Medical Error dalam penatalaksanaan malaria di Rumah Sakit Umum Gunungsitoli Kabupaten Nias
HULU, Oktavianus, dr. Adi Utarini, M.Sc.,MPH.,Ph.D
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Manaj. Rumah Sakit)-Latar Belakang: Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Nias. Pada tahun 2006 malaria klinis masih menduduki peringkat 10 penyakit utama dengan kasus sebanyak 26.354 (15,88%) bila dibandingkan dengan kasus penyakit lain. Dari data medical record rumah sakit umum Gunungsitoli tahun 2006 kasus malaria sebanyak 1145 (9,49%) dari total kunjungan. Dalam penatalaksanaan malaria dijumpai adanya kesalahan medis (medical error). Menurut laporan Institut of Medicine, di AS diperkirakan 98.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat kesalahan medis. Laporan terbaru dibulan Juli 2006 yang merupakan lanjutan laporan tahun 1999 menyebutkan bahwa 1,5 juta orang menjadi korban kesalahan dalam pemberian obat setiap tahun di AS. Angka di Australia menunjukkan tingkat kematian 18.000 setiap tahunnya akibat medical error. Di Indonesia data secara pasti masih belum ada. Tujuan Penelitian: Untuk mengukur prevalensi diagnosis error, treatment error, error of ommission dan error of commission dalam penatalaksanaan malaria di rumah sakit umum Gunungsitoli. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional berupa survey dan data sekunder dari rekam medis. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan uji realibilitas melalui uji kesepakatan untuk mendapatkan nilai indeks Kappa dan menganalisa secara deskriptif dengan menggunakan proporsi. Hasil Penelitian: Prevalensi medical error dalam penanganan malaria di rumah sakit umum Gunungsitoli pada bulan Mei 2007 termasuk sangat tinggi dimana kesalahan medis yang ditemukan khusus yang berhubungan dengan penatalaksanaan malaria bila dihitung dengan proporsi mencapai 1,87 per-pasien yang terdiri atas diagnosis error sebanyak 80 orang (86,96%), treatment error sebanyak 92 orang (100%), eror of ommission sebanyak 35 orang (38,04%), error of commission sebanyak 149 orang (161,96%). Kesimpulan: Secara keseluruhan prevalensi medical error dalam penelitian ini sangat tinggi dengan pemahaman bahwa pada 1 orang pasien dapat terjadi beberapa errors, sehingga tidak ada pasien yang bebas dari error. Penyebab kejadian medical error masih belum adanya standar pelayanan medis yang dituangkan dalam standar prosedur operasional sehingga tidak ada acuan baku dalam penatalaksanaan malaria baik oleh tenaga mikroskopis maupun tenaga medis tetapi hanya didasarkan atas pengalaman.
Background: Malaria is a public health problem at District of Nias. In 2006 clinical malaria is the tenth major disease with as many as 26,354 cases (15.88%). Data of medical records of Gunungsitoli Hospital 2006 show there are 1,145 cases (9.49%) of total visits. There are medical errors in the treatment of malaria. According to the Institute of Medicine it is predicted that as many as 98,000 people in the United States of America die every year due to medical errors. The latest report in July 2006 which is the contribution of report 1999 indicates that 1.5 million people become victims of errors in drug prescription every year in the United States of America. In Australia there are 18,000 deaths every year due to medical errors. In Indonesia accurate data of medical errors are not yet available. Objective: The study aimed to assess the prevalence of diagnostic error, treatment error, error of omission and error of commission of malaria at Gunungsitoli Hospital. Method: This was a desrciptive study with cross sectional approach using survey and secondary data of medical records. Data were analyzed quantitatively using reliability test through conformity test to obtain value of Kappa index and sensitivity, specificity, positive predictive value and negative predictive value. Descriptive data analysis was made using proportion. Result: The prevalence of medical errors in the treatment of malaria at Gunungsitoli Hospital in May 2007 was relatively very high. Medical errors related to malaria in particular based on proportion calculation reached 1,87 patient only consisting of diagnosis error for 80 people (86.96%), treatment error of omission for 35 people (38.04%), and error of commission for 149 people (161.96%). Conclusion: Overall the prevalence of medical errors of the study was very high which meant that 1 patient could have some errors and no patient was free from errors. The cause of medical errors was unavailability of standardized medical service translated in standard operating procedure so that there was no standard reference in the treatment of malaria both for microscopic staff and medical staff. Treatment was mainly based on experience.
Kata Kunci : Penyakit Malaria,Penatalaksanaan,Medical Error, medical errors, treatment of malaria