Laporkan Masalah

Hubungan karakteristik orang tua dengan kekerasan pranikah dan pola Antenatal Care (ANC) pada kehamilan remaja di Kabupaten Kerinci

ASPARIAN, Prof.dr. M. Hakimi, SpOG(K).,PhD

2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kes. Ibu dan Anak-Ke

Latar Belakang: pernikahan usia dini adalah pernikahan yang dilakukan pada usia kurang dari 18 tahun, merupakan salah satu bentuk tindakan kekerasan terhadap anak perempuan. Salah satu dampak pernikahan usia dini adalah kehamilan remaja. Kehamilan remaja beresiko mengalami masalah ginekologis, antara lain disebabkan oleh kurangnya pelayanan ANC. Sampai saat ini belum ada identifikasi khusus tentang peranan kekerasan pranikah terhadap menurunnya cakupan beberapa komponen pelayanan ANC pada kehamilan remaja di Kabupaten Kerinci. Metode Penelitian: penelitian ini adalah penelitian Explanatory research dengan rancangan Cross-sectional Study dan pendekatan kuantitatif. Sampel adalah wanita di Kabupaten Kerinci yang telah menikah dan melahirkan anak pertama pada usia 15-19 tahun, yang dipilih dengan metode cluster sampling. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner, karakteristik orang tua dinilai dari karakteristik ayah responden. Pengolahan data melalui tahapan coding, editing, Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji Chi Square, dilanjutkan dengan analisis regresi. Hasil Penelitian: ada hubungan yang bermakna antara umur menikah orang tua dengan frekuensi kekerasan seksual pranikah (p=0,003 OR=3,44 95%CI=1,539 – 7,699), pendidikan orang tua dengan riwayat kekerasan seksual pranikah (p=0,007 OR=4,64 95%CI=1,521 – 14,163) serta hubungan bermakna antara penghasilan orang tua dengan riwayat kekerasan seksual pranikah (p=0,003 OR=2,61 95%CI=1,385 – 4,904). Terdapat hubungan bermakna antara riwayat kekerasan psikologis pranikah dengan Adequacy of Prenatal Care (APC) (p=0,005 OR=2,47 95%CI=1,319 – 4,611), riwayat kekerasan seksual dengan APC (p =0,033 OR=1,96 95%CI=1,054 – 3,671), frekuensi kekerasan seksual dengan APC (p=0,049 OR=2,29 95%CI=1,004 – 5,201) dan pendidikan orang tua dengan APC (p=0,006 OR=4,20 95%CI=1,500 – 11,755). Kesimpulan: di Kabupaten Kerinci orang tua (ayah) yang menikah pada usia kurang dari 19 tahun, berpendidikan rendah dan berpenghasilan di bawah upah minimum propinsi (UMP) akan berisiko melakukan kekerasan seksual pranikah kepada anak perempuan mereka. Pola ANC pada kehamilan remaja berhubungan dengan riwayat kekerasan psikologis, riwayat kekerasan seksual dan frekuensi kekerasan seksual pranikah. Kehamilan remaja dengan riwayat kekerasan psikologis pranikah dan tinggal dengan orang tua (ayah) yang berpendidikan rendah akan berisiko untuk tidak adekuat dalam penggunaan pelayanan antenatal (ANC).

Background: early marriage as categorized with marriage under 18 years old has been categorized as one of violence forms toward female adolescents. One of early marriage impacts is adolescent pregnancy with many cases of gynecology complications when the adolescents get pregnant under 20 years of age. However, there is no specific identification that premarital violence has a role in the decrease of ANC component coverage in adolescent pregnancy in Kerinci District. Method: It was an explanatory research with cross-sectional study design. The approach used was quantitative and samples collected using cluster sampling were married women aged 15-19 years old who had delivered their first baby in Kerinci District based on marriage record in 2004. Parents’ characteristics in this research were characteristics of father. Data gathering was done with structured interviews and data entries were done with some steps namely coding, editing, and analyzing the data. Hypothesis was tested by Chi-Square test and followed by regression analysis. Results: there were significant correlations between the age when parents got married and the frequency of premarital sexual violence (p=0.003 OR=3.44 95%CI=1.539 – 7.699), parents education and premarital sexual violence history (p=0.007 OR=4.64 95%CI=1.521 – 14.163), parents income and premarital sexual violence (p=0.003 OR=2.61 95%CI=1.385 – 4.904), and between premarital psychological violence history and adequacy of prenatal care (APC) (p=0.005 OR=2.47 95%CI=1.539 – 7.699), sexual violence history and APC (p=0.033 OR=3.44 95%CI=1.319 – 4.611), sexual violence frequency and APC (p=0.049 OR=2.29 95%CI=1.004 – 5.201) and parents education and APC (p=0.006 OR=4.20 95%CI=1.500 – 11.755). Conclusion: parents in Kerinci District who got married under 19 years old, had low education level, and had low income would have bigger chances to commit premarital sexual violence to their teenage girls. ANC type in adolescent pregnancy was related to psychological violence history, sexual violence history, and premarital sexual violence. Pregnant adolescents with premarital psychological violence history and who lived with parents (father) with a low education level would have risks of having inadequate antenatal care (ANC).

Kata Kunci : Perilaku Sehat,Antenatal Care,Kehamilan Remaja, premarital violence, adolescent pregnancy, ANC pattern.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.