives in the palace which is the center of the authority., whether Maridjan, the caretaker of Merapi lives in Kinahrejo, at the outskirt of Mandala Yogyakarta concentric circle. Merapi status in 2006 which drastically changed from normal to the highest level of cautious didn’t make Maridjan moved to the refugee camp, even though the king has “ordered” him to. He has to refused these orders, first as the caretaker of Merapi he is appointed by Sultan Hamengkubuwono IX, second when Sultan Hamengkubuwono X ordered him to clim down from Merapi, Maridjan didn’t considered him as the king of Yogyakarta but as the formal governor of Yogyakarta. Maridjan’s attitude could be categorized as a resistance against his king which shows up from the Yogyakarta authority of Mandal concept. This resistance is not a new thing in the history of Yogyakarta which has been there for generations since the beginning of Mataram authority. The difference of Maridjan’s resistance is his capital power, first is the cultural legitimating as the Merapi caretaker and the second is the great media support which construct a discourse that Maridjan is a great person who dares to challenge his king. This image is strengthened by the “abundant” image of Maridjan as the authorized representative of Merapi’s knowledge; Maridjan is a figure who is able to communicate with “Eyang Merapi” and take care of it. Maridjan’s resistance with staying in his place although threatened by Merapi’s eruption is another form of bet. This bet is considered as a deep play, which played by Maridjan as the royal servant and Sultan Hamngkubuwono X as the king and Merapi as th emedia. The “bet” is over now and Maridjan’s resistance has given him a social change from a mere “country person” into a celebrity in a short time. Maridjan is a winning the bet and gaining high social prestige as the gift with its popularity and wealth as the bonus. Maridjan’s winning in this political dramatization is a winning symbol of cultural movement to resist the king absolutism authority which is getting faded from the modernity development. At the closing ceremony of Rakornas Golkar (National Coordinating Meeting of Fuctional Work Group) at Hyatt Hotel in Yogyakarta where Sultan as the king becoming translator for his royal servant, this situation could be interpreted as the edge of political theater as shown in “wayang” world where the “punokawan” Petruk is becoming a king and the king is becoming Petruk.

Kata Kunci : Resistensi Raja,Perlawanan,Abdi Dalem, royal servant, resistance, the king, media, bet, celebrity


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.