Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan petugas kesehatan terhadap Algoritme MTBS di Puskesmas Kota Pontianak
HAFIZAH, Rita, Prof.dr. Djauhar Ismail, MPH.,SpA(K).,PhD
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kes. Ibu dan Anak-KeLatar Belakang: Angka kematian di Indonesia tertinggi di ASEAN. Untuk mengatasinya pada tahun 1994 WHO dan UNICEF melancarkan gerakan yang dinamakan Sick Child Initiative (SCI). Integrasi tatalaksana kasus ini dinamakan Integrated Management of Childhood Illness (IMCI). Tahun 1997 IMCI mulai dikembangkan di Indonesia yang dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Namun kadang-kadang petugas kesehatan mengalami kesulitan dalam mematuhi algoritme MTBS. Faktorfaktor yang mempengaruhi kepatuhan petugas kesehatan terhadap algoritme MTBS adalah: umur, jenis kelamin, pengetahuan, sikap, sumber daya dan biaya, serta pembinaan. Tujuan: Mengetahui gambaran kepatuhan petugas kesehatan terhadap penggunaan algoritme MTBS dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode: Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Tempat penelitian di kota Pontianak. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan yang sudah mengikuti pelatihan MTBS, yaitu 44 orang. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan observasi dengan check-list. Data sekunder diperoleh dari profil kesehatan kota Pontianak tahun 2004 dan 2005 serta data dari setiap puskesmas. Uji hipotesis menggunakan Chi-square dengan p=0,05 dan (IK 95%). Analisis multivariabel menggunakan regresi logistik. Hasil: Dari analisis beberapa variabel diperoleh hasil bahwa adanya hubungan antara faktor jenis kelamin, laki-laki mempunyai risiko 4,2 kali untuk tidak patuh (RP= 4,2, IK 95% = 2,44-7,21), faktor pengetahuan yang kurang mempunyai risiko 4,2 kali untuk tidak patuh (RP=4,2, IK 95%= 1,03-16,85), faktor sumber daya kurang tersedia akan mempunyai risiko 7,2 kali untuk tidak patuh (RP=7,22, IK 95% =1,79-29,11), dan faktor pembinaan, kurang akan mempunyai resiko 12 kali untuk tidak patuh (RP=12,04, IK 95%=1,69-85,51) terhadap pengisian formulir algoritme MTBS. Kesimpulan: Variabel yang paling berpengaruh dengan kepatuhan petugas kesehatan terhadap algoritme MTBS adalah faktor pembinaan, kemudian faktor pengetahuan dan diikuti dengan faktor jenis kelamin.
Background: Infant and Child Mortality rate in Indonesia is the highest among the ASEAN countries. In 1994, WHO and UNICEF launched Sick Child Initiatives (SCI) as a program called Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) to reduce mortality worldwide and Indonesia developed this program starting in 1997; however, health providers ar frequently diffcult in complying with logarithm of IMCI. Factors affecting providers’ compliance on logarithm of IMCI are age, sex, knowledge, human resources, cost, and supervision. Objective: This study was conducted to describe health providers’ compliance on using logarithm of IMCI and the factors affecting it. Method: This was an observational study with cross sectional study design. The study was performed in Pontianak. The subjects were fortyfour health providers joining IMCI training. Secondary data were obtained from Pontianak health profile in 2002 and 2005. Primary data were obtained from questionnaire and check-list observation. Hypothesis test used chi-square with p=0.05 and CI 95%. Multivariable analysis with logistic regression was used. Result: There was an association between sex (RP=4.2, CI 95% 2.44- 7.21), knowledge (RP=4.2, CI 95% 1.03-16.85), human resources (RP=7.22, CI 95% 1.79-29.11), and supervision (RP=12.04, CI 95% 1.69- 85.51) and health providers’ compliance on logarithm of IMCI. Men, lack of knowledge, lack of human resources, and less supervision had greater risks 4.2, 4.2, 7.2, and 12 times,respectively. Conclusion: Variables affecting the health providers’ compliance on filling the logarithm of IMCI are sex, knowledge, and supervision.
Kata Kunci : Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS),Kepatuhan Petugas, Compliance, logarithm of IMCI