Laporkan Masalah

Analisis spasial kejadian TB Paru BTA (+) menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) di Kabupaten Sleman

KUSUGIHARJO, Wawan, Prof.dr. Hari Kusnanto, DrPH

2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Epidemiologi Lapanga

Latar belakang : Penanggulangan TB Paru di Kabupaten Sleman yang masih menjadi masalah adalah rendahnya cakupan penemuan (case finding) penderita TB Paru BTA positif, hal ini di karenakan kurangnya aspek dukungan dari para pengambil kebijakan. Sehingga para petugas kesehatan dan pengelola program dalam melaksanakan kegiatan kurang termotifasi, sebagai dampaknya adalah cakupan penemuan penderita tidak dapat memenuhi target. Mengingat bahwa cakupan penemuan baru mencapai 50 %, maka keadaan ini dapat mengakibatkan resiko penularan TB Paru di Kabupaten Sleman akan menjadi lebih meningkat, diperkirakan seorang penderita TB Paru dengan BTA Positif dapat menularkan kepada sepuluh orang di sekitarnya pada setiap tahun. Dari permasalahan di atas maka peneliti ingin memadukan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru, diantaranya faktor kepadatan penduduk, kemiskinan dan faktor sarana pelayanan kesehatan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi kejadian TB Paru. Oleh karena itu penulis ingin membuat kajian analisis spasial faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan dalam penanggulangan penyakit TB Paru di Kabupaten Sleman. Tujuan : Mengetahui hubungan kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan terhadap kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Sleman. Metode : Jenis penelitian adalah survei cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Sleman Propinsi Daerah lstimewa Yogyakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population) yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian (keseluruhan desa yang ada di peta kabupaten Sleman) dan seluruh kasus TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman tahun 2005. Keseluruhan populasi dalam penelitian ini akan diteliti (totol population). Jumlah kasus TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman tahun 2005 sebanyak 387 kasus, semuanya dambil titik koordinatnya. Variabel independent, terdiri kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan kesehatan. Sedangkan variabel dependent, yaitu kejadian TB Paru BTA (+). Analisis data : Analisis spasial dengan SaTScan untuk mengetahui clustering TB Paru BTA (+), Excel Distcalc untuk mengetahui jarak tempat tinggal kasus dengan sarana pelayanan kesehatan, analisis spatially weighted regression menggunakan GeoDa untuk mengetahui ada tidaknya hubungan variabel bebas (kepadatan penduduk, kemiskinan dan sarana pelayanan keshatan) terhadap variabel terikat (kejadian TB Paru BTA (+)). Hasil : Hasil uji analisis spatially weighted regression (spatial error model) dengan GeoDa diperoleh bahwa regresi spasial (ordinary lesat square (OLS)) menggunakan GeoDa diperoleh t = -1,992 p = 0,049 (p<0,05) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara kepadatan penduduk dengan kejadian TB Paru BTA (+) di kabupaten Sleman; Kejadian TB Paru BTA (+) tidak berhubungan dengan kemiskinan (t = -0,667 p = 0,506 (p>0,05)) (p = 0,506); dan Kejadian TB Paru BTA (+) tidak mengikuti pola distribusi spasial tertentu (p= 0,622 (p>0,05)). Berdasarkan hasil SaTScan menggunakan Space-Time Permutation Model (Likelihood Ratio Test) didapatkan 8 cluster. Cluster 1 terjadi pada 2005/1/1 - 2005/1/31 berpusat pada koordinat (-7.767990 s, 110.391840 E) dengan radius 2,18 km. Sedangkan sebagai Most Likely Cluster yaitu cluster yang terjadi pada 2005/3/1 - 2005/3/31 berpusat pada koordinat (-7.641750 s, 110.382630 E) dengan radius seluas 2,11 km Kesimpulan : Kejadian TB Paru BTA (+) tidak dapat dijelaskan dengan kemiskinan, tetapi berhubungan dengan kepadatan penduduk. Terdapat clustering penyakit TB Paru BTA (+) yang signifikan di kabupaten Sleman. Clustering kejadian TB Paru BTA (+) terjadi dengan kecenderungan mengikuti kepadatan penduduk yang tinggi, tetapi tidak untuk kemiskinan didasarkan batasan administrasi

