Design kemitraan Dinas Kesehatan-Rumah Sakit Daerah (RSD) dalam penanggulangan Tuberkulosis Paru dengan strategi DOTS di Kabupaten Bekasi
KUSTIAWAN, dr. Adi Utarini, M.Sc.,MPH.,Ph.D
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Manaj. Rumah Sakit)-Latar Belakang: Program penanggulangan TBC dengan strategi DOTS di Kabupaten Bekasi belum menjangkau Rumah Sakit Pemerintah, swasta dan unit pelayanan kesehatan lainnya, sehingga penatalaksanaan penderita dan sistem pencatatan pelaporan tidak seragam. Pengobatan yang tidak seragam dan tidak teratur dengan kombinasi obat yang tidak lengkap, diduga telah menimbulkan ancaman meluasnya kasus Tuberkulosis dengan kekebalan kuman ganda kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance. Untuk itu Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi perlu menyamakan Visi dan misi dalam hal penanggulangan TBC dalam bentuk kemitraan dengan RSD Kabupaten Bekasi. Tujuan: Mendeskripsikan masalah dan potensi yang ada dalam menggalang kemitraan dan merencanakan model kemitraan antara Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dan rumah sakit dalam implementasi DOTS. Metode: Jenis penelitian ini studi kasus deskriptif. Waktu pelaksanaan penelitian berlangsung selama 3 bulan bertempat di RSD Kabupaten Bekasi dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi. Subyek penelitian adalah petugas yang terlibat langsung dalam penanggulanagan TBC dan stakeholders dari dinas kesehatan maupun dari RSD. Data yang digunakan pada studi ini didapat dengan cara wawancara mendalam, dan pengkajian dokumen. Analisis dilakukan secara deskriptif. Hasil: Dari hasil identifikasi masalah dan potensi yang dalam menggalang kemitraan adalah kurangnya kuantitas pengelola program, tidak tersedianya dana operasional, kebijakan dan komitmen belum terbangun. Disisi lain terdapat peluang seperti kesediaan bermitra, komitmen pimpinan, dokter spesialis, kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit, dan ketersediaan logistik. Penelitian ini menghasilkan model kemitraan yang terdiri dari alur rujukan kasus, quality asurance laboratorium untuk pemeriksaan sputum, sistem pencatatan dan pelaporan, pelacakan kasus yang mangkir, pengadaan obat TB, penunjukan dan pembinaan PMO, pengadaan referensi dan media promosi, pelatihan DOTS, supervisi, monitoring dan evaluasi. Kesimpulan: Belum adanya kebijakan dan komitmen pimpinan dan pelaksana P2TBC merupakan masalah yang dihadapi dalam penerapan strategi DOTS di RSD Kabupaten Bekasi, namun demikian RSD dan Dinas Kabupaten Bekasi mempunyai sumber daya yang memadai. Terdapat kesepakatan mengenai bentuk kemitraan antara dinas kesehatan dan rumah sakit dalam penanggulangan TB paru dengan strategi DOTS
Background: In Bekasi District, DOTS strategy has been partially implemented at government hospital, private sector, and other health service units. It resulted to non standardized TB case management. Furthermore, the non standardized TB case management will lead to the threat of multi drug resistance TB epidemics Therefore, Bekasi district health office needs to build partnership with the district hospital. Objectives: The study identified problems and potentials to build partnership and to develop a partnership model with the hospital to implement DOTS strategy. Method: The study design was a descriptive case study. The study was carried out for 3 months at Bekasi district hospital and Bekasi District Health Office. The subjects were staff directly involved in TB program and stakeholders from district health office or health centre and district hospital. Data were collected from in-depth interviews and documents. The analysis was descriptive. Result: Several problems were identified, i.e. less quantity of program manager, no operational fund, and no policy and commitment. On the other hand, identified opportunities were willingness of partnership, leader commitment, availability of specialist doctors, people’s trust to the hospital, and logistic supply. The study produced partnership models for case referral, quality assurance of laboratory for sputum checking, reporting and recording system, case tracing, drug procurement, reference and assisting treatment observer, organizing reference and promotion media, DOTS training, supervision, monitoring, and evaluation. Conclusion: Lack of policy and low commitment of care providers of TB program was faced by Bekasi district hospital in implementing DOTS strategy, despite adequate human resources at Bekasi district hospital and health office. There was an agreement of partnership model between Bekasi district hospital and health service to stop TB by implementing DOTS strategy implementation
Kata Kunci : Program Penanggulangan TBC,Strategi DOTS,Kemitraan, Partnership, DOTS, case study