Laporkan Masalah

Kajian pengelolaan hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja Kabupaten Manokwari Provinsi Irian Jaya Barat

BASNA, Natalsen, Prof.Dr. H. Totok Gunawan, MS

2007 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan (Manaj. Konservasi Sumberdaya Al

Tulisan ini mengungkapkan hasil penelitian tentang Kajian Pengelolaan Hutan Wisata Alam Gunung Meja Kabupaten Manokwari Provinsi Irian Jaya Barat merupakan kawasan konservasi yang berdampingan dengan kota, memiliki potensi sumberdaya alam dan keragaman hayati yang tinggi. Kawasan ini memiliki luas 460,25 ha dan memiliki keunggulan alami karena secara geografis mempunyai panorama alami dengan nilai keindahan yang sangat unik terletak sepanjang pantai Teluk Doreri serta dihiasi pulau Lemon dan Mansinam. Tujuannya adalah mengkaji potensi geofisik dan potensi biotik, intensitas kerusakan, sebabsebab kerusakan, dan dampak serta memberikan strategi pengendalian pengelolaan kedepan pada kawasan hutan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan cara observasi melalui teknik sistematik sampling dan sensus. Untuk mengetahui berbagai potensi geofisik dan biotik sumberdaya alam yang terkandung dan intensitas kerusakan, maka pengamatan dilakukan terhadap seluruh kawasan hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja, yaitu dengan membagi kawasan hutan menjadi 12 jalur dengan jarak antara jalur adalah 100 m. Pengamatan terhadap kerapatan vegetasi tumbuhan tingkat tinggi dan kemelimpahan jenis satwa burung adalah melalui pengambilan sampel, sebanyak 276 petak contoh pengamatan, dengan masing-masing petak contoh berukuran 2 x 2 m, 5 x 5 m, 10 x 10 m dan 20 x 20 m data vegetasi tumbuhan berkayu dianalisa dengan analisis vegetasi terdapat 101 jenis pohon, 89 tiang, 147 pancang dan 162 semai serta data non pohon dilakukan analisis deskriptif dengan metode pengenalan jenis terdapat 8 jenis pandan, 28 jenis semak dan perdu, 35 jenis paku-pakuan, 8 jenis bambu, 52 jenis herba, 11 jenis anggrek, 8 jenis palem, 3 jenis rotan dan 41 jenis liana serta terdapat 24 jenis burung, 7 jenis kadal, 3 Jenis katak, 9 jenis ular, 11 jenis mamalia (kus-kus) dan 12 jenis Kupu-kupu. Pengumpulan data potensi geofisik dilakukan pengamatan dengan teknik sensus dianalisis dendan deskriptif terdapat 19 Goa alam, 1 situs sejarah (Tugu Jepang), dan 44 mata air yang dimanfaatkan masyarakat. Pengumpulan data sebab-sebab kerusakan dan dampak kerusakan melalui responden biasa 10 % adalah sebanyak 35 KK dari 350 KK masyarakat sekitar yang nilai melakukan aktifitas tetap memanfaatkan kawasan hutan Gunung Meja dan responden kunci dilakukan secara purposive (key informan) kepada instansi terkait. Analisi data untuk antensitas kerusakan menggunakan tabulasi tabulasi. Hasil intensitas kerusakan hutan menunjukan bahwa dengan pemanfaatan oleh masyarakat yang tidak sesuai dengan fungsi esensial hutan Taman Wisata Alam Gunung Meja, sehingga terjadi perubahan fungsi, yaitu debit air menurun, potensi biotik menurun misalnya kerapan vegetasi dan kemelimpahan satwa burung menurun dan intensitas kerusakan lahan bertambah dari luasan total 460,25 menjadi 339,9 ha atau kehilangan 120,43 ha dengan intensitas 26,36%. Disamping itu berdasarkan hasil intensitas penggunaan lahan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat paling banyak mengunakan sistem zonansi tepi atau daerah pingiran kawasan hutan. Sedangkan pada daerah tengah lebih terkosentrasi pada kegiatan penebaggan dan pembuangan sampah masyarakat. Dengan potensi ini maka berpeluang untuk dikembangkan sebagai hutan konservasi.

The thesis presents the results of study on management of Gunung Meja Natural Tourism Forest of Manokwari Regency, Irian Jaya Barat Province. Gunung Meja Natural Tourism Forest is a conservation area which is situated close to town and enriched with abundant natural resources and vast biodiversities. Located along the coastal line of Doreri Bay as well as decorated with Lemon and Mansinam Islands, this region of 460.25 ha wide is blessed with scenic natural panorama and a unique natural beauty which makes this region exceptional. The thesis aims at examining geophysical and biotic potentials, intensity and causes of devastation, effects/impacts on or threats to the area and preventive strategies for the area. The research adopts qualitative descriptive method by conducting field observation through systematic sampling technique and census. In order to identify various kinds of geophysical and biotic potentials of the available natural resources and the intensity of devastation, a field observation is carried out on the entire area of Gunung Meja Natural Tourism Forest by dividing the forest area into 12 routes; each route is 100m away from each other. The observation on the high-level vegetation density and the diversity of bird’s species is conducted by taking samples. There are 276 plots selected for observation which are varying in size: 2x2 m, 5x5 m, 10x10 m, and 20x20 m. Data on plant vegetation, which consist of 101 tree species, 89 poles, 147 stakes, and 162 seedlings, are analyzed using vegetation analysis whereas data on non-tree vegetation, which consist of 8 species of pandanus, 28 species of bushes and clumps, 35 species of ferns, 8 species of bamboo, 52 species of herbs, 11 species of orchids, 8 species of palms, 3 species of rattan, 41 species of liana, 35 species of birds, 7 species of lizards, 3 species of frogs, 9 species of snakes, 11 species of mammals (Kus-kus) and 12 species of butterflies, are analyzed using descriptive analysis by adopting species identification method. Data on geophysical potential are collected through census technique of observation and are analyzed using descriptive method. The data consist of 19 natural caves, 1 history site (Tugu Jepang), and 44 springs that can be used by the community. A number of 35 KK (household head) out of 350 KK (10%) were taken as ordinary respondents for data collection. These respondents were nearby villagers who took benefit from cultivating Gunung Meja forest resources. Purposive samples of related institutions were taken as the key respondents for data collection (key informant). Analysis for Devastation Intensity was made by applying data tabulation system. The results of research show that Gunung Meja Natural Tourism Forest undergoes essential changes in its functions due to local villagers’ cultivation. Such changes can be observed through the decrease in water debit, biotic potentials (i.e. vegetation density and bird’s species diversity), as well as through the increasing rate of deforestation (from the former total forest area of 460.25 ha to currently 339.9 ha, or 120.43 ha area loss; devastation intensity is 26.36%). In addition, the intensity of forest cultivation by government, private, or community is concentrated in the forest periphery zone or forest boundary. On the other hand, logging and waste-disposal activities are concentrated in the forest middle zone. With all these potentials, the region has a good prospect of being developed as a conservation forest.

Kata Kunci : Ekosistem Hutan,Pengelolaan,Hutan Wisata Alam


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.