Hubungan frekuensi dan kunjungan pertama perawatan antenatal dengan kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Kabupaten Kulon Progo
HANDANI, Novi, Prof.dr. Djaswadi Dasuki, MPH,SpOG(K).,PhD
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kes. Ibu dan Anak-KeLatar belakang : Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di beberapa negara. Di negara berkembang diperkirakan sebesar 17 juta, bayi lahir dengan berat badan rendah dan di Indonesia prevalensi BBLR menurut laporan dari Bappenas dan UNICEF (1995), adalah sebesar 13 persen sehingga diperkirakan setiap tahunnya sekitar 400.000 bayi lahir dengan berat badan rendah. Kasus BBLR di Kabupaten Kulon Progo mengalami peningkatan dalam 3 tahun terakhir yaitu dari 5,4 menjadi 5,8 walaupun masih dibawah tingkat nasional, namun karena BBLR merupakan merupakan penyebab uatama kematian bayi di Kabupaten Kulon Progo, maka perlu diantisipasi sedini mungkin yaitu melalui perawatan kehamilan yang sehat, yaitu dengan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan lebih awal. Tujuan penelitian: Utuk mengetahui adanya hubungan frekuensi dan kunjungan pertama pada perawatan antenatal dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR). Metode Penelitian: Merupakan penelitian observasional, dengan menggunakan rancangan kasus kontrol. Sumber data dari 250 responden yang terdiri dari 125 ibu sebagai kasus (bayi berat lahir<2500 gr) dan 125 ibu sebagai kontrol (bayi berat lahir ≥2500 gr ). yang tercatat dalam laporan puskesmas. Hasil: Titik potong frekuensi kunjungan ANC adalah: optimal ≥ 7 kali dan kurang optimal < 7 kali; Untuk waktu kunjungan pertama ANC optimal adalah <9 minggu dan kurang optimal ≥9 minggu. Analisis bivariabel dan multivariabel menunjukkan bahwa frekuensi kurang optimal (<7 kali) berisiko terhadap kejadian BBLR 3,4 kali dibandingkan dengan frekuensi optimal (CI 95 % 2,1–5,9). Waktu kunjungan pertama ANC berisiko terhadap kejadian BBLR 2 kali dibandingkan dengan waktu kunjungan optimal dengan nilai p>0,05. Variabel umur, paritas, jarak hamil dan riwayat kehamilan sebelumnya berhubungan secara signifikan dengan kejadian BBLR (OR:1,88; 2,54; 2,04 dan 2,2; CI 95 persen). Hasil analisis stratifikasi menunjukkan umur, paritas, jarak hamil dan riwayat kehamilan sebelumnya bukan merupakan variabel pengganggu. Kesimpulan: frekuensi kunjungan dan waktu kunjungan pertama perawatan antenatal yang optimal dapat mengurangi kejadian BBLR. Paritas dan riwayat kehamilan berhubungan secara signifikan dengan kejadian BBLR tetapi bukan merupakan variabel penggangu.
Background: Low birth weight (LBW) among infants is a common public health problem. It is estimated that there are 17 million of infants in developing countries born with low birth weight per year. In Indonesia the prevalence of LBW is 15% (Bappenas, 1995), so that every year approximately 400,000 infants are LBW. Cases of LBW at District of Kulon Progo has been increasing within the past three years, from 5.4% to 5.8%; whereas the coverage of fourth visit is just 68% from the target of 90%. LBW is one of major causes of infant mortality at District of Kulon Progo, therefore it should be anticipated as early as possible through proper antenatal care (ANC) by having periodic and early antenatal examination. Objective: To identify the relationship between frequency and first visit of ANC and the prevalence of LBW among infants. Method: The study was observational with cross sectional design. Data were obtained from 250 respondents consisting of 125 mothers of cases (infants born less than 2500 gr) and 125 mothers as controls (infants born ≥ 2500gr), recorded at the health center. Result: Cross sectional point for optimum frequency of ANC visit was ≥7 times and less optimum was < 7 times; for optimum first ANC visit was < 9 weeks and less optimum was ≥ 9 weeks. Bivariable and multivariable analysis showed that the frequency of ANC and first visit of ANC had significant relationship (p<0.05) with the prevalence of LBW. Less optimum frequency of ANC (< 7 times) had 3.4 times risk for the prevalence of LBW (CI 95% 2.1 – 5.70) and less optimum ANC first visit had 2 times risk for the prevalence of LBW compared to less optimum frequency of ANC (CI 95% 1.23 – 3.37). Variables of age, parity, birth spacing and pregnancy history had significant relationship with the prevalence of LBW (OR: 1.88: 2.54:2.04 and 2.2; CI 95%). The result of stratification analysis showed that age, parity, birth spacing and pregnancy history were non confounding variables. Conclusion: Optimum frequency and first visit of ANC could minimize risks of LBW. Variables of age, parity, birth spacing and pregnancy history had relationship with the prevalence of LBW but they were non confounding factors of the study.
Kata Kunci : Bayi Berat Lahir Rendah,Perawatan Antenatal