Laporkan Masalah

Evaluasi purna huni instalasi rawat inap bedah RSUD Curup

AZHAR, Tanzilul, Dr. Sugianto Adisaputro, Sp.S.,M.Kes.,Ph.D

2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Manaj. Rumah Sakit)-

Latar Belakang : Untuk mewujudkan visi Rumahsakit Umum Daerah (RSUD) Curup, yakni Menjadi pusat rujukan terbaik di kabupaten Rejang Lebong dengan pelayanan prima, maka RSUD Curup telah menyusun perencanaan strategis dengan beberapa sasaran yang ingin dicapai, antara lain: akan membangun sarana fisik yang lebih legkap dan representatif. Indikator efisiensi pelayanan di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Bedah RSUD Curup hingga tahun 2005 masih masuk kategori rendah, oleh sebab itu perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh, sebagai pertimbangan dalam upaya meningkatkan efisiensi pelayanan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas bagaimana perbandingan sarana fisik IRNA Bedah terhadap standar dan keselamatan normatif yang ditetapkan oleh Depkes RI. Serta bagaimana persepsi pengguna eksternal dan internal terhadap sarana fisik IRNA Bedah RSUD Curup. Metode : Pada penelitian ini metode yang dipakai adalah studi kasus, rancangan penelitian kasus tunggal, dengan holistik. Menggunakan alat ukur skala Liker untuk persepsi pengguna eksternal, wawancara dan Fokus Grup Diskusi (FGD) untuk pengguna internal, dan observasi langsung dengan panduan ceklist untuk sarana fisik. Analisis data dilakukan secara kualitatif. Hasil : Sebagian besar responden mempersepsikan kondisi fisik IRNA Bedah terutama ruang perawatan klas I dan klas II sudak baik. Sementara ruang perawatan klas III sebagian besar responden mempersepsikan masih kurang khususnya pada aspek pencahyaan, kebisingan, suhu ruangan dan tempat parkir. Pada pengukuran terhadap fiski IRNA Bedah dengan membandingkan terhadap standar yang ditetapkan oleh Depkes RI ditemukan kesenjangan negatif pada luas parkir, luas ruang klas III, pencahayaan, kebisingan, dan suhu dalam ruang perwatan klas III. Kesenjangan ini telah terjadi mekanisme adaptasi oleh pengguna. Pada internal telah terjadi ketidaksesuaian terutama pada prilaku pengunjung. Sedangkan pada pengguna eksternal terjadi ketidaksesuaian pada jumlah sarana mebeler kondisi sistem pencahayan dalam ruang perawatan. Kesimpulan : Meskipun sebagian besar responden mempunyai persepsi positif akan ruang perawatan klas I dan klas II, tapi pada pengukran dan observasi langsung masih ditemukan adanya kesenjangan terutama dijumlah pengunjung dan jarak dengan tempat parkir yang sangat dekat.

Backgrounds: In order to develop hospital vision as the best referral centre in Rejang Lebong district with excellent service, Curup district hospital has set up strategic planning with some objectives that want to be achieved, that are: build more complete and representative building. Indicator of service efficiency in surgery inpatient installation at Curup district hospital in 2005 was still at low category, that’s why comprehensive evaluation has to be conducted as a consideration for increasing service efficiency. Objectives: The study aimed to get clear description on the comparison between physical means in surgery inpatient installation toward standard and normative safety of Department of Health Indonesian Republic and the perception of external and internal user toward physical means in surgery inpatient installation. Methods: The study used case study with single case using holistic design. The tool of the study was likert scale that used to measure external user perception, interview and focus group discussion for internal user, and direct observation using checklist. Data were analyzed qualitatively. Results: Most of respondents declared that physical condition of surgery inpatient installation, especially first and second class is good, while third class was less, especially on lightness, noisy, room temperature, and parking place. The physical of surgery inpatient installation that measured by comparing standard of Department of health of Indonesian Republic found negative discrepancy on capacity of parking, room of third class, lightness, noisy, and temperature on third class. On the internal user, there is inappropriate on visitor’s behavior, while on external user there is inappropriate on number of furniture and condition of lightening system in care unit. Conclusions: Even though most respondents has positive perception regarding to first and second class but on measurement and direct observation, there is a discrepancy on number of visitor and distance of very closer parking place.

Kata Kunci : Manajemen Rumah Sakit,Instalasi Rawat Inap,Evaluasi Purna Huni, post occupation evaluation, surgery inpatient installation, Curup district hospital


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.