Baground Penanggulangan TB Paru in district Sleman which still become problem is the low of invention coverage ( case finding) LUNG terbium patient BTA is positive, this thing is in because lack of support aspect from of policies takers. So that of programs organizers and healths officers in executing activity is less termotifasi, as the impact is coverage invention of patient cannot fulfill goals. In view of new invention coverage reach 50%%,, hence this situation can result risk infection of LUNG terbium in Sub-Province Sleman will become more increase, estimate a LUNG terbium patient with BTA Positif can be catching to ten people in vinicity in each year. From problems above hence researcher wish to to alli some aspects available for influencing occurence of LUNGS terbiums, between the of density factors, factor and poorness supporting facilities for service of health as factor available for influencing occurence of LUNG terbium. Therefore writer wish to to make study of analysis spasial factor related to occurence of LUNG terbium BTA(+(+)) available to utilizing as component of consideration in making of policy in penanggulangan LUNG terbium disease in Sub-Province Sleman. Objective Know the relation of density, poorness and supporting facilities for service of health to occurence of LUNG terbium BTA (+) in district Sleman. Methods Research type is survey cross sectional. This research executed in Sub-Province region Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Population in this research is regional population ( Area Population) that is regions segments containing amount of researchs units ( the overall of countryside in sub-province map Sleman) and all LUNG terbium case BTA(+(+)) in sub-province Sleman year 2005. Overall of population in this research will be checked ( oafish population). Amount of LUNGS terbiums cases BTA(+(+)) in sub-province Sleman year 2005 counted 387 case, altogether dambil coordinate point is the. Variabel independent, compose density, poorness and supporting facilities for service of health. While dependent variable, that is occurence of LUNG terbium BTA(+)(+). data analysis Analysis spasial with SaTScan for knowing clustering LUNG terbium BTA(+)(+),, Excel Distcalc for knowing case residence distance with supporting facilities for service of health, analysis spatially weighted regression apply GeoDa for knowing is not his(its the relation of independent variable ( density, poorness and supporting facilities for service of keshatan) to dependent variables ( occurence of LUNG terbium BTA(+))(+)).. Results . Analysis test result spatially weighted regression ( spatial errors modeled) with Geoda is obtained that regression spasial ( ordinary lesat square ( OLS)) apply Geoda obtained by t= -= 1,992 p = 0,049 ( p) meaning is relationship having a meaning (of) between densities with occurence of LUNGS terbiums BTA(+(+)) in sub-province Sleman; Occurence Of LUNG terbium BTA(+(+)) don't relate to poorness ( t= -= 0,667 p = 0,506 ( p>0,05)) ( p = 0,506); and Kejadian TB Paru BTA(+(+)) don't follow distribution pattern spasial is certain ( p= 0,622 ( p>0,05)). Based on result Satscan apply Space-Time Permutation Model ( Likelihood Ratio Test) got 8 cluster. Cluster 1 happened at 2005/1/1 - 2005/1/31 co- ordinate centre on(- 7.767990 sulfur, 110.391840 E) with radius of 2,18 km. While as Most Likely Cluster that is cluster happened at 2005/3/1 - 2005/3/31 co-ordinate centre on(- 7.641750 sulfur, 110.382630 E) with radius for the width of 2,11 km Conclusion Occurence Of LUNG terbium BTA(+(+)) cannot be explained with poorness, but relating to density. There are clustering LUNG terbium disease BTA(+(+)) which signifikan in sub-province Sleman. Clustering occurence of LUNG terbium BTA(+(+)) happened with tendency follow high density, but not to poorness based by administration constrain

Kata Kunci : Sistem Informasi Manajemen Kesehatan,SIG,Spasial Kejadian Tuberkulosis Paru BTA, Occurence Of LUNG terbium BTA(+)(+), density, Poorness, sarana pelayanan kesehatan Sistem Geographical Information


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.