Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan Surgical Site Infection di ruang kebidanan dan kandungan RSU Kalooran GMIM Amurang
WENUR, Ellaine M.C, Prof.dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc.,Ph.D
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Manaj. Rumah Sakit)-Latar belakang: Surgical Site Infection (SSI) adalah masalah kesehatan yang menjadi perhatian dunia kesehatan akhir-akhir ini dan menempati posisi ke-3 dari infeksi nosokomial, dengan insidens 14-16% dari angka infeksi nosokomial. Dampak dari SSI bervariasi yaitu berupa penambahan lama perawatan, penambahan biaya perawatan, meningkatkan angka kesakitan, penurunan produktivitas kerja, trauma psikologis, stigma pada petugas dan beban kerja meningkat. Sehingga diperlukan adanya intervensi strategis ditingkat manajerial yang dapat menurunkan insidensi SSI ini. Untuk dapat menetapkan sasaran intervensi yang tepat perlu diketahui faktor risiko terjadinya SSI di rumah sakit. Tujuan Penelitian: Untuk mendapatkan angka kejadian SSI pada pasien yang menjalani pembedahan kebidanan dan kandungan di RSU Kalooran GMIM Amurang dan faktor-faktor risiko yang paling berpengaruh untuk terjadinya kasus SSI. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional. Subyek penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani pembedahan kebidanan kandungan sejak bulan Nopember 2005-Juni 2007 (19 bulan) di RSU Kalooran GMIM Amurang. Faktor-faktor risiko yang diteliti adalah umur, waktu tunggu prabedah, antibiotik profilaksis, lama pembedahan, kelompok pembedahan, jenis pembedahan. Variabel dependen adalah SSI, data dianalisis dengan chi square dan multivariat regresi. Hasil penelitian: Subyek penelitian yang diperoleh adalah 310 pasien, dengan 82 kasus SSI (26,5%). Faktor risiko yang signifikan adalah jenis pembedahan emergensi (OR= 5,1; 95% CI: 2,4-10,6), tidak diberikan antibiotika profilaksi (OR= 27,8; 95% CI: 12,1-63,8) dan LOS > 7 hari (OR= 3,2; 95% CI: 1,5-6,5). Faktor risiko yang tidak signifikan adalah umur > 32 tahun (OR= 0,9; 95% CI: 0,5 -1,5), waktu tunggu prabedah > 2 hari (OR =1,1; 95% CI: 0,6 -2,0), lama pembedahan > 60 menit (OR= 1,0; 95% CI: 0.6 – 1,6), kelompok pembedahan (OR= 0,6; 95% CI: 0,3-1,0), Hb prabedah > 11 gr% (OR= 0,9; 95% CI: 0,5-1,5), lekosit prabedah > 10000/μL (OR= 2,2: 95% CI: 1,3-3,7). Kesimpulan: Insidens SSI adalah sebesar 26,5%. Faktor risiko kejadian SSI pada pasien yang menjalani pembedahan kebidanan kandungan di RSU Kalooran GMIM Amurang adalah jenis pembedahan emergensi, tidak diberikan antibiotika profilaksi dan LOS > 7 hari.
Background: Surgical site infection (SSI) is a health problem which nowadays becomes global focus of attention and is in the third rank of nosochomial infection with 14% – 16% of incidence. The impact of SSI varies; i.e. length of stay, increase cost of care, greater morbidity rate, loss of productivity, psychological trauma, stigma of staff and increasing its workload. Therefore strategic intervention at managerial level is needed to minimize SSI incident. Risk factors of SSI in hospitals have to be identified to be able to decide which intervention is appropriate to minimize the risk. Objective: To measure incidence rate of SSI among patients who had obstetric and gynecological surgery at Kalooran Hospital of Minahasa Evangelical Christian Church Amurang, and to know which risk factors are influenced to get SSI. Method: The study design was cross sectional study. Subjects of the study were all patients who had obstetric and gynecological surgery from November 2005 until June 2007 (19 months) at Kalooran Hospital of Minahasa Evangelical Christian Church Amurang. The independent factors of this study are the risk factors for having SSI, i.e. age of patient, pre-operative waiting time, prophylaxis antibiotics, length of surgery, types of surgery, group of surgery. The dependent variable was SSI. The data were analyzed using chi square and multivariable regression method. Result: There were 310 patients included as subject in this study, Among them, 82 cases got SSI (26.5%). Significant risk factors for SSI were emergency type of surgery (OR= 5,1; 95% CI: 2,4-10,6), no use of prophylaxis antibiotics (OR= 27,8; 95% CI: 12,1-63,8) and length of stay > 7 days (OR= 3,2; 95% CI: 1,5-6,5). Other risk factors were not statistically significant, i.e age more than 32 years (OR= 0,9; 95% CI: 0,5 -1,5), preoperative waiting time more than 2 days (OR =1,1; 95% CI: 0,6 -2,0), length of surgery more than 60 minutes (OR= 1,0; 95% CI: 0.6 – 1,6), group of surgery (OR= 0,6; 95% CI: 0,3-1,0), preoperative Hb more than 11 gr% (OR= 0,9; 95% CI: 0,5-1,5),, preoperative leucocyte more than 10000/μL (OR= 2,2: 95% CI: 1,3-3,7). Conclusion: Incidence of SSI was 26,5%. Risk factors for having SSI among patients who had obstetric and gynecological surgery at Kalooran Hospital were emergency type of surgery, no use of prophylaxis antibiotics and length of stay > 7 days.
Kata Kunci : Surgical Site Infection,Resiko,Obstetri dan Ginekologi, surgical site infection, risk factors, obstetrics , gynecology